Tour de Kaliurang et Kinahrejo

26 Maret 2011

Senja nyaris membayangi hari ketika saya meminta izin Ibu untuk menginap di Ngipiksari, Kaliurang. Ya, sore itu saya berangkat menjadi volunteer untuk acara praktikum lapangan Taksonomi Serangga Dewasa. Pesertanya adalah mahasiswa Pascasarjana strata 2. Saya berangkat kesana karena diminta oleh koasst praktikumnya, siapa lagi kalau bukan mbak Vira.

“Sabtu ada acara, Jupi?” tanyanya waktu itu.

Nggak ada, Mbak? Kenapa?” jawab saya.

Nggak ada rapat pemuda?” tanya mbak Vira sekadar meyakinkan.

Nggak, pertemuan pemuda kampung kan biasanya Sabtu minggu pertama..”

***

Setelah telepon berisi lobbying itu berlalu hampir 2 minggu, saya pun berangkat langsung dari rumah meluncur ke Kaliurang bersama Ezy. Langit yang sedikit mendung tak menyurutkan niat saya untuk pergi. Janji adalah hutang dan saya memenuhinya, titik. Alhamdulillah meski Ezy bisa dikatakan motor tua, tapi urusan mendaki hingga Kaliurang ia masih bisa diandalkan.

Beberapa bulan berlalu dari erupsi Merapi, saya masih saja penasaran dengan kondisi Ngipiksari. Jarak Ngipiksari kurang lebih 7 km dari puncak Merapi. Sore itu pun sedikit demi sedikit rasa ingin tahu saya pun terjawab. Setelah perjalanan dengan kecepatan sedang sekitar 30 menit, saya pun tiba di depan pintu gerbang Kaliurang. Tapi saya tidak lurus, melainkan belok kanan masuk ke gerbang BP2APH Ngipiksari. Suasana sepi. Hanya ada beberapa motor di tempat parkir juga 2 orang yang sepertinya sedang sibuk melakukan pengamatan di kebun anggrek. Yang praktikum ada di mana? Saya mengedarkan pandang ke sekeliling, berharap menemukan seseorang yang saya kenal.. Sayangnya.. NIHIL!

Hmm, saya coba mengingat-ingat. Dulu saat saya memandu 8 praktikan Entomologi Dasar di tempat ini, kami semua berkumpul di aula. Ah, saya lajukan Ezy ke aula. Siapa tahu memang disana. Hoplaa! Saya melaju perlahan.. Hmm, separah inikah? Jalan ber-paving block menuju aula yang dulu mulus.. rusak parah. Wah, ini namanya belajar off road.. ok deh, siapa takut?

Rupanya benar.. Saat saya landing di depan aula, segerombol orang mendekat.. Ahaa.. itu Ika, Salman, dan yang lain.. ! Sepertinya mereka sedang memasang perangkap serangga malam. Sayangnya yang saya cari bukan mereka. Saya mencari-cari mbak Vira, ke mana tuh orang? Ternyata ada yang harus diurus: ruangan, penerangan, konsumsi. Pfiuhh.. Saya yang melihatnya jadi ikut pusing. Kami tidak mungkin tidur di aula. Debu-debu Merapi masih melekat di sana-sini, kalau dipaksakan bisa  kembang kempis dibuatnya. Lampu di sudut barat aula dekat tandon air masih mati. Instalasi listrik di tempat itu mengalami kerusakan cukup parah pasca erupsi. Keadaan yang serba terbatas.. ya memang sebaiknya dimaklumi.

bersama para praktikan Taksonomi Serangga Dewasa
bersama para praktikan Taksonomi Serangga Dewasa

Setelah masalah listrik terselesaikan, giliran konsumsi yang membuat koasst-nya pusing. Malam itu sebelum makan malam ada acara sortir serangga. Mbak Vira yang sibuk mengurus konsumsi memberi mandat saya untuk menjadi pengawas kegiatan sementara. Wah, panen tangkapan nih ceritanya. Saya melihat-lihat dan sesekali memberi komentar. Beberapa di antara mahasiswa belum memiliki basic ilmu Entomologi, maka bisa dimaklumi bila masih ada rasa canggung. Saya membantu sebisa saya, sesekali menilik kaca pembesar dan kunci determinasi serangga sembari berdiskusi.. So, watch the picture! I’m in black headcover, standing up in the center. :mrgreen:

***

27 Maret 2011

Pagi harinya. Aktivitas dimulai dengan sholat Subuh. Dinginnya lereng Merapi merasuk benar. Air yang ada serba terbatas. Yang ingin wudhu, sikat gigi, atau buang air kecil harus mengambil air di tempat yang sama dan hanya satu-satunya. Antri ya!

Sebelum berangkat sarapan dulu lalu menyiapkan peralatan trapping yang akan dipasang di lahan. Dua orang sahabat saya, May dan Ale, ikut memandu teknis penempatan sticky trap di lahan BP2APH. Setelah selesai, kami packing. Barang-barang yang masih ada di aula diangkut ke kantor administrasi. Selanjutnya agenda dilanjutkan dengan trapping serangga di Kinahrejo.

Sebentar.. Kinahrejo? Siapa yang tak kenal Kinahrejo? Selama Merapi masih terus menerus aktif, nama dusun di lereng timur Merapi (tepatnya kecamatan Cangkringan) ini akan tetap lekat dalam ingatan. Dusun yang menjadi tanah kelahiran mbah Maridjan alias R. Surakso Hargo, sang penjaga Merapi ini luluh lantak oleh aktivitas awan panas Merapi tahun 2010.

Ahad pagi itu, saya bersyukur sekali bisa menjejakkan kaki untuk kali pertama di Kinahrejo, meski yang tertinggal kenangan semata. Kenangan pilu selepas semua hampir habis, gundul tersapu awan panas. Dengan mengendarai motor dan mobil, sekitar pukul 08.00 rombongan kami melaju meninggalkan BP2APH Ngipiksari melintasi check dam kali Kuning dan mengikuti jalan aspal berkelok ke arah Kinahrejo. Pagi itu ada kelegaan tersendiri di hati saya manakala melihat geliat warga sekitar membenahi jalan. Sesekali saya mengganggukkan kepala sambil tersenyum ketika melewati warga yang menggerombol di tepi jalan. Ah, semoga semangat mereka semua tak pernah surut meski berulang kali Merapi mengamuk. Aamiin..

***

Setelah hampir setengah jam rombongan beriring dengan kecepatan sedang, kami pun tiba di Kinahrejo. Hmm, ada pilu mulai menjalari hati saya saat mengamati suasana sekitar. Seolah berbaur dengan mendung kelabu yang menggelayut, air mata saya mengembang. Sementara itu, langit masih sesekali menitikkan butiran air.. hmm, saya benar-benar tersihir. Oh, Merapi.. Dulu, kau tak seperti ini. 🙁

yang tersisa selepas luncuran awan panas
yang tersisa selepas luncuran awan panas
nyaris gundul
nyaris gundul
kelabu sendu
kelabu sendu

***

Oh, saya terbawa sesaat..seblum akhirnya rombongan berkumpul untuk briefing sejenak. Pak Suputa dan Bu Sri Suharni Siwi, dosen mata kuliah Taksonomi pun tak luput diikutsertakan. Bu Siwi sempat protes pada mbak Vira soal pemilihan tempat. Ya, maklumlah beliau sudah berkepala tujuh, sementara lokasi yang kami jelajahi sehari itu boleh dibilang terjal dan curam. Sebagai dendanya, mbak Vira harus mendampingi beliau. Tentu saja bersama saya, si pembawa pasokan air 🙂 Berbekal ransel dan celana loreng (gaya amat ya? :mrgreen: ), saya pun menjadi pengiring setia Bu Suharni Siwi. Kami sempat berfoto bersama di tanah bekas rumah warga yang ternyata berdiri di tepi tebing.. OMG! 😯

kami bersama Bu Suharni Siwi
kami bersama Bu Suharni Siwi

Para praktikan, ke mana mereka? Ya, sudah lepas bebas menjelajah kesana kemari. Mereka menangkapi serangga-serangga lereng Merapi sampai nantinya kami janjian bertemu di depan rumah mbah Maridjan. Setelah itu, kami turun untuk makan siang dan sholat Dhuhur. Hmm, ada yang tidak akan saya lupakan siang itu. Saat rakaat sholat Dhuhur saya baru mencapai 2 atau 3, kabut Merapi turun bersama kesedihan yang menyeruak seketika. Butiran air mata jatuh tak terelakkan..

Rabb, betapa kami semua tiada berarti. Suatu ketika bila Engkau menghendaki, maka terjadilah apa yang semestinya terjadi. Laa haula wa laa quwwata illa bilaah..

***

Tulisan ini diikutsertakan dalam event First Giveaway-nya Una

Photobucket

9 thoughts on “Tour de Kaliurang et Kinahrejo

    1. Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan, Na 🙂
      Ini mata kuliah mahasiswa S2-nya, kalau di S1 dulu saya dapatnya Entomologi saja, taksonomi alias ilmu tentang tata nama masuk ke bagian identifikasi serangga, begitu 😀 Ok, kembali kasih..

  1. Woho~ Pengalamannya seru banget gitu ya? 😀 Hihi~ Bsk mau ke Kinahrejo nih, lagi blog walking bwt nyari info soal Kinahrejo, eh nemu artikel ini. Lumayan deh buat nambah-nambahin cerita gitu. Thanks for sharing anyway. 🙂
    PS : foto “Kelambu Sendu”-nya keren abis!! ^^

    1. Hai, Diktiku 🙂
      Oh, mau ke Kinahrejo ya? Have fun ya, pokoke bakal keren bgt deh.

      Hmm, kelambu sendu? Dari Sebalik Tirai maksudnya? hehe makasih 😀

      1. Barusan pulang dari Kinahrejo dan jengjeng~ emg view-nya bagus banget, cocok buat foto2. 😀 Sayang, ke sana cm buat neliti keanekaragaman hayatinya. ToT Gabisa have fun more di sana. Huaaa~
        Iya kok, yg “Kelabu Sendu” itu, yg foto pohon ga ada daunnya terus keliatan suram bgt gitu. Foto yg attach di sini lho, Mbak..

      2. Oh.. yang itu ta.. kelabu sendu, memang saat itu keadaannya seperti itu, Rin.

        Coba dong, foto-fotonya di Kinahrejo di-share di blog, pengen lihat juga keadaan Kinahrejo teraktual 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *