Celoteh Chef Ikang: “Mbak Jupi orang kampung ya?”

Akhir pekan, SENDIRI. Entahlah, bagi saya saat seperti itu tidak selalu identik dengan sedih, murung, patah semangat, atau sekian perasaan tak nyaman lainnya. Sendiri bagi saya merupakan saat merenung terbaik, saat mawas diri terindah. Seperti yang semalam saya alami. Penggalan percakapan santai dengan Fikar (lebih akrab disapa Ikang) sepanjang perjalanan pulang les terngiang-ngiang di telinga. Fikar? Siapa dia? Dia adalah siswa baru yang malam itu genap seminggu saya bimbing.

“Kenapa Mbak Jupi nggak biasa makan gorengan? Mbak Jupi orang kampung ya?” tanya Fikar.

“Mbak suka berdahak kalau makan gorengan terlalu banyak. Iya.. Mbak Jupi orang kampung..” jawab saya lugas.

Pertanyaan Fikar itu membuat saya bertanya dalam hati,

“Apa hubungannya antara nggak biasa makan gorengan sama orang kampung? Yang penting kan nggak kampungan.”

Saya mencoba beralasan. Semoga itu bukan karena ego (sok) senior saya tersenggol oleh pikiran kanak-kanaknya. Semoga ini bukan pula akting layaknya film Alley McBeal. Semoga dengan hal ini saya bisa mendapatkan inspirasi baru bagaimana semestinya menghadapi anak istimewa sepertinya. Istimewa? Ya, seperti yang dikisahkan oleh ibundanya. Fikar sebenarnya anak kedua. Anak pertama (kakak Fikar, laki-laki) meninggal pada usia kurang dari setahun. Keadaan itu membuat sang ibu seperti orang patah hati, takut untuk kembali hamil, peragu, dan merasa harus mendapatkan limpahan motivasi untuk beraktivitas. Sampai pada saat ibundanya mengandung Fikar masih dengan dilingkupi keadaan itu. Bisa dibayangkan bagaimana semua hal itu “menekan” perkembangan si jabang bayi. Setelah lahir dan tumbuh pun ia sering terpapar (meski tanpa sengaja) dengan perlakuan kurang adil dari orang-orang di sekitarnya.. entah tetangga, teman sekolah, atau pun saudaranya. Mereka sering membanding-bandingkan Fikar dengan adiknya, Yasmin, yang memang jauh lebih menonjol dilihat dari sisi kemampuan akademis. Selain itu, yang membuatnya tak kalah jengkel adalah perlakuan teman sekolahnya yang suka mengejeknya tidak bisa membaca. MasyaAllah..

Menyesal tentu tidak akan mampu mengembalikan waktu yang telanjur lewat. Yang harus dilakukan sekarang adalah mengusahakan treatment terbaik bagi Fikar, mumpung ia masih duduk di bangku sekolah dasar. Saya yakin, tiap anak yang lahir ke dunia ini telah memiliki talentanya masing-masing, termasuk juga Fikar. Dari celotehnya di sela-sela les, saya melihat ia senang sekali memasak, bahkan bercita-cita memiliki sebuah restoran. Maka saya pun dengan bangga menambahkan Chef di depan namanya; mengucapkan,

“Terima kasih, Chef Ikang”

setiap kali ia menghidangkan minuman di meja belajar kami. Ah,  senang sekali melihat kedua matanya berbinar senang. Satu catatan lagi bagi saya, saya perlu menambah perbendaharaan ilmu tentang tata cara memberi sugesti positif pada Fikar. Sejauh ini saya memotivasi setiap siswa dengan cara saya, berhasil, tetapi sepertinya saya perlu belajar lebih lanjut mengenai psikologi anak. Hmm, ya saya akan terus berusaha dan berkaitan dengan pertanyaan polosnya tadi.. Sepertinya saya juga harus mulai menanamkan kebiasaan baru kepada Fikar; bahwa yang namanya jenis makanan, selama masih halal dan baik, itu tidak bisa digunakan untuk membedakan derajat orang. Yang makanannya serba mewah dan enak itu tidak selalu identik dengan kehidupan orang kota. Bukan berarti pula makanan tradisional dan sederhana seperti ubi-ubian/ketela dan olahannya, jajan pasar, dll itu hanya untuk dikonsumsi oleh orang kampung.

Dear Chef Ikang.. Kau masih harus banyak belajar dan mengenal dunia. Melihat, mendengar, dan merasakan baik-baik bagaimana setiap detail kehidupan ini mengajarimu untuk mendewasa; hingga suatu ketika kau akan mengerti bahwa bukan kampung atau kota yang menjadi pembeda manusia di hadapan Tuhan.

-kaki Merapi, 10 Desember 2011, di akhir pekan yang (berhasil) membuat perut saya merasakan lapar-

6 thoughts on “Celoteh Chef Ikang: “Mbak Jupi orang kampung ya?”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *