Klanduhan & Dilema Diaper (2)

Kisah sebelumnya…

Diaper oh, diaper.. Hm, saya mendadak galau… Klanduhan, mengapa nasibmu seperti ini? Dulu dikeruk diambil pasirnya secara besar-besaran. Tempat kami mencuci tikar itu dulu bentuknya serupa empang sedalam hampir 2 meter atau bisa jadi lebih. Sekarang rata, hanya beberapa batuan besar menjadi hiasan. Tidak ada deras air menari-nari seperti dulu. Belum lagi hadiah sampah yang kami jumpai di sepanjang aliran Klanduhan. Bukan rahasia lagi dengan kebiasaan membuang sampah di sepanjang aliran sungai di Indonesia, Klanduhan pun tak terkecuali. Bila disusur lebih ke hulu, kami akan menjumpai sebuah jembatan tepat memisahkan 2 kampung, Candirejo dan Ngangkruk. Di bantaran kali sebelah timur, tepat di sebelah bendungan kecil, tampak sampah menggunung. Ironisnya di sana sudah ada tanda larangan, tapi tetap saja penduduk sekitar membuang sampahnya di tempat itu, masyaAllah.. sekarang ditambah dengan banyaknya sampah popok sekali pakai. Ckckck.. kalau sehari semalam saja seorang anak balita menghabiskan 10 buah popok (bercermin dari apa yang kami lihat dari fakta dalam kisah sebelumnya); mari coba hitung untuk sebulannya, 10 x 30 hari = 300 sampah popok. Kalau dalam 1 kampung saja rata-rata ada 20 balita dengan kebiasaan penggunaan popok yang sama, itu berarti dalam sebulan saja setidaknya ada 6.000 sampah popok dan setahunnya tinggal dikalikan 365 hari, total jendralnya 2.190.000 (baca: dua juta seratus sembilan puluh ribu) sampah popok!!!! 😯

diaperAstaghfirullaahal’adhiim.. Apa yang sedang terjadi? Apa ini semua terjadi akibat konsumen hanya melihat dari sisi kepraktisan? ‘Toh, suatu ketika sampah tersebut akan menyatu kembali dengan tanah..’ argumen semacam ini biasanya muncul di tengah masyarakat awam. Memang segala sesuatu akan kembali menjadi tanah, tapi apa iya kita mesti membiarkan mereka mencemari lingkungan? Dilihat dari bahan pembuatnya yang sebagian terdiri dari lapisan plastik, menurut banyak sumber terpercaya setidaknya perlu waktu 500 tahun hingga bahan tersebut terurai ke lingkungan!! (What??! :shock:) Lalu, apa iya selamanya kita ini bertahan menjadi kalangan awam? Seolah-olah kata awam itu menjadi dalih alias tameng bahwa orang awam dimaklumi bila melakukan kesalahan. Menurut saya, mana bisa begitu? Bukankah semestinya kita belajar dari kesalahan, lalu berusaha mengetahui mana yang benar?

Hmm, tapi dalam hal ini… Kita tentu tidak bisa hanya menyalahkan 1 atau 2 pihak. Konsumen semestinya cermat mempertimbangkan efek dari tiap hal, dalam hal ini efek pembelian popok sekali pakai terhadap lingkungan dan pengelolaan sampahnya. Bukan hanya termakan iklan. Kalau tidur anak anda harus nyenyak karena kualitas tidur berpengaruh langsung terhadap perkembangan otak mereka juga bla bla bla yang lainnya. Di sisi lain, menurut saya, perusahaan produsen juga punya andil. Semestinya ada langkah sosialisasi mengenai pengelolaan limbah. Bukankah setiap manusia, kita semua ini, juga bertanggung jawab atas kelestarian lingkungan sekitar? Itu berarti kewajiban produsen semestinya tidak terputus begitu saja ketika produk mereka rilis ke pasaran.

***

Saya yang penasaran terhadap fenomena ini (sejak ibu menemukan sampah popok menggunung dibuang di sudut kebun kami beberapa waktu sebelumnya) pun, mencoba menelusur. Apakah setiap perusahaan produsen popok/pembalut ini telah melakukan langkah corporate social responsibility (CSR) sebagai tindak lanjut?

Di tengah rasa penat me-layout artikel, saya pun me-refresh pikiran dengan menyambangi beberapa website perusahaan produsen pembalut dan diaper, yang di sini (KAO Corp, produsen Laurier) lalu juga yang ini (Unicharm, produsen Charm). Produk mereka tidak hanya dinikmati oleh golongan konglomerat, orang kota yang punya instalasi pembuangan dan/atau bisa membayar pengelolaan sampah yang dihasilkan saban harinya; tetapi juga terdistribusi ke wilayah pinggiran seperti tempat tinggal kami. Mestinya ada kolom khusus untuk topik yang satu ini, tetapi berkali saya utak-atik sana-sini, hmm.. sayangnya tidak ketemu! 🙁

Saya juga menyambangi sebuah blog milik pengelola kegiatan ramah lingkungan Desa Sukunan.. Permasalahan serupa juga mereka rasakan, harus bagaimana mengelolanya? Sementara itu, di toilet putri di kampus, saya menjumpai tempat sampah khusus pembuangan pembalut. Sebuah label nama perusahaan penyedia sarana sanitasi saya temukan. Calmic namanya. Yang ingin saya tahu, sebenarnya pengelolaan sampah seperti apa yang mereka terapkan? Bolak-balik saya klik tombol di website perusahaan tersebut, tetapi saya juga tidak menemukan apa yang saya cari. Saya menelusur lebih jauh. Kira-kira apa yang dirasakan dan langkah pengelolaan seperti apa yang dilakukan orang londo di luar negeri sana? Saya makin penasaran.

Sebuah tulisan Anima Mundi bertajuk ‘Trash Disposal and the Environment: Burn vs Bury’ saya temukan di sini. Mundi menyebutkan bahwa estimasi setiap tahunnya di AS, ada 16 milyar disposable diaper yang dibuang. Hal ini tentunya mencemari, tidak hanya tanah tetapi juga dapat menjadi masalah kesehatan masyarakat karena urine dan feces yang terdapat di dalamnya dapat terlindi ke dalam lapisan air tanah. Saya berkeliling dan pusing.. Namun, akhirnya saya menemukan titik pencerahan di sini, How to Dispose of Diapers & Feminine Hygiene Products. An Overview On Recycling Diapers, Tampons and Pads ditulis oleh Maryruth Belsey Priebe, meski belum bisa saya terima sepenuhnya.

Hmm, saya mulai bingung sendiri. Jalur yang saya tempuh ruwet dan mungkin sudah tidak terjangkau GPS. So, please saya galau… what should I do now? Any suggestion?

sumber gambar: http://health.howstuffworks.com/skin-care/information/health-factors/cloth-diapers-better.htm

Tag , , ,

7 thoughts on “Klanduhan & Dilema Diaper (2)

  1. sebelum saya baca post ini, saya juga berniat menulis ulasan ttg sampah
    hanya saja semua tdk terpikirkan scr detail seperti mba phie..
    semoga tdk hanya kita yg sadar lingkungan, tapi org2 yg bsa hidup dr lingkungan pun perlu disadarkan pula.. ^_^

    1. ayoo, Lea.. kita bahas dan ulas tentang hal kecil yang banyak sekali dampaknya bila tidak diperhatikan dengan cermat.
      yang jauh lebih penting selain kampanye adalah prakteknya. saya salut sama usaha Kang Lozzakbar. pengen sekali menirunya.

    1. masing-masing dari kita perlu untuk memberi perhatian terhadap lingkungan, bukan begitu, Puch?
      kalau lingkungan kita rusak, efek buruknya juga akan kembali kepada manusia, ya kita-kita ini 🙂

  2. saya juga lagi nyari atikel pengelolaan diapers bayi, tapi susah juga nemuinnya…punya sampah banyak nih,bingung mau diapain?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *