Ufuk timur memerah
Kulihat sahabatku Mentari menggeliat perlahan
Menyapaku ramah
“Selamat pagi, Pelangi!”
Tentu, dengan riang akan kusapa kembali ia
“Hai, selamat pagi Mentari..!!”
Begitulah pagi di sepanjang hidupku
Bila ia tiada muncul
Hariku akan bermuram sungguh
Pelangi, itulah namaku
Seekor lebah madu
Kuhabiskan waktu di kebun hijau milik Pak Danu
Rindangnya pohon kapuk randu menjadi peneduh sarangku
Dan kali ini..
biar kubagi kisahku padamu,
Kisah Pelangi
Lebah mungil yang hidup dalam sebuah koloni
bernama Istana Mini
Akulah Pelangi si lebah pemandu
Tahukah engkau lebah pemandu?
Setiap hari tugasku memandu
teman-teman lebah pekerja
agar mereka menemukan nektar
bagi koloni di Istana Mini-ku
Setelah Mentari mencapai sepenggalah naiknya
aku akan pergi meninggalkan sarang
dan inilah aku, Pelangi si lebah pemandu
pergi menjalankan titah
dari Sang Ratu
Satu ingin agar hadirku menjadi manfaat
untuk mereka yang ada di Istana Mini juga Pak Danu
Maka izinkan aku bekerja, Tuhan
sepanjang usiaku
Biarkan aku terbang
melayang jauh… tinggi
menggapai awan
menempuh jauh perjalanan bersama semilir angin
sembari bersenandung kecil
Sesekali terbersit dalam angan
Ketika jauh kutempuh jalan
adakah aku bisa pulang ke sarang?
Oh, sungguh sebuah anugerah Tuhan
Kumiliki sahabat sebaik Mentari
Meski tiap menitnya ia bergeser empat derajat
berganti posisi
sungguhlah ia membantuku tuk temukan
jalan pulang ke Istana Mini
setiap hari
Ketika t’lah kutemukan hamparan bunga-bunga
aku akan bersiul kegirangan
Mengecap sedikit nektarnya
lalu menimbang sekiranya pantas
tuk kukabarkan kepada teman-teman lebah pekerja
Sekiranya layak, aku akan pulang
membawa sebuah kabar baik untuk mereka
Lewat gemulai tarianku
di tengah kerumunan koloni Istana Mini
teman-teman akan tahu
ke mana sayap kecil mereka mesti tertuju
Demikianlah waktuku bergulir begitu syahdu
Dan kau tahu?
Itulah yang membuatku bahagia
menjadi Pelangi si lebah madu
Karang, 19 September 2010
-ditulis untuk Majalah SERANGGA edisi perdana November 2010–
manis sekali syairnya
terima kasih