Kamis siang, 16 Februari 2012.
Usai berkeliling di seputaran kampus Biologi dan MIPA bersama mbakyu Susi, kami berpisah di depan Fakultas Kehutanan. Hm, karena mbak Susi sedang shaum, ia kembali ke lab menjenguk “anak-anak”nya (baca: Helopeltis junior, Helopeltis = kepik pengisap buah kakao, red.), sementara saya? Alarm siang telah bergemerincing dari dalam lambung. Ya, saya lapar.. sangat lapar usai mengitari kampus sayap barat. Hari itu saya nekat berjalan kaki dari Fakultas Pertanian menuju ke Biologi. Si Ezy masuk bengkel dan motor yang saya bawa ke kampus itu otomatis tidak memiliki KIK (Kartu Identitas Kendaraan, red.). Malas ah mau membawanya pergi lebih jauh. Tanpa KIK menjelajah kampus sekarang ini jadi boros kertas. Itu dia, karcis keluar masuk portal bisa sampai 3-5 lembar. Alamaak..!! 😥 Biar saja, sudah untung saya mendapat pinjaman motor dari tetangga, Alhamdulillah.
Rencananya siang itu saya akan menyantap menu Warung Lestari, eh.. lha koq setelah menyeberang Jl. Agro saya berubah pikiran. Badan masih saja meriang padahal saya sudah dikeroki ibu malam sebelumnya. Hmm.. batuk saya menggila.. Oh, betapa enaknya bisa makan yang hangat-hangat. Belum lagi langit mendung, seolah mendukung saya berbelok dan masuk ke sebuah warung, Warung Bakso Pak Ateng. Ya, saya punya menu favorit di sana, soto daging sapi dan segelas air jeruk hangat. Setiap kali menikmati menu itu, saya merasa lebih sehat. Halah, padu-nya mau perbaikan gizi!
Lupakan soal perbaikan gizi, badan saya memang mungil begini meski porsi makan saya kadang seperti kuli. 😳
Setelah berjalan beberapa puluh meter menyusuri Jl. Flora, saya pun bergegas. Butiran air tiba-tiba saja semakin banyak terjatuh dari langit. Wah, jangan sampai saya ketumpahan hujan.. Jadilah, bak gadis sprinter saya mengambil langkah seribu menyeberangi Jl. Agro menuju warung Pak Ateng. Hoplaa..!! Setelah sampai di teras warung segera saya memesan menu favorit tadi. Sementara saya mengatur nafas dan memilih tempat duduk, hujan di luar sana menderas seketika. Pfiuuhh.., Alhamdulillah sudah sampai di sini, lucky I am.
Ya, sembari menikmati suasana yang… hmm, hujan selalu membuat saya terbuai #whuuuaaaahaa bahasanya
Pokoknya kalau hujan datang, perut sedang keroncongan, dan di hadapan mata terhidang menu hangat itu kan.. surga dunia! #nah, kambuh lebaynya 😛
***
Saya duduk di sebelah seorang gadis. Kulitnya putih, matanya sipit. Jelas bukan satu ras dengan saya, jelas! Bisa dilihat dari warna kulit saya yang eksotis ini hihihi. 😆 Lho koq jadi SARA? ❓ Saya mengerlingnya sejenak, masih asyik menikmati mie ayamnya. Oke, saya pun dengan asyik menikmati semangkuk soto daging nan hangat. Suap demi suap masuk ke mulut, beginilah menikmati soto dalam kesendirian. Nikmat!

Sayangnya hingga soto dan air jeruk hangat saya habis, hujan sama sekali belum mau reda. Bukan salah siapa-siapa. Hanya saja itu tentu menunda pekerjaan saya. Saya sama sekali tidak membawa payung. Serupa dengan gadis di sebelah kiri saya. Beberapa kali saya menengok ke arah jendela, belum juga reda. Hm, membuat saya beberapa kali menghela nafas panjang. 😐 Saya lirik dia yang sedari tadi sepertinya juga menanti hujan mereda. Eh, pas sekali dia menoleh. Saya lemparkan sebuah senyuman, ia balas tersenyum. Lalu terbukalah sebuah pembicaraan ringan,
“Sedang menunggu hujan ya?” tanya saya sok kenal.
Gadis itu terlihat sedikit linglung, lalu.. “I am sorry, tidak terlalu bisa bahasa Indonesia”
Jawabnya dengan dialek asing sambil tersenyum. Seperti dugaan saya, orang ini dari negara di Asia timur.
“Oh, I am sorry..” balas saya. “So, where do you come from?”
“Japan, Nagoya..” jawabnya.
“Ok.. Palupi.” Saya mengulurkan tangan kanan sambil nyenhir lebar seperti biasa 
“Aki..” balasnya menyambut uluran tangan saya, kami berjabat tangan.
“Palupi..” dia masih mengulang-ulang nama saya. Mungkin bagi lidahnya sedikit sulit melafalkan nama itu.
Dan begitulah.. kami ngobrol dengan keterbatasan bahasa. Hehe I’m not really fluent in English seperti halnya Aki tidak begitu lancar berbahasa Indonesia. Ngobrolnya jadi campur-campur, kadang in english lalu disambung dengan bahasa Indonesia. Jadi siapa sebenarnya gadis yang saya curi fotonya ini? Namanya Aki, seorang mahasiswi Nagoya University, Jepang yang sedang menjalani student exchange program selama satu tahun di Fakultas Ekonomi UGM. Saat kami berjumpa itu ia katakan adalah bulan keempat ia berada di Indonesia. Siang itu saya pikir Aki hanya berjalan kaki, mengapa senasib dengan saya, harus menanti hujan reda? Katanya, ia mengendarai motor dan tentu saja dengan bekal mantelnya, tapi…
“I’m afraid riding my motorcycle under the heavy rain.”
Me too…, saya saja yang kadang nekat, bakal menyingkir dari hujan deras berangin seperti siang itu. Ooh, I see!
Setelah hujan reda, kami pun segera membayar lalu berpisah. Di depan meja kasir, ia masih saja tersenyum pada saya sembari berkata,
“Terima kasih.. hati-hati..”
“Hati-hati.. Sampai jumpa, Aki!”
Demikianlah.. Satu jam terperangkap bersama Aki, si gadis Jepang. Maaf ya, Aki.. saya mencuri fotomu
Tenang, tidak ada maksud lebih selain membuat postingan ini lebih bernyawa koq. Pizzz aah! 😀
waaah, senangnya ya dapat temen baru,, dari negara yang berbeda pulaa
lebih tepatnya kenalan, Mel
semoga kapan-kapan bisa ketemu dengan Aki lagi *wish*
Tuh, kan. Hujan selalu membawa berkah. Buktinya bisa ketemu dan kenalan sama mahasiswi Jepang.
itulah mengapa saya suka (memandangi) hujan, Pak Alam.
kalau hujan-hujanan.. hehe nanti dulu ah