Pasukan Kuning nan Istimewa

Akhir pekan di minggu pertama bulan Desember ini, langit Jogja sering sekali mendung. Seperti juga jelang sore ini, titik hujan tiba-tiba terdengar menabuhi barisan genting rumah. Dengan sigap saya pun keluar menuju sumur, mengangkati jemuran. Hm, masih basah tapi terpaksa harus diangkat. Lepas kewajiban, pandangan mata saya pun beradu dengan dua kotak berisi makhluk-makhluk mungil. Yang satu berisi tiga ekor anak ayam, yang lain berisi enam ekor anak itik (kami di kaki Merapi biasa menyebutnya menthok, red.). Saya sendiri lebih suka menyebut mereka Pasukan Kuning. Ya, bulu-bulu kuning nan halus merekalah alasannya. Sudah beberapa generasi peneluran ini, ibu mempercayakan pengasuhan bayi-bayi mungil itu, terutama Pasukan Kuning kepada saya. Hm, bolehlah saya disebut ibu asuh. Tugas saya memberi makan dan mengganti minum di pagi hari. Kadang bila saya tidak sedang sibuk dengan jadwal les, saya juga melaksanakan tugas ini di sore hari, setelahnya memastikan mereka beristirahat dalam keadaan hangat; terlindung dari angin dan hujan.

Kalau saya ditanya bagaimana rasanya bergelut dengan makhluk-makhluk seperti mereka, saya akan menjawab, “Campur-campur.. semua deh ada di sini!” :mrgreen:

QUACKYSenang, melihat tubuh mungil mereka berdesakan satu sama lain saat melihat saya menghampiri pintu kandang sambil membawa pakan BR-1; seolah mereka berkata dengan sangat antusias, “Ibu.. kami lapar!!” Level senang di hati saya akan bertambah (berharap suatu ketika memiliki happiness-meter :mrgreen:) bila melihat mereka makan/minum dengan lahap. Itu artinya dengan sangat mudah saya dapat berkesimpulan, mereka baik dan sehat. Ketika level senang telah mencapai 80% (hanya bisa diukur dengan feeling-meter pribadi), saya akan dengan sukacita meng-update status facebook tentang mereka serta menyisipkan doa, “Tumbuhlah sehat Pasukan Kuningku…”

Sedih dan haru bercampur ketika saya menemui salah satu atau beberapa di antara mereka sakit atau bahkan mati. Seperti suatu pagi beberapa bulan lalu. Saya ingat benar kala itu permulaan musim hujan; saya membuka selimut kandang dan menemukan seekor di antaranya mati. Saat itu satu generasi peneluran induk menthok menghasilkan 12 ekor bayi. Yang demikian membuat saya bersedih karena yang saya angkat bangkainya pagi itu adalah bayi keenam. Itu artinya yang bertahan hingga pagi itu adalah setengah dari populasi satu generasi. Saya tidak tega sebenarnya, tapi saya paksakan. Dengan memalingkan tatapan mata saya angkat bangkai dan mengeluarkannya dari kandang. Oh, sedihnya.. 🙁 Selamat tinggal bayi mungilku..

Kadang saya bisa mendadak sedih. Bukan, bukan karena melihat mereka mati. Ada hal lain yang mampu membuat orang perasa seperti saya lagi-lagi menangis. Itu seperti yang terjadi pada 12 ekor Pasukan Kuning yang tinggal separuh populasi itu. Ketika itu  sepulang kerja, saya menemukan kandang kosong melompong. Buru-buru saya tanya ibu. Olalaa.. rupanya ada yang jauh lebih sayang pada Pasukan Kuning dan membelinya untuk dipiara. Hmm, ya sudah. Doa saya, semoga si empu baru menyayangi dan merawat mereka dengan baik. Selamat tinggal bayi-bayi mungilku.. 🙁

Kejadian yang sama harunya dengan yang saya alami di atas terjadi lagi sore ini. Pasukan Kuning generasi berikutnya (yang saat ini saya asuh) beranggotakan enam ekor. Dua ekor di antaranya sangat istimewa. Yang seekor kedua matanya lebih besar ukurannya dari bayi lain, yang satu lagi hanya satu mata yang kondisinya seperti itu. Boleh dikatakan (maaf) melotot keluar. Itu menyebabkan si Istimewa pun sedikit kesulitan saat makan. Namun sejauh ini saya amati mereka berdua sehat, masih doyan makan. Saya berharap mereka berdua tetap bisa tumbuh sehat layaknya saudara mereka yang lain (aamiin). Keasyikan saya mengamati mereka berdua dan tiba-tiba air mata saya mengembang. Menangis begitu saja melihat mereka yang istimewa. Sungguh Allahu Rabb telah Mengatur segalanya dengan sangat sempurna, subhanAllah. Akhirnya.. begitulah istimewanya mereka, Pasukan Kuning, untuk seorang Phie, gadis biasa dari kaki Merapi.

Kadang inspirasi bisa saja datang dari hal-hal remeh seperti ini, mungkin bagi orang lain mereka remeh, tetapi bagi saya.. begitulah 🙂

-kaki Merapi, 3 Desember 2011, ketika petang beranjak mengajak saya untuk bergegas berangkat pertemuan pemuda-

19 thoughts on “Pasukan Kuning nan Istimewa

  1. menthok sama bebek beda kan yaa mbak?? dhe sangat suka boneka bebek, tapi tidak begitu suka dengan penampakan aslinya.. hehe

    semoga segera mendapatkan bayi-bayi mungil pengganti mbak.. bayi beneran gitu misalnya.. 😀

    1. masih saudara, Dhe.. sama-sama unggas maksudnya :mrgreen:
      iya sih, boneka lucu bisa dielus-elus terus dipeluk, kalau yang ini lain. rada kotor memang, tapi lucunya tak tergantikan *halah 😀

  2. Loh² kok samapai ada yang mati Mbak, coba dikasih lampu tuh kamar tidurnya jangan di kasih AC hehehe…entar kalau sudah pada saatnya sudikah Mbak Palupi mengirbankan 1 aja untuk bancaan heheh

    1. wehehehe.. iya, suka kedinginan mereka apalagi kalau sudah hujan pakai angin, Kang.
      buat bancaan di WeBe? semoga ya, doakan saja :mrgreen:

  3. Jadi terharu… Luar biasa mbak!!! Saluuttt…

    Ah…, memang terkadang kita memiliki hubungan batin yang “lebih” kepada hewan-hewan sekitar kita. Barangkali karena wajah mereka yang polos dan tidak berdosa, serta polah mereka yang menghibur itu… ^^
    Dan akupun tengah berbahagia menanti kelahiran anak-anak kucingku; Si Opet… ^^

    1. Ya, begitulah Mamet.. kadang kala kita akan terinspirasi oleh makhluk Tuhan yang lain. Bersyukur kita masih diberi kesempatan menikmati itu semua ya 🙂

  4. Pasukan Kuning nan Istimewa Segores Pena Phie I was suggested this website by my cousin. I am not sure whether this post is written by him as nobody else know such detailed about my difficulty. You are wonderful! Thanks! your article about Pasukan Kuning nan Istimewa Segores Pena Phie Best Regards Lawrence Schaad

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *