Siang selalu terasa panas di dalam ruang kerja redaksi Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia (JPTI). Jadi, ada kalanya aku punya alasan keluar-masuk tak tentu arah; seperti yang kulakukan di suatu siang di akhir bulan September 2010. Hm, sebuah telepon dari seberang gedung tempatku berdiam telah membujuk langkahku pergi, mengunci pintu ruang redaksi, dan bergegas menuju gedung A2 lantai 3. Siapa gerangan yang meneleponku itu? Tak lain dan tak bukan.. Pak Tyo, kepala laboratorium Entomologi Dasar. Ada apa ya? Hm, beliau hanya mengatakan agar aku segera menghadap ke ruangan beliau. Setengah berlari kususuri lorong gedung A1 lantai 3 lalu bergegas turun, berjalan ke gedung A2, kemudian naik lagi melalui tangga darurat menuju kantai 3. Hosh.. hosh.. hosh.. Peluhku bercucuran. Hmm, beginilah siang ceria di Yogyakarta, berbalur keringat..sudah pasti!
Begitu sampai di lab,
“Aaahh..!! Ini dia!” seru dua orang dosen hampir serentak.
Pak Tyo dan Pak Edmart rupanya.
ANEH. Aku merasa aneh sekali siang itu…
“Oh..please, jangan memposisikan saya begitu istimewa, Pak..” batinku. Hehe, kadang aku malu diperlakukan seperti itu 😳
“Ada apa Bapak memanggil saya?” tanyaku sembari mengatur nafas.
“Sik.. sik.. Iki lho Ndhuk!” Pak Tyo menjawab pertanyaanku, tapi mengapa beliau meninggalkanku kembali ke ruangan?
Hmm, ternyata.. Beliau kembali dengan sebuah bendel kertas yang dijilid.
“Apa itu?” tanyaku dalam hati.
“Nih..!” Pak Tyo mengangsurkannya ke arahku.
“Oooohhh…” Bibirku membulat.
Kuraih sebendel kumpulan puisi dari seorang pioneer Entomologi Indonesia. Beliau menulis puisi dengan tema serangga membukukannya di usia yang telah sepuluh windu? What an amazing idea..! 
So? Ya, kesimpulannya ada tugas untukku lagi. Tiga hari setelah siang terik itu akan ada pembukaan acara seminar PEI di Auditorium Harjono Danoesastro. Nah, Pak Tyo memintaku menjadi salah satu pengisi acaranya, ya itu tadi membacakan sebuah puisi karya sesepuh PEI.
“Hmm, gimana ya? Tantangan lagi nih..,” kataku dalam hati. Tanganku masih sibuk membolak-balik lembar demi lembar kertas berisi puisi.. saat.. Eits, sebuah puisi berbau “konyol” kutemukan. Sepertinya menarik, tapi..
“Pak, kalau yang ini bagaimana?” tanyaku pada Pak Tyo dan Pak Edmart.
“Boleh..!” kata Pak Edmart.
“Baguus itu..!” timpal Pak Tyo.
“Ayo, Jupi.. nanti aku bagian make up-nya!” tambah Mbak Vira tak kalah semangat.
“Hehehehe… :mrgreen:” Aku hanya bisa menanggapinya dengan tawa panjang.
Mau tahu seperti apa puisinya?
CERITA LALAT DAN PRESIDEN
Suatu saat di Gedung Putih Washington
suatu ketika di Istana Negara Jakarta
seekor lalat datang bertandang
iseng tanpa salam tanpa juntrung
Obama duduk bersilang kaki di kursi
diwawancara jurnalis terkemuka
SBY berdiri tegap di belakang meja mimbar
siap bicara di depan pewarta.
Lalat terbang berputar-putar
mendarat tepat di dada Obama
pindah ke pangkuannya
tangan presiden cepat menepak
tepat mengenai sasaran
lalat jatuh mati tak berdaya
menjadi bidikan lensa pewarta
presiden tersenyum kemenangan
gambarnya pun tersiar seantero dunia.
Lalat lain terbang berputar-putar
mengelilingi kepala SBY
meski tangan mengayun ke kiri-kanan kepala
lalat bergeming tak mundur
ajudan tangkas meraih kaleng erosol
diarahkan ke samping tubuh presiden
dipencet dan menyemburlah di udara
partikel renik insektisida pembunuh
lalat terhalau terbirit terbang menghilang
Presiden tersenyum dan langsung angkat bicara
kamera tv merekamnya dan
peristiwa tersiar ke seluruh nusantara.
Di dua istana berbeda
cara mengusir lalat pun berbeda
lain ladang lain belalang
-Bogor, Juli 2009-

*) Catatan: Coba tebak bagaimana rupa Phie saat membawakannya! 😀 
Clue: Phie’s in the photograph, among the people.. find me!
Hehehe si mpok mah jadi nini-nini
puisine apik, lucu tur top dah, karyane sopo je mpok?
Cerdas….!
mbak pi yang di tengah ntu kan? hehe
Ha…ha…. sampai sekarang aku lupa je, penulisnya siapa ya? Lha bendelnya di mana sekarangpun aku tak tahu…. Wah sayang kalau sampai hilang bendel itu…
bagaimana klo ditafsirkan juga puisi itu menceritakan si lalat dan pak SBY ? 😀