Whoever You are, I Love You, Mom: Sebuah Pengakuan Anak Perempuan

Judulnya sederhana, Whoever You are, I ♥ U, Mom. Sebuah buku karya Iris Krasnow ada di pangkuan saya petang itu, mengisi sejenak waktu sembari menonton kartun The Incredibles. Sebenarnya sudah sejak Mei 2011 buku ini hadir. Seorang teman membingkiskannya untuk hadiah ulang tahun. Hm, ulang tahun saya bulan Maret tapi yang aneh kadonya baru tiba bulan Mei. Hei, sekalipun bagi sebagian orang ini aneh, tapi haruskah saya menolak pemberian seorang teman? Rezeki tak boleh ditolak, pamali, begitu kata orang tua. :mrgreen:

Whoever You are, I Love You, Mom
Whoever You are, I Love You, Mom

Ibu. Ya, tema ini bagi saya tidak akan ada habisnya. Menulis tentang ibu, secara umum dan khusus, hampir selalu menjadi tema menarik yang tidak akan pernah membuat saya mengerti mengapa saya dan tiap manusia di bumi ini mesti terlahir dari seorang ibu. Mengapa bukan ayah yang harus melahirkan? Ah, pertanyaan konyol macam begini tidak akan pernah saya dapatkan jawabannya. Lebih baik, saya menerima bahwa yang melahirkan itu disebut ibu, begitulah konvensi yang berlaku di dunia ini. That’s all.. No objection received!

***

Whoever You are, I ♥ U, Mom. Bicara tentang buku ini, berarti juga bicara tentang cara pandang anak terhadap ibunda mereka. Iris Krasnow menyampaikan bagaimana suka dukanya memiliki seorang ibu, Helene Krasnow, yang (dengan sangat terpaksa) mencicipi kerasnya penindasan Nazi. Dimulai dengan kisah mereka di Jerman, disusul dengan sakitnya  kehilangan anggota keluarga akibat kekejaman antek-antek Hitler lalu berlanjut hingga keluarganya pindah ke Amerika demi menyelamatkan diri. Suka duka ia jalani, ia paparkan bagaimana sulitnya menjadi anak perempuan dari ibu yang berwatak dingin dan keras. Iris tidak pernah bisa merasa dekat dengan ibunya, sebaliknya ia merasakan kehangatan tersendiri dari ayahnya. Dalam panjang lebar tulisannya, Iris banyak mengutarakan kebencian terhadap masa lalu bersama ibundanya sepeninggal sang ayah. Tentang ibu yang tak bisa selembut ayah. Tentang ibu yang ia katakan maniak dengan kebersihan dan kerapihan rumah, hingga dapur pun beliau kuasai sendiri. Ia melihat hal-hal buruk dan kasar dari ibunya yang tak pernah ia sukai.

Meski di satu sisi, ia menyalahkan sikap ibunya, tetapi di sisi lain ia juga memaparkan bahwa dari ibundanyalah ia akhirnya mendapatkan nilai lebih dari cara mendidik ibunya yang boleh dibilang semi-militer itu. Pada akhirnya, ia mengatakan harus berdamai dengan segala kebencian masa lalu mengingat usia ibundanya yang kian renta. Ya, kaki kanan Helene Krasnow diamputasi dan harus menghabiskan masa pensiunnya di atas kursi roda.

Selain berkisah tentang kehidupannya bersama ibu, Iris juga mengumpulkan kisah lain dari 116 anak perempuan di Amerika lewat wawancara pribadi. Buku ini menyuguhkan segudang cerita pengakuan yang berani dan jujur dari anak perempuan terhadap ibu mereka.

Sekilas tentang penulisIris Krasnow adalah seorang wartawan dan asisten profesor di School of Communication di American University. Ia juga penulis buku bestseller surrendering to Marriage dan Surrendering to Motherhood. Pernah menjadi tamu acara Oprah Show, CNN, Good Morning America, The Today Show, CBS MOrning Show, dan “All Things Considered” dari NPR

-sumber: sampul belakang buku-

***

Saya bisa merasakan bagaimana perasaan Iris saat menghadapi kondisi semacam itu. Yang ada dan bisa dilakukan adalah berdamai dengan hal-hal negatif dari kisah masa lalu mereka. Perjalanan kehidupan membuatnya membijak, membuka pintu hatinya bahwa usia ibundanya tidak akan lama lagi.. daripada ia menyesal karena terlalu membenci ibundanya sendiri, maka ia dengan berani mengekspresikan rasa cintanya lewat buku ini, siapa pun engkau, aku sayang padamu, Ibu, sejalan dengan sebuah petikan yang diberikan oleh seorang psikolog, Florence Wiedemann, yang saya temukan di chapter 5,

Tak ada ibu yang merupakan Mahadewi yang serbabaik. Kita masing-masing hanyalah wanita biasa yang mencoba untuk menjadi sebaik yang kita bisa.

Membaca buku ini membuat saya makin mengerti, bahwa tiada manusia yang sempurna benar, semestinya saya dan anak-anak perempuan di luar sana bisa menerima dan mencintai seperti apa pun kondisi orang yang dengan sukarela menjadi jembatan kehidupan seorang manusia; rela melahirkan, merawat, memberikan yang terbaik (dengan cara mereka tentu saja) kepada anak-anaknya, seperti sebuah kalimat dari Sharon Salzberg (Lovingkindness: The Revolutionary Art of Happiness) yang tertuang pada pembuka chapter 3,

Mencintai berarti hadir secara utuh. Mencintai berarti memberi perhatian

Pada kenyataannya menjadi ibu dituntut untuk hadir secara utuh lengkap dengan segala tuntutan dan resikonya. Ibu, pekerjaan yang tidak dapat dibandingkan dengan semua pekerjaan berhonor tinggi. Pekerjaan yang disandang selama 24 jam sehari seumur hidup. Hm, sebagai mom wanna be saya pun tersadar bahwa suatu ketika, insyaAllah, saya akan berada pada posisi yang sama (atau malah lebih) rumitnya dengan ibu-ibu yang diceritakan oleh 116 anak perempuan itu. So? Buat apa saya mencari-cari kelemahan dan kekurangan ibu, orang yang telah melahirkan saya dan rela memberikan sepanjang hayatnya untuk mengajari saya mendewasa? Bukankah ini waktunya berdamai?

12 thoughts on “Whoever You are, I Love You, Mom: Sebuah Pengakuan Anak Perempuan

  1. yang menarik, kenapa hanya view anak perempuan aja yg dibahas? emang anak laki nggak valid gitu view atas ibunya? gender banget deh.

    ada yg bilang anak laki dekat dengan ibu, anak perempuan dekat dg ayah. gak selalu benar pastinya. di rumahku, anak perempuan pertamaku lebih dekat denganku dari ibunya. anak lakiku lebih dekat dg ibunya. si bungsu ambil semua bapak ibunya 🙂

    sebagai muslim, aku diajari untuk mencintai ibu 3x lebih dari cintaku pada ayahku. ada status BB bos si kantorku yg tak pernah berubah : “ibu, sujudku di alas kakimu”. satu kecintaan tertinggi seorang anak atas sesama manusia, dan itu dipersembahkan untuk ibunya.

    pernah berubah berrahun

    1. Terima kasih telah singgah, Pak Riza 🙂
      Bisa jadi karena latar belakang Iris yang merasa tidak bahagia bersama ibundanya itu kemudian dijadikan alasan survei terhadap 116 anak perempuan. Kalau saya lihat, alasan ini bisa ia gunakan untuk mengamati & membandingkan seperti apa cara pandang anak perempuan terhadap ibundanya.

      Ya, untunglah kita diajari untuk mencintai ibu 3 kali lebih derajatnya ketimbang ayah. Itu bisa kita jadikan alasan untuk terus berbakti kepada beliau.

  2. baru berasa benar2 betapa jd ibu ga mudah stlh menjadi Ibu…gmn rasanya jika dgr suara anak naik sedikit sm kita, duhhh sediiih bgd. apalgi ketika anak dimintai tolong menolak pdhl cuma bilang “ahh..”
    itu gambaran mimi dulu thdp ibu mimi…dan skrg mimi rasakan, jadi percayalah…..apa yg kamu lakukan pasti akan kamu terima jg di masa datang…penyesalan tiada guna, hanya Alfatihah selalu buat ibunda

  3. Ibu itu pahlawan banget deh pokoknya, mau seperti apapun ibu pasti yang dia lakukan adalah yang terbaik untuk anaknya.. *itu ibu saya sih.. hehe

  4. ya ampun mbak.. buku itu juga buku yang kutaksir di toga mas *ops, maap nyebut merk.
    suka sama cover en judulnya..
    *tapi belon beli 🙁

    stlh baca tulisan mbak phie, jadi tau deh ttg isi bukunya ^^

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *