Satu jiwaku hendak mengembang
di suatu pagi
Kupikir adalah ramahmu yang tersungging
dari percik semangat
dari bara merekah
di mula hari
Kupikir adalah merah senyumanmu
bergelora menyapa kaki dan lereng sentosa
Kupikir adalah hijau damaimu
bertebaran di sepanjang jalan menuju
mata airmu
Namun,
mengapakah yang sisa kini hanya kelabu?
Berhambur kala fajar belum hendak menyingsing
Bertabur aroma solfatara, membungkus dini hari sepi
Sontak
kelabumu mengusir segerombolan manusia
pergi menuruni lereng dan kaki
yang awalnya bisu
Kudengar riuh deru kendaraan berduyun
pergi membawa doa serta kecemasan
juga tanya,
“..adakah ini wujud amarah Sang Penciptamu?”
##
Lalu sepekan kemudian berlalu
membawa waktu tergulir menuju dini hari baru
Ya, kuingat benar
Hari kelima bulan kesebelas
Setelah tiga hari kudengar gemuruh gulana yang berselimut awan-awan pekat
tertinggal kelabu
Bukan lagi lembutnya debu, ataupun abu
Bukan lagi hari cerah yang masih bisa berbinar
Namun hari yang menyisakan
degup memuncak,
aliran adrenalin menghimpit kedua belah paru
seakan menuntunku untuk berlari turuti perintah raungan sirine
“PERGI.. PERGI.. Yang jauh hingga 30 km menjauh dari Merapi!”
kata mereka
Rabb, ada apa ini?
Teriakan mereka masih menggaung memenuhi awang-awang
saat seketika langit gulita.
“Ini kerikil.. Ini kerikil..!!”
Astaghfirullahal’aadziim..!!
Mengapakah Merapi menumpahkan juga kerikil?
memadamkan pula lentera rumah?
Lalu bagaimana caranya kuloloskan nyawa diri dan kedua perempuan yang kukasihi ini?
Kusabarkan hati,
semoga Rabb masih memberi kami sempat
meski dengan sisa sengal nafas dan tenggorokan tercekat
Berlalulah..
berduyunlah langkah kami menembus pekat gulita dini hari
Dipaculah kuda besi kami perlahan di tengah gerimis
yang kian meradang
meleburkan kerikil, abu, dan debu menjadi lumpur
juga bau sangit seolah terbakar
oleh panasnya dapur Merapi
Sunyinya waktu pun berganti
hiruk pikuk manusia
Jalan Kaliurang
searah, penuh, menyemut
Allaahu Akbar!!
Lindungi kami, selamatkan kami dari marabahaya
dari percik gulana Merapi
yang membaurkan segala warna ceria
menjadi satu,
sama rata, sama rasa
Kelabu
-Bulaksumur, 7 Desember 2010-
membaca ini, jadi teringat lagi saat2 mencekam tgl 5 bulan 11 tahun 2010. tengah malam buta tanpa lentera, diminta secara paksa meninggalkan tempat hunian. Akhirnya ke kampus, ketakutan, capek, bingung,akhirnya pulkam, setelah memastikan hal itu boleh dilakukan.
lama tak berkunjung ke sini,
apa kabar mbak Phie??
Alhamdulillaah sae, Puji gimana kabarnya?
maaf juga lama ndak blogwalking, belum sempat.. 😀
mba phie piye kabare? akhirnya posting tulisan… ^^ btw, kmrn rmhx masuk zona brbahaya ta mba?
Alhamdulillaah, kabar baik Ayya.. 🙂
Iya, lama ndak bisa posting.
Waktu itu, ngungsi 2 minggu ke Jogja nol km di tempat saudara. Hmm, tidak terlupakan pokokke..
Mbaaa…aku suka banget kata2 di postingan ini..
Terima kasih, Mbaak Melly 🙂
Sebuah kenangan yang tidak akan terlupakan sepanjang hayat.