-terinspirasi oleh setiap anak yang telah dan/atau sedang saya asuh-
Seorang anak berusia sekitar 5 atau 6 tahun menghampiri saya. Tangan kanannya memegang kecrekan sementara yang lain memegang kain lap. Pakaiannya lusuh. Aah, pemandangan semacam ini sempat saya tuliskan sebelumnya di sini. Saya memang terheran-heran kala itu, bahkan sampai detik ini. Mengapa ibu atau orang tua si anak rela membiarkan anaknya turun ke jalan? Pertanyaan yang sampai hari ini masih menjadi PR bersama. Ketimpangan sosial yang kian marak dan menjamur di hampir tiap sudut negeri inilah yang memaksa mereka. Itu satu dari sekian alasan.
Melihat mereka, anak-anak jalanan, membuat saya trenyuh. Hati manusia normal tentu mampu berempati kepada sesamanya, apa lagi dengan kondisi demikian. Namun, pernahkah kita ingat bahwa masyarakat telah dihimbau oleh pemerintah untuk peduli dengan cara tepat dan cermat. Karena keliru menempatkan kepedulian, akan fatal akibatnya. Sudah bukan rahasia lagi bahwa pengemis pun kini beroperasi secara terorganisir. Pagi-pagi sekali di-drop di masing-masing tempat mangkal, lalu malamnya diangkut pulang. Mengemis dijadikan profesi? Hmm, lelucon macam apa lagi ini? Jangan tanya, ini Indonesia.. tiap jenis lelucon ada di sini. Saya bahkan pernah mendengar sebuah cerita tentang seorang pengemis berjaya di sebuah kota besar lalu membawa kawan-kawannya dari desa. Si bos pengemis itu punya rumah dan mobil mewah di kampungnya. Alhasil, tetangganya terpikat. Mereka pun berbondong mengikuti jejak si bos. Masya Allah.. *gelengkepala.com. Singkat kata, kini batasan antara mereka yang benar-benar membutuhkan uluran tangan dengan yang bertopeng “keprofesionalan” pekerjaan, sangatlah TIPIS.
Lalu, apa hubungannya dengan kupasan kita kali ini, tentang mengajarkan anak-anak/adik-adik kita berempati dan berbagi? Pemandangan di perempatan Selokan Mataram saban harinya mengajari saya bagaimana berempati. Saya tidak pernah lagi memberikan uang kepada pengemis anak-anak. Ini menjawab apa yang telah disampaikan seorang teman blogger yang kala itu berkomentar (yang intinya),
“..saya sih masih bisa maklum kalau yang meminta anak-anak, Mbak.”
Begitu ya? Mohon maaf sebelumnya, bagi saya, TIDAK sama sekali dan TIDAK dapat diganggu gugat! Kedengarannya strict, tapi itulah yang saya lakukan. Saya tidak ingin “menjerumuskan” mereka (baca: anak-anak) dalam lingkaran hitam jalanan macam itu. Mengapa bisa begitu?

Anak-anak adalah peniru yang baik seperti yang telah diungkapkan oleh Irfan Toni Herlambang dalam bukunya Kekuatan Cinta. Untuk tumbuh dan berkembang menjadi manusia sejatinya, mereka butuh teladan yang baik. Siapa lagi yang akan mereka tiru alias menjadi role model (baca: panutan) selain orang tua dan orang dewasa di sekitar mereka tumbuh? Alangkah menyedihkannya jika kelak anak-anak manis yang seharusnya tumbuh mendewasa sebagai calon pemimpin bangsa, malah belajar dari lingkungan yang keras seperti jalanan.
Atau, pernahkah kita berpikir jauh ke sana, ke sebuah masa saat anak-anak yang kini berusia 5 tahun itu beranjak dewasa? Kalau sejak usia dini bahkan bayi saja mereka sudah dibiasakan mengemis oleh orang tuanya, sementara dengan mudah kita memberi mereka uang.. dikhawatirkan kelak mereka akan menjadi generasi tidak produktif. Bagaimana hendak produktif bila tumbuh menjadi manusia dan hidup dari menggantungkan diri pada belas kasihan orang lain, dari mengemis? Selama masih ada yang memberi mereka uang, saya pikir siklus ini akan tetap terus berputar. Ingat bukankah lebih baik memberi kail dan umpan daripada memberi ikan?
So, upaya seperti apa yang bisa kita lakukan untuk membiasakan anak-anak mudah berempati dan gemar berbagi? Menurut saya, beberapa langkah sederhana ini bisa mulai kita ajarkan, sekarang.
- Sedekah termurah dan termudah adalah senyuman, begitulah sabda Rasulullah Saw. Mari memulai berbagi dari yang mudah untuk si kecil, ajari mereka untuk murah senyum. Beri senyuman terbaik dan bersemangatlah!
- Terapkan prinsip homo homini socious. Ingatkan bahwa manusia meliliki 2 sisi kehidupan. Keduanya mesti dilibatkan secara seimbang. Libatkan mereka sedini mungkin dalam aktivitas kelompok dan biarkan saling mengenal satu sama lain.
- Ajak mereka melihat ke luar “jendela” rumah sesekali. Ke sawah, ke pasar misalnya, biarkan mereka tahu bahwa di luar sana banyak orang yang bekerja dan saling tergantung satu sama lain.
- Ajari mereka cara berderma yang cermat. Saat ini banyak lembaga penyalur dana yang dapat dipercaya. Rumah Yatim Ar Rohman, Dompet Dhuafa, Rumah Zakat, PKPU (saya dengar PKPU juga menerima bantuan buku untuk tambahan koleksi perpustakaan keliling). Atau ajak mereka mengunjungi panti asuhan, sekolah luar biasa dan tunjukkan bahwa apa yang telah mereka nikmati saat ini patut disyukuri. Biarkan mereka tahu ada banyak saudara mereka yang berada dalam kondisi memprihatinkan dan butuh uluran tangan.
- Perlihatkan mereka anjuran pemerintah tentang Peduli Bukan Berarti Memberi. Papan anjuran ini biasanya terdapat di sudut-sudut traffic light.
- Last but not the least, mari sama-sama perhatikan ini: anak-anak TIDAK akan menghiraukan kalimat perintah orang dewasa bila terlalu panjang. Ya, karena kemampuan mereka untuk memahami kalimat masih terbatas. Percuma jika kita hanya CEREWET menyuruh mereka secara lisan tanpa menuntun mereka dengan teladan. Mereka melihat, mendengar, dan merasakan apa pun dari role model mereka. Jadi, hati-hati dengan apa pun tindakan kita.
Ya, setiap manusia memiliki prosesnya masing-masing, semoga dengan kita belajar untuk peduli dengan cara tepat akan menolong anak-anak Indonesia sehingga kelak kemudian hari mereka akan menjadi manusia Indonesia sejatinya. Aamiin..
Selamat Hari Anak Nasional 2011
-diselesaikan di Karang, 24 Juli 2011-
bener sekali ya phi..mereka jika diajarkan sejak dini meminta2 maka setrusnya akan jadi peminta-minta, kita tak mau bukan bangsa inio diisi oleh peminta2 masa depan…semoga apa yg kau lakukan bisa diikuti banyak orang…kalau perlu beri modal ke mereka..^^
betul sekali mba, lebih baik memberikan kail daripada ikannya..
Sudah bukan saatnya untuk saling menyalahkan, tp lebih baik bertindak untuk bisa mengatasi permasalahan ini.
saya pun kadang jd dilema sendiri, gak dikasih ada rasa kasian, kalau dikasih takut nanti jadi terus2an dan ahirnya malah jdi kebiasaan mereka.. 😀
Salam Kenal
waduh dulu kebiasaanku memberi ama anak2 jalanan, berarti saatnya untuk tidak memberi ikan tetapi memberi kail ya mba…
Akhirnya anak anak yang seharusnya bersekolah terpaksa Putus sekolah dan oleh orang tuanya pun disuruh berjulan atau meminta dijalan-jalan Salam Kenal
setuju,…
@Mbak Puteri: sekadar pemikiran sederhana yang perlu kita tularkan, Mbak. Apa yang terjadi hari ini tentunya akan berdampak hingga masa yang akan datang. Semoga akan lebih banyak orang yang mau sedikit lebih mengerti 🙂
@Mas Mabrur: terima kasih atas like-nya. yang jelas kewajiban kita semua untuk saling mengingatkan.. demi masa depan generasi penerus bangsa.
@Mas Irfan, Mas Hendry: salam kenal kembali dari kaki Merapi
@Mas Baha Andes: ya, seperti itulah kenyataannya.. akan jauh lebih bermanfaat bila kita memberi mereka bekal/modal keterampilan dsb agar mereka berusaha tanpa meminta-minta
@Dwi: sepakat! 😀
tapi kadang yang lebih miris, ketika melihat pengemis kecil yang menggendong bayi milik ketua mereka hanya untuk lebih dikasiani.. dhe lebih suka dengan pengamen daripada pengemis, karena pengamen itu sma kayak penyanyi yang sering kita lihat, mereka menjual suara dan kemampuan bermain musik mereka bukan hanya sekedar meminta belas kasihan..
@Dhe: hmm, itulah PR bangsa ini, Dhe. masih banyak timpang sana-sini. mestinya orang di sekitar mereka bisa memberikan arahan, mana yang lebih baik. lebih baik ngamen ketimbang ngemis, juga lebih baik jualan koran ketimbang ngemis
Sangat sepakat dengan postingan ini. Makasih banyak ya, Mbak. Semoga saya bisa menerapkan.
Terima kasih, Pak Akhmad. Ini kewajiban kita semua. Mari lebih peduli agar generasi selanjutnya menjadi generasi yang jauh lebih baik dari kita. Aamiin..
di semarang jg byk anak2 seperti itu, gmn dgn masa depan mereka ya, pemerintah seharusnya bertanggung jawab
pemerintah bertanggung jawab, kita pun sebagai bagian dari masyarakat Indonesia mestinya ikut peduli dengan hal ini, Pak
meskipun sudah sekitar 6 bln sampai saat ini dan ke depan pengetahuan tentang kangker servik ini akan selalu up to date, cobo bayangkan jika sekitar 5 -10 th kedepan masih banyaknya masyarakat yg buta akan penyakit ini….berapa lagi jiwa yang akan melayang ( meskipun kita tahu yang namanya ajal sudah ada ketentuannya dari Allah) sebagai manusia ita perlu ikhtiar iya..kan..mbak, sebagai perpanjangan tangan bagi teman saya yang sedang membuat tesis tentang kanker servik, apakah bisa mbak membantu mencarikan literatur /artikel / e-book atau sejenisnya yg berkaitan dengan kangker servik, benar lho mbak, sy dan teman saya sangat ingin masyarakat kita paham dan tau segala sesuatunya soal kangker servik ini. trims dulu bya mbak ???