Belajar dari FeMale: Sampaikan melalui Dongeng

Jumat sore yang cerah, Enaknya ngobrol apa ya? Hmm.. Saya punya sebuah tema, nyambung yang lalu. Masih soal anak-anak. Ya, tema kecil (sepertinya) dari dunia yang kecil pula, tetapi banyak hal di sebaliknya yang butuh perhatian besar. Sebagai (calon) orang tua, sudah sejak lama saya tertarik dengan dunia ini. Sejak saya tercebur sebagai tutoress pertengahan tahun 2003 seperti yang telah saya kisahkan di sini, semenjak itulah saya merasa sangat perlu belajar dari mereka. Dua tahun pertama saya menikmati adaptasinya, lama ya? Ya, begitulah!

Belajar dari anak-anak? Mengapa tidak? Saya hampir tidak selalu sepakat dengan pepatah jawa, kebo nusu gudel. Saat ini usia muda tidak selalu mencerminkan ke-junior-an seseorang. Boleh saja jauh lebih muda dari saya, tetapi  kadang saya bisa menjumpai banyak sekali keunggulan mereka dibanding anak-anak di masa saya dulu. *ngaku :mrgreen:

Satu bagian yang sampai detik ini terus saya pelajari adalah bagaimana cara mengambil hati atau memahami anak. Anak zaman sekarang berbeda perangainya dengan zaman baheula. Itu berarti tantangan saya sebagai orang tua kelak, sebagai ibu akan jauh lebih berat dibandingkan ibu saya, begitu kan kalau ditarik hipotesisnya? It means.. saya memang harus, kudu, bin wajib ‘ain untuk mempersiapkannya. Ya, anggap saja kesibukan saya mengajar 8 tahun terakhir ini sebagai ajang untuk meraup keuntungan seperti kata pepatah sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui atau sambil menyelam minum air.

Hmm, bicara soal cara memahami anak.. saya punya satu lagi rekomendasi program acara untuk anak sebagai salah satu cara mengambil hati si kecil. Bukan rahasia lagi bila kepala sama hitam, tetapi isinya? TIDAK! Mereka masing-masing punya “isi kepala”, karakter unik, dan yang perlu kita perhatikan bahwa seperti apa pun si kecil, mereka punya potensi. Kewajiban kita sebagai yang lebih senior adalah membimbing mereka dengan banyak cara; salah satunya memilihkan mereka program tayangan yang baik dan pas muatannya. Ok, kalau terakhir kalinya saya sempat berbagi soal tontonan (Sesame Street) di sini lalu bersambung di sebelah sini (bagian berikutnya belum selesai, maaf :(); kali ini saya akan mengupas sedikit soal program acara radio.

Hmm, bicara soal mendengarkan radio, saya sudah sejak kecil hobi mantengin radio, terutama cerita/dongeng, semacam Nini Pelet (ya, zaman itu setahu saya belum ada program siaran dongeng untuk anak –mohon koreksi bila saya keliru-). Saking seringnya, saya menjadi ketakutan dengan hal-hal kecil seperti suara aneh dan takut gelap. Jangan-jangan si Nini Pelet bakal menyergap saya ketika saya masuk ke ruangan yang gelap?! Hm, kala itu saya belum tahu istilah senjata makan tuan, yang saya tahu.. saya bisa meniru kebiasaan orang dewasa di sekitar saya. Ya, orang tua dari teman sepermainan saya suka sekali menyetel dongeng horor itu. Maka, sesampainya di rumah, saya utak-atik radio sampai saya temukan stasiun radio yang menayangkan dongeng itu. Saya rela mantengin sambil memeluk beberapa bantal sambil sesekali me-nyungsep-kan kepala di antara bantal bila saya ketakutan. Aarrgh! Ck.ck.ck.. separah itu ternyata! Sekalipun saya geli bila mengingatnya, setidaknya saya bisa belajar dari pengalaman masa lalu. Karena saya tidak ingin tumbuh menjadi sosok penakut, termasuk anak-anak saya kelak, maka saya harus berhati-hati memilih. That’s all, simple isn’t it?

Nah, sejak sekitar setengah tahun terakhir ini saya konsen melakukan pengamatan terhadap program radio, khususnya siaran untuk anak. Di Yogyakarta, saya mengenal beberapa stasiun radio yang punya fokus kepada anak-anak, perempuan, dan keluarga, di antaranya: Rakosa Female Radio, Retjo Buntung, Jogja Family, MQ FM, dan beberapa lagi. Namun demikian, porsinya tentu berbeda satu sama lain. Kali ini saya pilihkan FeMale Radio sebagai satu di antara sekian stasiun radio yang berfokus terhadap perempuan dan anak-anak. Siarannya memang sentral dari Jakarta (sejak pagi hingga pukul 10.00), tetapi di beberapa kota lain di Indonesia masih bisa menangkap frekuensinya sejauh itu ter-link-kan dengan jaringan Delta FM Jakarta. Di Yogyakarta sendiri Female Radio dapat dilacak pada saluran 103,7 FM; berkantor di Jl Letjend Soetoyo 40 Ngampilan bersama Prambors FM Yogya.

Dongeng Pagi Paman Gery & Bubu MiniOk, kembali pada tema pembicaraan kita. Saya tidak akan membahas terlalu banyak soal FeMale Radio. Bagi yang penasaran silakan klik link ini untuk tahu lebih detail profil FeMale Radio. Jadi? Mari kita arahkan fokus ke salah satu program acara. Ya, Kerajaan Paman Gery and Superkids. Acara ini on air mulai pukul 06.00 s.d 07.00 setiap hari Senin-Jumat. Isinya? Tentulah tidak jauh dari dunia si kecil: nyanyian, dongeng, dan curhatan si kecil. Acara ini dipandu oleh Gery Puraatmaja (host) yang akrab disapa Paman Gery (pemeran Haji Idrus di film Serdadu Kumbang, red.). Sesi dongeng pagi Female Radio dimulai pk 06.00. Sesaat sebelum sesi dongeng dimulai, Paman Gery akan memanggil co-host, yaitu Bubu Mini (Cut Mini). Sesi dongeng biasanya berlangsung antara 10 s.d 15 menit.  Sajian dongeng yang disuguhkan FeMale ini tentunya sarat nilai. Anak-anak secara tidak langsung dituntun untuk mengerti karakter yang baik melalui dongeng.

Nah, kabar bahagia yang sangat perlu saya sampaikan adalah bahwa beberapa waktu lalu acara ini meraih anugerah Juara I Inovasi Program Radio Terbaik 2011 dalam Indonesian Radio Award 2011 Hore! :mrgreen: Selamat untuk FeMale Radio. Saya turut berbahagia karena acara ini juga menjadi favorit saya tiap pagi. Semoga dengan award yang diterima tersebut akan terus memacu semangat kru-nya dan bertahan menjadi salah satu saluran radio favorit di Indonesia. Aamiin.. Oya, beberapa di antara dongeng pagi tersebut bisa didengarkan secara online lho. Mau?? Silakan klik link ini. Pesan sponsor *halah..* Sembari beraktivitas, panteng terus FeMale Radio yaa! :mrgreen:

*sumber foto: boleh share dari profil picture facebook FeMale Radio

5 thoughts on “Belajar dari FeMale: Sampaikan melalui Dongeng

    1. Aamiin ya Rabb.. mari kita sama-sama berdoa, Mas Masbrur.
      yang jelas sudah makin banyak orang yang sadar kalau bangsa ini perlu di-reset 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *