Oleh-oleh 8 Windu Fakultas Pertanian

Lelaki dan Perempuan Senja yang Membuka Masa Depan

Persembahan bagi pribadi yang tak lekang oleh peradaban

Matahari berjingkat di atas cakrawala, menebar jarum-jarum cahaya sesaat pagi terbuka. Tertegun aku memandang lelaki dan perempuan senja usia menapak musim, menyusuri gersang padang lalang. Wahai, kulihat senyum tetap terkembang tak lekang digerus zaman.

Aku kenangkan saat-saat engkau membuka pintu masa depan. Dengan jiwa yang teduh engkau katakan: inilah duniamu, telah kubuka untukmu, masuklah dengan sepenuh doaku. Maafkan aku, ketika aku membantahmu karena tak cukup paham. Namun, kini aku mengerti, belukar itu telah kau buka. Arus yang deras itu telah kau taklukkan, dengan tangan yang meski tak sepenuhnya perkasa, namun tak pernah putus asa.

Aku kenangkan saat-saat jiwa tualangku mengalirkan air mata. Bukan karena kecewa, namun betapa engkau cinta. Karena tak ingin aku kehilangan arah. Berjalan ke arah mata angin yang tak seharusnya kurambah. Aku kenangkan ketika dengan mata berbinar kau lepas aku menuju cakrawala. Masih sayup aku mendengar doamu di punggung angin, mengalir sepanjang perjalanan. Semakin kuat aku meretas jalan baru karenanya.

Matahari semakin tinggi, musim kian sunyi. Namun, kau masih berjalan sepanjang padang lalang, yang tak lagi bermata air. Ingin rasanya aku buka langit, agar curahkan sekedar rinai gerimis untuk membasuh wajahmu yang kian senja. Ingin rasanya aku cerabut rimba, sehingga aku bisa tanam pohon ketapang, sekedar agar engkau bisa berteduh dari gersang zaman.

Maafkan aku, karena tak bisa sediakan hujan, atau pohon ketapang. Karena, dengan jiwamu yang tetap teduh engkau katakan: inilah duniamu, telah kubuka untukmu, nikmatilah dengan sepenuh restuku, biarkan kami terus berjalan, menuju ujung kakilangit yang benderang.

Aku ingin menangis karena tak bisa berbagi dunia dengan lelaki dan perempuan senja. Lelaki dan perempuan senja yang telah membuka cakrawala sehingga aku bisa merdeka.

Aku ingin menangis karena tak bisa sediakan hujan dan pohon ketapang. Sekedar untuk membasuh wajahmu yang kian senja, dan berteduh dari matahari yang kian renta. Aku hanya bisa tertegun, memandang engkau terus berjalan. Mudah-mudahan Allah Yang Rahman menumbuhkan ketapang paling rindang, dan gerimis paling menyejukkan, agar engkau bisa nikmati senja yang tenteram.

Ya Allah, ya Salaam, sediakan bagi mereka lelaki dan perempuan senja, yang telah membukakan masa depan, rahmat tak berkesudahan.

Yogyakarta, kampus penuh kerindangan, 23 September 2010

-Inilah oleh-oleh 8 windu FPN. Untuk kali kedua aku mendapat kehormatan membacakan puisi karya dekan FPN, Prof. Ir. Triwibowo Yuwono, Ph.D. Hmm, senangnya :D-

Baca juga: Guru & Sesepuh in Memorium (behind the scene)

2 thoughts on “Oleh-oleh 8 Windu Fakultas Pertanian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *