Start From a Big Zero

nol besar
-Inilah Phie yang memulai segalanya dari NOL BESAR-

Awal Agustus 2003, pukul 08.00
Hari heregistrasi semester 3 telah tiba. Aku sedang bersiap, menyelesaikan sarapan pagi ketika sebuah ketukan terdengar dari pintu depan.

Tok..Tok..Tok..

“Assalamu’alaikum..!”

Ibuku menemui tamu itu.

“Eh, Mbak Mu’.. Wonten napa nggih?” tanya ibu kepada tamu yang ternyata Mbak Siti Mu’awanah.

“Dik Jatu wonten, Bu?”

Suara itu sungguh tiada asing bagi indera pendengaranku. Mbak Mu’, seorang tetanggaku yang kukenal dekat semenjak pindah ke Jogja untuk kuliah. Beliau adalah keponakan guru mengajiku di Masjid At Tauwabin, Ibu Khotijah. Mbak Mu’ asli Tuban, tetapi selama kuliah hingga akhirnya bekerja, beliau menumpang tinggal di rumah Bu Tijah.


Catatan:
Entah, apa kejadian pagi itu boleh kuibaratkan pucuk dicinta ulam tiba? (Hm, memangnya?) Ok, biar kulanjutkan. Kedatangan Mbak Mu’ tentu bukan tanpa alasan. Rupanya kedekatan kami di kegiatan masjid selama beberapa bulan sebelumnyalah penyebabnya. Hehe, tak perlu berpikir meng-kambinghitam-kan kegiatan di masjid ah! Beliau datang untuk sebuah tawaran kerja. Ah? Untuk mahasiswa tingkat 2 sepertiku? Iya, tawaran kerja menjadi tutor privat mengaji di LPI Paramitra Mulia tempat Mbak Mu’ bekerja. Kala itu kantor pusatnya di Jl Kaliurang km 10 (sebelah selatan Pasar Gentan), sementara kantor cabangnya yang sekaligus menjadi kantor Mbak Mu’ berlokasi di Jl Raya Besi-Jangkang (sebelah timur lapangan Klidon).

Selesai kutelan makanan dalam mulut dan minum seteguk, kuhampiri beliau di teras.

“Wonten napa e Mbak? Kok enjing-enjing pun mriki? Tumben..” sapaku sembari tertawa kecil.

“Iki lho Dik, maaf ya ngganggu. Nggonku ki tutor putri ne dha medhot siji-siji. Alasan klasik, nikah dan mengikuti suami..”

“Oooh..” bibirku membulat. “Lha terus, kersane, Mbak?”

“Dik Jatu dadi tutor ngaji ya neng Paramitra? Ngajar iqro.. Kebetulan ana bocah kelas 3 SD, Arif jenenge nyuwun privat iqro..”

“Hmmm…” aku berdehem panjang sambil manggut-manggut.

Mengajar ngaji iqro? Mengaji bukan barang baru bagi seorang Phie, tapi menjadi tutor privat ngaji? Hmm.. antara iya dan hmm.. aku ragu sesaat.

“Tidak ada yang keliru dengan mencari pengalaman kan Phie?” tanyaku pada diri sendiri.

Setelah mendengar wejangan sebelah hatiku si penasihat bijak dan menimbang secukupnya, kuputuskan untuk menerima tawaran itu dengan sebuah niat, Bismillaah..
***

Dua minggu kemudian. Pertengahan Agustus 2003
Di suatu sore, datang ke rumahku 2 orang tetangga, Mbak Sri Ambarwati dan Mbak Sulis. Dari undangan yang disodorkan beliau berdua mengundangku dan beberapa teman kampung yang kala itu masih berstatus mahasiswa PTN untuk datang ke kantor. Dua hari kemudian, kami berkumpul di sebuah bangunan kantor DGG Training, Jl Kaliurang km 12. Singkat ceritanya kami direkrut menjadi tutor @lce. @lce? Ya, singkatan dari @(dibaca A)vicena Learning Center. Kala itu aku merasa tak cukup pede mengambil mata pelajaran (mapel) SMP, makanya cukuplah menerima yang SD dulu, hehe 🙂 Keputusanku bukan tanpa alasan. Sekali terjun sebagai tutor, sebisa mungkin tetap berusaha profesional. Segurem apa pun lembaga bimbel tempatku bernaung, itu bukan masalah bagiku. Yang penting, pengalamannya! Bukankah orang bijak selalu sepakat bahwa pengalaman adalah guru terbaik? Ya, experience is the best teacher..

So? Terhitung bulan Agustus 2003, aku tercatat sebagai tutor di dua lembaga pendidikan sekaligus dengan honornya yang… Alhamdulillaah..tidaklah seberapa, tapi dibuat cukuplah :D. Aku benar-benar belajar dari NOL! Tak punya dasar ilmu kependidikan apalagi psikologi anak tak membuat langkahku surut. Mana bisa tahu rasanya bila belum dicoba? Hmm, susah susah gampang! Walau bagaimana aku harus benar-benar belajar bisa profesional sebagai tutor. Could I..?
***

Kutempuh perjalanan mengajar bersama Ezy, motor bebekku. Sesekali mengajaknya berbincang dalam perjalanan menuju ke atau pulang dari rumah siswa jadi kebiasaanku. Olala, semoga orang tak menganggapku aneh apalagi gila 😛 Demikianlah waktu berlalu. Aku bertahan. Hanya setengah tahun di Paramitra Mulia dan 2,5 tahun di @lce. Bertahan untuk bersabar, bertahan menikmati honor tak seberapa yang jauh dari anggapan orang-orang. Kalau mereka pikir kesenanganku berpangkal pada honor besar…Keliru! Ya, namanya juga terikat dengan lembaga pastilah ada bagi hasil. Contoh kasusnya begini, untuk sekali pertemuan privat mata pelajaran Matematika kelas 5 SD misalnya, aku mendapat Rp 8000,00 kala itu. Paling tidak untuk sebulan, hitungan kasarnya 4 minggu dengan 2 kali pertemuan per minggu, sehingga total pertemuan paling tidak 8 x Rp 8000,00 = Rp 64.000,00 per siswa. Itu belum termasuk bila karena suatu hal jadwal les terpaksa dibatalkan (siswa ada acara, sakit, dan lain-lain). Sebagai konsekuensinya, honor yang kuterima tentu kurang dari jumlah tersebut. Namun demikian, kusabarkan hati hingga 2,5 tahun terikat pada lembaga karena mempertahankan motivasi mencari pengalaman kerja sembari kuliah sekaligus mendapat tambahan uang saku. Lelah dan rasa kantuk menjadi teman selama 2,5 tahun itu. Maklumlah jadwal les bakdal Maghrib, sementara kesibukan di kampus tak hanya kuliah dan praktikum, tetapi juga agenda-agenda organisasi mahasiswa jurusan. Pfiuh..!! Meski demikian, hal itu tak pernah jadi soal karena aku melakoninya dengan hati senang. Efeknya? Alhamdulillaah, aku mulai mendapat kenaikan honor bertahap seiring dengan meningkatnya jenjang kelas siswa yang kubimbing. Dari Rp 8000,00 sampai menjadi Rp 11.000,00. Besaran honor inilah yang terakhir kuterima setelah 2,5 tahun bekerja di @lce.
***

Pertengahan tahun 2005
Kuputuskan untuk lepas dari ikatan kerja di @lce. Maklum, LBB kecil dengan SDM administrasi dan pengelolaan terbatas. Ditinggal menikah oleh Mbak Ambar (pengelola), @lce akhirnya timpang. Staf administrasi yang telah diterima menjadi guru honorer SD (Mbak Sulis) pun menyerahkan bimbingan siswa langsung kepadaku. Mulai saat itu, aku resmi menjadi tutor lepas hingga saat ini. Ingin sebenarnya kukelola sebuah sanggar belajar di rumah, melengkapinya dengan sebuah perpustakaan kecil sehingga anak-anak sekitar rumah bisa membaca dan belajar bersama. Hmm, impianku.. kuingin benar suatu ketika semua itu bisa terwujud. Aamiin ya Rabb..
***

Ya, waktu bergulir. Tiada terasa tahun ini (2010) hampir 7,5 tahun kujalani lakon hidupku sebagai tutor privat, Entahlah, meski kesibukanku bertumpuk di kampus, aku enggan meninggalkan duniaku. Lakon kebetulan, tanpa sengaja ini lambat laun membuatku betah dan jatuh hati. Pantaslah bila leluhurku mengatakan, “Witing tresna jalaran saka kulina” Hmm.. Bisa jadi karena siswa-siswiku, mereka satu dari sekian hal yang membuatku bertahan. Mereka yang membuatku belajar banyak, tentang ilmu yang bermanfaat, tentang kesabaran, tentang indahnya berbagi dan berbicara dari hati ke hati. Mereka polos, lugu, jujur, dan apa adanya. Betah berada dekat dengan mereka. Bahkan sering sekali mereka curhat..serasa memiliki banyak sekali momongan 🙂 Hmm, semoga suatu hari nanti aku diberikan kesempatan untuk membaginya di sini. Tentang mereka, tentang Lilin-lilin Kecilku yang begitu berwarna dan istimewa. Aamiin..

-diselesaikan di Bulaksumur, Desember 2010-

9 thoughts on “Start From a Big Zero

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *