Secuplik Kenangan Pareanom: My 1st Jogja Art Festival

Tari, sebuah kata yang akan selalu mengingatkan saya pada masa kecil. Awalnya tanpa sengaja. Mungkin memang karena darah seni mengalir pada diri seorang gadis kecil bernama Phie, ya itu saya. Namanya juga anak-anak.. Bermain, bernyanyi, menari adalah perpaduan yang sempurna. Dari sanalah akhirnya saya bergabung dengan sebuah sanggar bernama Pareanom. Saat itu sekitar tahun 1994, Mbak Mita, seorang mahasiswa Institut Seni Indonesia, Yogyakarta yang tinggal (baca: kost) di rumah Sulis, teman sepermainan saya, mengundang anak-anak kampung Candi Karang. Kami semua, anak lelaki dan perempuan diminta untuk berkumpul di teras rumah Pak Ponijo. Kata Mbak Mita, kami akan berlatih tari di sebuah sanggar. Sanggar tari? Ah, saya tidak pernah peduli dengan apa pun namanya. Yang saya tahu, di sanggar saya bisa bertemu teman-teman dan bermain sepuasnya.

Hari demi hari berlalu dengan latihan setiap pulang sekolah. Rumah Pak Ponijo jadi sangat kondang kala itu. Beberapa tari pun diajarkan di sana. Kami semua menjadi sangat akrab dengan irama gamelan dan tembang. Satu kata saja, MENYENANGKAN. Kami belajar beberapa tarian, hampir kesemuanya tari kreasi baru. Ada yang namanya Tari Gembira, Tari Dolanan, Tari Jaranan, dan beberapa lagi lainnya. Yang paling jamak dijadikan ajang pentas adalah saat event tahunan, semacam HUT RI atau pun FKY.

FKY? Ya, Festival Kesenian Yogyakarta  (Jogjakarta Art Festival).. Saya dan teman-teman nyaris berteriak kegirangan saat Mbak Mita memilih beberapa di antara kami untuk turut bergabung mewakili Pareanom untuk pentas di FKY. Oh.. untuk kali pertamanya sekumpulan anak-anak kaki Merapi akan pentas di kota, di kawasan Jogja nol km? Saya deg-degan. Tapi, itulah yang membuat saya dan teman-teman berlatih lebih giat. Kami akan maju dalam kategori tari kelompok, jadi kekompakan tim harus dijaga.

***

Hari H pun tiba! Saya tidak sabar menanti, sungguh! :mrgreen: Bakdal Maghrib usai bersiap make up dan berhias, kami berangkat dengan mobil angkutan sewaan. Kami tidak sendiri, masing-masing peserta ditemani oleh keluarga. Saya ditemani oleh Bulik Iskamtiyati dan Ning, adik saya. Kala itu bulik sedang hamil besar (kelihatan kan? hehe) Ibu menitipkan saya sekalian unttuk menginap di rumah Bulik di Kauman, belakang Masjid Gedhe. Saya ingat waktu itu Juni pas bersamaan waktunya dengan liburan kenaikan kelas.

my 1st Jogja Art Festival
my 1st Jogja Art Festival

Setelah menempuh perjalanan yang panjang, akhirnya mobil rombongan kami pun tiba di sebuah gedung kesenian. Namanya Senisono atau disebut juga Balai Mataram (sayangnya saat ini gedung tersebut sudah tidak ada). Kami pun bergegas turun dan masuk ke sebuah aula. Menurut anak kecil seperti saya, besar sekali! Kami dipersilakan duduk dan disuguhi minuman teh hangat. Alhamdulillah, lumayan mengusir deg-deg’an. Kami menunggu Mbak Mita mengkonfirmasi nomor antrian. Oh, rasanya semakin deg-deg’an saja dan mendadak perut saya sakit tak karuan saat kami dipanggil mendekat oleh sang pembawa acara. Mbak Mita merangkul kami dan memberi isyarat untuk berkumpul mendekati tangga di sebalik panggung. Saya berbisik melas kepada Mbak Mita sambil memegang perut yang terlilit kencang oleh stagen,

“Mbak.. sakit..”

Mbak Mita malah tertawa,

“Itu namanya demam panggung! hehehe..”

“Yuuk, sekarang mendekat ke sini.. Kita berdoa sama-sama. Semoga nanti saat pentas, kalian diberikan kelancaran sampai akhir. Berdoa mulai..”

Kami berenam yang dirangkul oleh Mbak Mita pun menundukkan kepala. Berdoa sekhusyuk mungkin sembari melawan rasa sakit di rongga perut.

Sesaat kemudian, kami dipanggil..

“Bapak Ibu yang terhormat, untuk kesempatan selanjutnya akan kami tampilkan Tari Gembira yang dibawakan oleh adik-adik kita dari Sanggar Pareanom.. “

Bismillaah.. Satu.. Dua.. Tiga.. Gerakan mengalir begitu saja. Formasi pun tidak ada sedikit pun yang kami lupakan, hanya beberapa kali kurang kompak. Ya, sudahlah.. setidaknya kami telah berusaha. Sekitar 7 menit kemudian, kami pun undur diri dari penonton. LEGA dan anehnya si demam panggung tadi mendadak hilang. Aaaaahhh… saya menarik nafas panjang saat Mbak Mita menyalami kami berenam,

“Selamat ya.. Kalian sukses!”

“Terima kasih, Mbak Mita..”

***

Hmm.. Mbak Mita memang bukan guru tari saya yang pertama, tapi lewat bimbingan beliau, lewat Pareanom-lah akhirnya saya bisa pentas untuk kali pertamanya di Festival Kesenian Yogyakarta. Ini adalah kado kenaikan kelas teristimewa bagi saya. Momentum terindah bagi seorang gadis kecil dari kaki Merapi. Bukan perkara menang atau kalah. Lewat Pareanom, secara tidak langsung Mbak Mita berpesan kepada kami agar tetap menjadi anak Indonesia yang selalu cinta pada budayanya sendiri. Terima kasih, Mbak Mita.. terima kasih, Pareanom.

-Kisah ini diikutsertakan dalam acara 1st Giveaway: The Sweetest Memories-nya Mbak Orin-

Tag , , ,

15 thoughts on “Secuplik Kenangan Pareanom: My 1st Jogja Art Festival

  1. Phie…kebayang deh sakit perut nervous mo manggung ituuuuuh, pernah ngerasain jg soalnya hihihi… Pastinya kenangan yg ga mgkn dilupakan ya Phie 🙂

    Sudah tercatat Phie, Makasih udh ikut meramaikan ya Jeng^^

  2. hmmm…. pentas di FKY merupakan kebanggaan tersendiri ya mbak
    hehe…. jadi teringat ketika saya bersama teman2 JMA mewakili sleman untuk pentas di FKY
    waktu kita sekelompok mementaskan musikalisasi puisi, salam dari kaki merapi juga ya mbak…

    1. iya, Pak Akhmad.. lha wong namanya anak kecil, anak nggunung yang jauh dari keramaian kota.. pentas pertama kali untuk event provinsi ya senengnya ga karuan, Pak. Namanya juga anak-anak, hehe :mrgreen:

    1. waah, ini mah kenangan jaman baheula, Mas. tahun 90-an hehehe
      kalau yang 2000-an saya sudah ndak aktif lagi. saya aktif nari hanya sampai SMP akhir

    1. itu kisah masa lalu, Mimi Arie. Phie udah lama vakum latihan nari, sejak lulus SMP. kalau diminta pentas masih mau sih hehe, cuma mesti milih-milih kostum yang tertutup ya.. 😀

      mbak Mita sekarang sudah ga kost lagi di dekat rumah, beliau udah nikah, tapi kabarnya masih tinggal di Jogja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *