tim sembilan UGM untuk LG PEI-Bali 2007

Surya Wilis Bumi Dewata (I)

Menatap lembayung di langit Bali
dan kusadari betapa berharga kenanganmu
Di kala jiwaku tak terbatas
bebas berandai mengulang waktu

Hingga masih bisa kuraih dirimu
Sosok yang mengisi kehampaan kalbuku
Bilakah diriku berucap maaf
Masa yang tlah kuingkari
dan meninggalkanmu
Oh, Cinta

Teman yang terhanyut arus waktu
mekar mendewasa
Masih kusimpan suara tawa kita
Kembalilah sahabat lawasku
semarakkan keheningan lubuk

Hingga masih bisa kurangkul kalian
Sosok yang mengaliri jalan hidupku
Bilakah kita menangis bersama
tegar melawan tempaan
semangatmu itu
Oh, Jingga

Hingga masih bisa kujangkau cahaya
Senyum yang menyalakan hasrat diriku
Bilakah kuhentikan pasir waktu
tak terbendung dari khayal keajaiban ini
Oh, mimpi…

Andai ada satu cara
tuk kembali menatap agung suryamu
Lembayung Bali

Syair lagu Saras Dewi yang berjudul Lembayung Bali terlantun dari bibir saat kapal feri Rajawali Nusantara merapat di Pelabuhan Gilimanuk Rabu, 25 Juli 2007 pk 06.30 WITA. Bus Safari Dharma Raya yang kutumpangi bersama rombongan pun laju melintas di hadapan orang-orang yang riuh berfoto bersama di depan tulisan “SELAMAT DATANG DI KABUPATEN JEMBARANA.”

Bali, saya datang untuk kedua kalinya setelah enam tahun yang lalu.

Saya mengulang perjalanan ini bukan tanpa maksud. Satu amanah tersandang di bahu. Saya, satu di antara sembilan orang mahasiswa yang tergabung dalam tiga regu, menjadi wakil Linnean Game Perhimpunan Entomologi Indonesia untuk Jurusan Hama Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian UGM.

tim sembilan UGM untuk LG PEI-Bali 2007
tim sembilan UGM untuk LG PEI-Bali 2007

Rasanya begitu berat menggambarkan bagaimana beban itu menggantung. Wajar saja, tidak hanya satu, tapi dua hal sekaligus: Linnean Game dan presentasi makalah hasil penelitian. Tak pernah terbersit sekalipun, saya akan menemui event sebesar ini dalam hidup. Event bertaraf nasional… Ya Allah, mohon kuatkanlah langkah saya.

Saya mencoba menenangkan diri. Diam dan berdoa. Meski itu tak pernah menyembunyikan kegugupan diri. Menikmati pemandangan di sekitar bus kami melintas, tak pelak menjadi pilihan saat saya tak kuasa menahan debar-debar kencang menuju pertandingan. Di pangkuan saya masih terserak buku-buku yang sengaja saya bawa menemani perjalanan panjang ini.

***

Bali, sedikit berbeda dengan tanah kelahiran saya, Yogyakarta. Bisa saya rasakan betapa alam hijaunya membuat saya berdecak. Perjalanan ini seakan menyusuri lagi mimpi indah enam tahun silam, saat saya masih duduk di kelas 2 SMU; menemui kembali kenangan masa lalu.

Bercengkerama dengan bayang manis bumi 1000 pura, Bali. Tak banyak berubah. Masih hangat menyisakan sinar sang Surya. Masih permai dengan jalur hijau di antara hiruk pikuknya kota. Tabanan, masih khas dengan sistem sawah terasseringnya. Sanur, masih menjadi tempat nyaman ‘tuk menikmati sunrise. Dan, Kuta… masih menjadi tempat tak terlupakan ‘tuk menikmati sunset di Bumi Dewata.

sunrise di Pantai Sanur
sunrise di Pantai Sanur

Namun, ternyata kesempatan yang saya tunggu selama ini tak seperti dugaan semula. Jadwal kegiatan Kongres PEI VII dan seminar nasional yang dipusatkan di Sanur Paradise Plaza Hotel itu begitu padat. Bagaimana tidak, begitu rombongan tiba di Terminal Ubung pk 10.00 WITA, seorang mahasiswa Univ. Udayana angkatan 2004 telah menyambut. Gus, begitulah kami memanggilnya. Ia merelakan mobil Kijang hijaunya ditumpangi sembilan orang sekaligus barang bawaan. Berdesakan, tapi tak apalah.

Segera saja mobil melaju ke tempat pendaftaran ulang peserta. Masuk hotel dalam kondisi belum mandi, kepala berputar (baca: buslag), dan “bau naga”? Ssstt… jangan bilang siapa-siapa! 😀

Namun… Setelah beberapa saat kami menunggu di lobby hotel,

“Maaf, kita langsung ke penginapan dulu, Pondok Santhi. Tidak jauh kok dari sini. Kita jalan kaki saja. Daftar ulang nanti pk 13.00 WITA.” begitu Gus berujar.

Baguslah, jadi saya tak perlu mengantre bersama “bau naga” ini. Hmm… 😀

Memang tidak jauh, sekitar lima menit kami berjalan kaki tibalah di Pondok Santhi, sebuah penginapan kecil dua lantai nan asri. Kami menginap bersama tim mahasiswa dari Univ. Brawijaya dan Institut Pertanian Bogor.

Setibanya di kamar penginapan… Oh, rasanya ingin berbaring. Lepaslah kau, lelah dan penat dari tubuh! Itu yang saya ingin. Tapi, ternyata tak segampang itu… Kepala ini tetap saja terasa berputar. Berjalan pun nyaris terhuyung. Untunglah, saya masih bisa menghela nafas, mengikuti rangkaian agenda hari pertama di Bumi Dewata.

Upacara Pembukaan

Petang pun menjelang. Seusai daftar ulang, semua peserta berkumpul dan secara bertahap dijemput dengan bus dari hotel untuk menghadiri upacara pembukaan di Rumah Dinas Gubernur Bali. Jamuan makan malam dan pentas seni pun disuguhkan.

jamuan makan di rumah dinas Gubernur Bali
jamuan makan di Rumah Dinas Gubernur Bali

Sungguh, moment ini membuat saya terkenang pada masa-masa lalu di sanggar tari. Empat buah tarian digelar untuk menghibur seluruh peserta. Tari Sekar Jagad, Tari Baris, Tari Kebyar Trempong, dan Tari Oleg Tamulilingan dibawakan dengan lemah gemulai. Indah, sungguh indah! Begitu berkesan, apalagi saat seluruh peserta mahasiswa didaulat naik ke panggung untuk berfoto bersama para penari. Cheese!

foto kontingen mahasiswa
foto kontingen mahasiswa

Akhirnya, acara pun berakhir pk 21.00 WITA. Sisa-sisa keceriaan masih tergurat jelas di wajah kami. Rasanya tak rela meninggalkan tempat itu, tapi kami harus pulang. Mengistirahatkan badan agar lebih fresh esok.

***

(bersambung..)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *