Solitaire dan Sendiri

Bicara tentang solitaire tentulah tidak akan lepas dari maknanya yang juga berarti sendiri. Mengacu pada nama sebuah permainan di komputer yang saya tahu zaman saya duduk di bangku SMA kelas dua; kala itu saya masih belajar seperti apa namanya mengoperasikan komputer. Saya pernah terbengong-bengong dengan sangat sukses memperhatikan teman sekelas saya meng-klak-klik si tetikus. Dengan lihai, ia memilah dan menata kartu remi. Kalau saja saat itu Tukul Arwana sudah ngetop, teman saya itu mungkin akan ikut-ikutan menyebut saya NDESO :mrgreen: Maklumlah di rumah belum ada fasilitas komputer seperti sekarang. Saya simpan segala rasa penasaran itu hingga pada akhirnya di awal tahun perkuliahan saya telah mampu memenangkan sebuah permainan bernama solitaire. Segitu senangnya ya? Hehehe..

solitaire.screenshot

Lama kelamaan permainan yang hanya butuh dikerjakan sendiri ini tak lagi membuat saya tertantang. Ya, karena di luar sana ada banyak hal yang bisa saya lakukan solitary alias sendiri. Salah satunya melakukan perjalanan antarkota. Mungkin tidak seorang pun akan percaya kalau saya katakan terakhir kali naik kereta adalah 21 tahun lalu ke Jakarta, saya sendiri heran :mrgreen:. Maka di penghujung 2011 lalu saya sempatkan melakukan dua reuni sekaligus, reuni 21 dan 13. 21 tahun dengan kereta api dan 13 tahun dengan kota Bandung. Mumpung saya diundang menikmati sejenak hari libur akhir tahun. Why not? Dengan bergaya backpacker, saya pun mengajak si Rei-Barito, ransel satu-satunya untuk melancong.

Mau tahu seperti apa perjalanan reuni ini? Langsung saja klik di sebelahnya tanda mringis. :mrgreen: 

Berangkat! Jumat malam, 30 Desember 2011 sekitar pk. 20.00, lepas pamit ibu saya pun   meninggalkan kaki Merapi ditemani Ezy lalu Bismillah, nggrung.. Saya sampai di stasiun Tugu pk. 21.30 waktu ponsel Nokia jadul. Sebenarnya tadi sudah belok ke belakang sana pas pk. 20.30 waktu jam belokan teteg sepur, eh ndak tahunya weeh, titipan motor ada di  belakang. Ya wis, mutar balik lah. Arus lalu lintas pusat kota malam itu benar-benar padat meski tak merayap. Saya bernyanyi kecil di balik mantel; sebuah lagu lawas, Juwita Malam, menemani 45 menit perjalanan turun gunung. Tanpa saya sadari seorang bapak-bapak yang sedang menggoncengkan anak dan ibunya menoleh ke arah saya.  Hm, entah sudah berapa lama.. Sepertinya mereka terganggu dengan gadis bermantel hijau fullmusic yang berkibaran. Bisa saja di mata mereka saya terlihat aneh (mirip scarecrow alias orang-orangan sawah kali ya :mrgreen:)

Masuk parkiran. Saya sudah bilang sama petugas jaga parkir kalau motor saya, si Ezy, akan nitip bobo di stasiun selama saya tinggal reuni. Rp15.000,00 pun keluar dari kocek. Begitu masuk, eh saya salah paham sama penjaga di dalam. Sudah pasti karena mantel hijau tadi. Iya sih, saya memang belum mengendorkan ikatan tali mantel. Ha-he-ha-he ga mudhengan jadinya, wealah..!

Masuk peron. Sebuah tanda saya baca tepat di atas lintasan kereta. Jakarta 512 km, Bandung 388 km, Surabaya 331 km. Ooh.. baru ngeh benar malam ini 😀

Masuk kereta.. tadinya nyaris nyasar ke Bisnis 1, padahal jatah saya Bisnis 2. Untung ada mas-mas se-Bisnis 2. Hmm, kalau dibuat judul postingan akan menjadi “Saved by Mas-mas” :mrgreen:.

Dalam perjalanan. Saya mulai mencatat, apapun yang saya pikir menarik. Contohnya? Sebelum mulai membacanya, pastikan pintu dan jendela ruangan dikunci; cek kembali posisi kran, pastikan tidak ada air yang menetes apalagi kran kendor; yakinkan kompor gas telah mati, jangan sampai ada panci gosong karena Anda terlalu asyik membaca catatan saya. Kalau sudah…

Mari disimak rame-rame 😀

21.36.29 Tahukah? Saat kereta berangkat. Bangku sebelah saya kosong, hm, si Juwita Malam ini.. tak menemani hehe.

21.39.09 Hmm, mungkin.. sebelah saya akan terisi di stasiun berikutnya. Who knows? ♫ Juwita malam, siapa gerangan, Tuan? ♫

22.03.56 Baru saja merapat lalu berangkat lagi dari stasiun Wates. Serombongan orang, sepertinya mereka sekeluarga, naik dari stasiun ini. Dari dialeknya saya tahu, mereka mungkin hendak pulang ke Bandung

22.30.12 Wah, berhenti lagi. Sekarang di Purwokerto ini. Setelah Wates nihil, bagaimana dengan Purwokerto ya? ♫ Juwita malam, dari manakah, Tuan.. ♫

23.12.09 Kereta berhenti lagi..di mana ini ya? Hmm, setelah Purwokerto pokoknya.

01.58.01 Berhenti di Kroya.. Pedagang asongan beraksi di tengah malam.

01.59.57 Baru saja meninggalkan Banjar. Habis Kroya trus Banjarnegara? ❓ Weh.. saya pikir ini tadi sudah masuk Jawa Barat. Kedengaran dari nada para penjaja asongannya.

02.55.52 Baru saja merapat di Tasikmalaya, lalu berangkat lagi.

05.43.06 Akhirnya tiba di Bandung pk. 05.30 tadi. Hehe bingung mau keluar, habis ngampet pipis dulu. Toilet, where are you? Celingak-celinguk nyari korban. Hayo, di mana toilet?

Apa yang terjadi (selanjutnya) di stasiun Bandung?

05.44.47 Menemukan, cieilee bahasanya :mrgreen:, seorang satpam stasiun. Masih muda tapi nekat saya panggil bapak. Hehe, langsung sergap!! “Pak, toiletnya sebelah mana yak?”

05.47.19 Yeeehaaa.. Here I am, (almost) lost in Bandung! Mana gitu toiletnya? Nah, setelah mengikuti direction-nya Mr Security finally I found you! Haha MLTR banget. Ngantri bentar, terus..aaah! :mrgreen:

05.50.43 Btw, ga bisa cuci muka.. sabunnya di ransel bagian bawah. Haha sudahlah, saya relakan muka belipet ga karuan 😛 Coba nanti, moga bisa huhu ngarep.com.

05.54.40 Beginilah, setelah mencoba menghubungi May dan Mbak Vira, hoho saya akan dijemput sekitar 1 jam 10 menit lagi (waktu stasiun Bandung). “Tunggu depan Hokben ya, Pi,” gitu kata mbakyu.

06.12.21 Terduduklah saya di peron. Melihat orang-orang hilir mudik, lokomotif langsir, juga juru angkut stasiun yang berlarian ke arah kereta. Hm, Maha Adilnya Allah membuka pintu rezeki hamba-Nya.

06.15.44 Ya, beginilah Bandung. Setelah reuni 21 semalam, sekarang reuni 13 dengan kota Kembang ini. Ya, 13 tahun lalu saya pernah studytour ke sini. Hm..pokoke temanya reuni 😀

***

Nah.. nah.. nah.. kisah reuni ini memang belum berakhir, tetapi setidaknya sepenggal kisah perjalanan reuni sembari mencari si Juwita Malam ini membuktikan bahwa kesendirian bagi saya pribadi tidak melulu berisi kegalauan, kerisauan, atau sampai labil segala. Oh NO! ❗

Sendiri bukan untuk diratapi; sendiri itu untuk disyukuri & dinikmati

Tulisan ini diikutkan pada perhelatan GIVEAWAY :  PRIBADI MANDIRI yang diselenggarakan oleh Imelda Coutrier danNicamperenique.

33 thoughts on “Solitaire dan Sendiri

    1. Terima kasih sudah mampir, Pak Tony.. Maaf ya tadi si aki ismet keliru tangkap, dikira spam.
      Jempol “perandaian” itu saya terima dengan senang hati, Pak :mrgreen:
      Terima kasih 😀

  1. Selalu solitaire,selalu sendiri itu tidak baik. Tidak semuanya bisa dilakukan sendiri. Ada saatnya sesuatu itu harus dilakukan bersama-sama orang lain. Dan percayalah, selalu bermain solitaire suatu saat kelak akan bosan. Sama dengan sendiri. Ada waktunya bosen dan pingin berdua.

    1. Tidak selalu koq, Pak Die 🙂
      Untuk sementara ini memang sendiri, saya juga mengerti suatu ketika saya harus bertemu dengan banyak orang & melakukan banyak hal bersama
      Terima kasih telah berkunjung ke SPP :mrgreen:

    1. hehehe.. ayo, Puch reunian naik kereta lagi 😀
      oleh-olehnya? udah habislah sejak awal tahun.. maap ya, dibagi sama beberapa saudara di rumah. tidak sempat didokumentasikan, Puch :mrgreen:

  2. wahhh perjalanannya seru yah wlo sendiri
    apalagi penantian pada si Juwita Malam itu hehehe
    saya pun klo naik kereta, dan di sebelah saya kosong, h2c ngarep di sebelah saya penumpang ganteng #lho?

    makasi sudah berpartisipasi yaaa, maaf jika saya terlambat berkunjung ke mari 🙂

    1. nah.. yang punya gawe mampir ke sini, makasih, Mbak Ni 🙂
      saya suka penasaran memang kalau di sebelah saya tidak ada penumpang lain, ga bisa ngobrol atau kenalan.. haaahhaa, ngarep :mrgreen:

      sami-sami, Mbak. senang bisa berpartisipasi di event ini. semoga penjuriannya juga lancar. aamiin 🙂

    1. terima kasih sudah mampir, Fajar.. salam kenal 🙂 memang seru seperti itu, sendiri harus dinikmati.. kebersamaan juga tidak kalah indahnya. bukan harus diratapi menurut saya.
      aamiin.. makasih doanya 😀

    1. mangga, Pak.. dibuat konsep acara reuninya. kalau saya sendiri, reuni tidak harus yang wah.., yang sederhana sering kali lebih mengena 😀

  3. Wow, wonderful blog layout! How long have you been blogging for? you make blogging look easy. The overall look of your web site is fantastic, as well as the content!. Thanks For Your article about Solitaire dan Sendiri Segores Pena Phie .

  4. Wow, fantastic blog layout! How long have you been blogging for? you made blogging look easy. The overall look of your web site is great, let alone the content!. Thanks For Your article about Solitaire dan Sendiri Segores Pena Phie .

  5. Wow, fantastic blog layout! How long have you been blogging for? you make blogging look easy. The overall look of your website is magnificent, let alone the content!. Thanks For Your article about Solitaire dan Sendiri Segores Pena Phie .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *