All you have to do is stay steady, no matter they acted
Masih sangat jelas terbayang di pelupuk mata rabun saya kejadian di sebuah shaf kedua masjid At Tauwabin subuh tadi. At Tauwabin, masjid yang menemani saya mengenal Islam sejak kecil dan menjadi saksi perjalanan rohani seorang Phie. Pagi tadi untuk kali kedua, saya mengalami kejadian yang sama. Entahlah, apa wajar jika saya merasa tertolak. Tertolak? Ya. Saya datang dan masuk ke ruang sholat putri ketika iqomah mengumandang. Saya mengambil tempat di shaf kedua tepat di samping seorang ibu. Beliau ada di urutan kedua dari selatan, saya di urutan ketiga. Karena imam sudah mengisyaratkan takbiratul ikram, saya pun bergegas. Spontan saja, melihat beliau tidak membawa sajadah saya menggelarkan sajadah sepanjang tempat sujud kami berdua, beliau dan saya sendiri. Tidak ada prasangka sedikit pun, niat saya berbagi sajadah, itu saja. Saya tidak suka merumitkan niat baik. Lebih baik segera dilakukan, tidak perlu menunggu berubah pikiran.
Semua berjalan seperti adanya jamaah subuh. Namun, saat sujud.. something happened, dan itu saya ketahui saat duduk di antara 2 sujud. Rabb, saya melihat sajadah itu tersingkap.. teringat pengalaman yang pertama kalinya. Hmm, adakah beliau ini orang yang dulu pernah melakukan hal yang sama dengan sajadah saya? Beberapa bulan lalu sebelum Ramadhan tahun ini tiba, saya juga pernah sholat di samping seorang ibu yang juga menyingkapkan sajadah, seolah enggan menyentuhkan wajahnya di atas sajadah saya. Waktu itu saya sempat berpikir, โSeburuk itukah saya?โ Berlinanglah air mata, ya Allah nasib si perasa. Next? Saya berusaha agar apa yang saya alami itu tidak mengganggu kekhusyuโan sholat, tapi sulit. Astaghfirullaah.. ๐
Sepanjang sholat berpikir, menahan tercekatnya nafas di batang tenggorok. Sampai saat salam, masih saja sesak hingga wiridan pun saya lalui dengan memejamkan kedua mata. Rasanya tak tega melihat sajadah saya tersingkap. Kesetiaan dan kepasrahannya terkoyak. Sajadah saya memang hanya benda mati, tapi bagi saya ia serupa benda berjiwa saking setianya saya ajak kesana-kemari. Saya hanya mampu terdiam sembari memohon semoga Allah menggantikan rasa sakit yang terasakan dalam hati itu dengan keberkahan puasa. Aamiin..
Lepas doa, jamaah bubar jalan sembari bersalaman. Saya lemparkan senyum ke arah ibu tersebut. Bagaimana pun beliau tetangga saya, jadi untuk apa memperpanjang masalah? Bisa jadi beliau lebih percaya pada karpet masjid dibanding dengan sajadah saya. Dan sudah sepatutnya saya menghargai cara beliau, tapi bukankah lebih baik mengatakan sebelum kami mulai. Bagi saya menolak dengan cara halus lebih bisa saya terima daripada menyingkap sajadah di tengah perjalanan sholat. Ah, sudahlah Phie.. Masih banyak hal yang pasti membahagiakanmu, membuatmu merasa beruntung, seperti juga merasa beruntung karena rabun dan tidak mampu mengenali beliau di keremangan ruang sholat putri.
Ya, yang perlu saya lakukan adalah tetap pada sikap saya, tidak ada yang keliru dari berbagi, seperti yang dikatakan Anne Frank,
โNo one has ever become poor by givingโ
-Karang, 20 Ramadhan 1432 H, tepat bakdal subuh-
sumber gambar dariย http://www.flickr.com/photos/glenchandra/3949825370/

sajadah yang ditaruh di tempat ibu itu bagian yang untuk kaki atau muka?
yang sabar aja ya, semoga ini menjadi pelajaran berharga, karena niat baik dan berbagi sajadah itu sudah mendapatkan pahala, ada baiknya ditanyakan saja kok sampe beliau menyingkapkan sajadahnya
saya TIDAK pernah menempatkan bagian kaki di hadapan orang lain saat berbagi sajadah. tapi, sudahlah.. bukan apa-apa, saya hanya perlu lebih mengerti cara orang lain.
Sabar mbak phie ๐
Mungkin ibunya gak bermaksud buruk,,, positive thinking aja mbak ๐
mbak, akhirnya aku bikin blog lagi di wordpress, soale blog yg dulu gak tau gimana cara mbenerine dan aku udah nyerah hehe mulai dari nol lagi ngeblognya dehh,,,
Hai, Dini ๐
Ya, bisa jadi.. entahlah. Yup, keep positive thinking ๐
Lhoo, blog baru? Hmm.. oke dah kapan-kapan BW ke rumah barumu ๐
Yups mbak ๐
Mbak, ternyata blog lamaku udah bisa buat komen lg, aq tau cara ngaturnya gara2 habis posting di blog baruku,,, akhirnya punya 2 blog wordpress ma 1 blog kompasiana, blog lainnya dah tak delete ๐ lebih enak pakek wordpress,,, mampir mbak di blog2ku hehehe linknya ada di daftar gavatarku,,, ๐
Terkadang orang lain mempunyai pendirian dan keyakinan yang tidak kita pahami.
Ya, memang begitu, Pak. Yang penting saya berusaha, perkara mau ditolak.. yaa, anggap resiko
Dengan disingkapnya sajadah itu, kita menjadi tahu apa yang menjadi โpilihanโ orang lain, sungguh ini pelajaran berharga bagi kita; daripada dia diam saja, namun dalam hati sesungguhnya tidak cocok dengan sikap kita; dengan demikian, kita jadi memahaminya….
Ya, tentu saja, Pak.. saya jadi belajar bagaimana harus menjaga sikap & menghargai perbedaan. Bukankah perbedaan itu indah? ๐
Jujur aja, saya lebih memilih karpet masjid. ๐
Kalo di masjid atau mushola sudah ada karpet, saya tak berpikir untuk membawa dan memakai sajadah. ๐
OK deh.. ๐
Ukhti Phie, Shalatnya kok jadi monolog? membawa dan mengenakan sajadah juga baik kok, lain kali dipakai sendiri aja. Baginya mungkin lebih baik sajadah panjang masjid, apalagi sajadah yg anda bentangkan pada dia pas tapakan kaki bukan kepala masjid. mungkin bayangan dia rang kaki anda.
Kisah anda sangat bermanfaat bagi saya khususnya.
Salam kenal, Pak ๐
Saat semacam itu tak pelak juga membantu saya belajar mendewasa. Oh ya, mohon maaf, sajadah yang saya bentangkan di muka ibu tsb bukan bagian kaki; saya tidak pernah memberikan bagian kaki sajadah kepada orang lain.