Tuk Klanduhan Tersayang

“sebuah renungan untuk diri sendiri, tamparlah wajahmu sendiri, Phie.. sebelum menampar wajah orang lain” Dear Klanduhan, Apa kabarmu saat ini? Maaf, belum lagi sempat ku menyambangimu. Menilik kembali masa kecilku. Bersamamu, bergumul setengah hari di antara gemericik aliranmu. Berlompatan di antara bebatuan sembari tertawa-tawa melihat teman-teman berkejaran. Membongkar bebatuan dan mengintip berapa banyak udang di

Klanduhan & Dilema Diaper (2)

Kisah sebelumnya… Diaper oh, diaper.. Hm, saya mendadak galau… Klanduhan, mengapa nasibmu seperti ini? Dulu dikeruk diambil pasirnya secara besar-besaran. Tempat kami mencuci tikar itu dulu bentuknya serupa empang sedalam hampir 2 meter atau bisa jadi lebih. Sekarang rata, hanya beberapa batuan besar menjadi hiasan. Tidak ada deras air menari-nari seperti dulu. Belum lagi hadiah

Klanduhan & Dilema Diaper (1)

Sabtu, 20 Agustus 2011 Setengah delapan pagi, Ning dan saya merapat di tebing kali Klanduhan. Seperangkul tikar kotor harus kami cuci. Ya, lebaran sebentar lagi, sudah menjadi kebiasaan kami untuk menggelar tikar di rumah menyambut tamu, sanak kerabat yang datang di hari yang sangat dinantikan itu. Tak seperti tahun-tahun sebelumnya, biasanya ibu turut serta. Namun,