Rembang, Menelusur Jejak Kartini

Kalau ada yang bertanya, “Siapa yang belum kenal dengan Rembang?”, sebelum empat tahun lalu, saya termasuk orang yang harus mengacungkan jari. Saya mengakui bahwa saya belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di sana. Padahal sudah sejak lama saya berkeinginan singgah di kota ini. Semenjak menemukan sebuah buku yang terselip di salah satu rak di toko buku yang saya celotehkan di sini, ada keinginan kuat untuk bisa ke sana, meski entah kapan.. Akhirnya, Mei 2008, saya berkesempatan mewujudkan impian tersebut; menghabiskan akhir pekan di kota ini berkat bantuan seorang adik angkatan, Maylia namanya. Ia pribumi kota Rembang yang merantau ke Jogja untuk melanjutkan studi S1. Keinginan saya tentu bukan tanpa alasan. Sederhana saja. Kekaguman saya mendorong hati untuk menemui sosok ibunda perempuan Indonesia yang dikupas dalam buku tersebut; yang jasadnya disemayamkan di bumi Rembang. Ya, beliaulah Raden Ajeng Kartini, salah seorang tokoh perintis gerakan emansipasi di Indonesia.

Sebelum saya kupas obyek jalan-jalan ini, saya perlu tahu seperti apakah Rembang itu. Tentu, Google pun menjawabnya untuk saya melalui wikipedia.

Kabupaten Rembang terletak di ujung timur laut Propinsi Jawa Tengah dan dilalui jalan Pantai Utara Jawa (Jalur Pantura), terletak pada garis koordinat 111000′ – 111030′ Bujur Timur dan 6030′ – 706′ Lintang Selatan. Laut Jawa terletak di sebelah utaranya, secara umum kondisi tanahnya berdataran rendah dengan ketinggian wilayah maksimum kurang lebih 70 meter di atas permukaan air laut. Adapun batas- batasnya antara lain:

sebelah utara: Laut Jawa, sebelah timur: Kabupaten Tuban, Propinsi Jawa Timur, sebelah selatan: Kabupaten Blora, sebelah barat: Kabupaten Pati.

Kabupaten Rembang berbatasan langsung dengan provinsi Jawa Timur, sehingga menjadi gerbang sebelah timur Provinsi Jawa Tengah.

 ***

Nah, kini saatnya saya membuka kembali catatan perjalanan yang tertuang di buku harian ke-22.

Ahad, 18 Mei 2008. Perjalanan kami hari itu dimulai dari rumah May di Jl. Pemuda No. 73B Rembang. Kami berangkat bertiga. May, Agus, dan saya. May dan saya berboncengan, sementara Agus ceritanya menjadi bodyguard kami. Jelang siang itu dari kota Rembang kami menempuh perjalanan ke Bulu menggunakan dua sepeda motor. Sebagai gambaran lokasi, saya sertakan screenshot dari Google map berikut.

Rembang-Bulu

Lalu arah yang kami ambil kala itu? Karena terbatasnya alat pendokumentasi, berikut ini kiranya bisa menggambarkan seperti apa perjalanan yang kami tempuh kala itu.

petunjuk arah Rembang-Bulupetunjuk arah Rembang-Bulu

Berdasarkan informasi dari website resmi Kabupaten Rembang. Makam RA Kartini terletak 17,5 km ke arah selatan kota Rembang. Jadi kami berkendara melalui jalan utama menuju ke kabupaten Blora. Kondisi jalan sepanjang kec. Rembang hingga kec. Sulang cukup mendatar. Begitu masuk wilayah kec. Bulu, jalanan mulai naik-turun. Meski tak sebegitu curam, cukuplah memompa adrenalin saya. Maklum, bu sopirnya ngebut kencang. 😀

Setelah menempuh perjalanan sekitar hampir 2 jam (itu karena kami mampir sejenak di Rawa Sambongan, Sulang), kami pun tiba di kompleks makam RA Kartini, tepatnya di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Kabupaten Rembang ± pk. 11.55. Terpesona semenjak kesan pertama, sejuk dan tenteram. Sepoi angin membelai. Yang tampak di sekeliling adalah pepohonan hijau menjulang seperti halnya sebuah pohon beringin yang menaungi sepeda motor kami.

beringin besar yang menaungi motor kami
beringin besar yang menaungi motor kami

Karena sudah masuk waktu sholat Dzuhur, sebelum menjelajah kami singgah di mushola untuk berjamaah. Sayangnya saya sedang mendapat masa dispensasi jadi tidak bisa masuk ke dalam ruang sholat 😥 Ya setidaknya saya bisa menikmati segarnya air desa Bulu.. Alhamdulillah, segar sekali usai mencuci muka. Lepas sholat, melepas lelah, dan menikmati bekal sekadarnya, kami pun berkeliling.

***

kompleks makam Kartini
kompleks makam Kartini
berpose di bawah plang makam
berpose di bawah plang makam

Makam RA Kartini berada di sebelah belakang mushola di dalam sebuah bangunan joglo beratap limasan. Mau saya bisa masuk dan mengirimkan doa tepat di depan makam ibunda, tetapi karena masa dispensasi itulah..akhirnya saya hanya bisa melihat makam beliau dari pintu yang dibuka. Hm, setidaknya hati, langkah, dan niat saya sudah berada di depan pintu. Semoga doa yang terlantun walau lirih itu sampai kepada ibunda. Aamiin..

Selain jasad Kartini, di sini dimakamkan pula suami (RMAA Djojodiningrat) dan putra tunggal beliau (RM Soesalit). Luas total kompleks makam ini ± 10 ha. Fasilitas yang ada meliputi: areal parkir yang luas, mushola, bumi perkemahan, tempat peristirahatan, dan warung cinderamata. Menurut informasi dari website, tempat ini buka setiap hari pk. 07.00 – 16.00 WIB dan setiap bulan April dikunjungi ribuan pengunjung dari berbagai daerah untuk berziarah. Ternyata informasi inilah yang menguatkan obrolan saya dengan seorang pedagang cinderamata kala itu.

“Pengunjung hari biasa tidak seramai bulan April, Mbak.”

Sama seperti yang saya jumpai. Suasana lengang. Di pendapa beberapa orang peziarah memang terlihat, tapi itu pun tidak lama. Obrolan kami berlanjut saat May mulai bergabung dan menanyakan tentang liontin Kartini. Ya, sebelum kami berangkat ke Rembang, May pernah bercerita tentang souvenir khas yang pernah dibelikan oleh orang tuanya. Masih adakah?

“Udah lama ga buat, Mbak.. tapi sebentar saya carikan dulu..” kata ibu penjual

“Please.. satu saja buat saya,” dalam hati saya mulai berharap-harap cemas.

Sambil menunggu kami bercanda di depan dagangan beliau. Rata-rata peralatan rumah tangga seperti centong, irus, sothil, dan juga benda tajam (baca: pisau beraneka ukuran)! Pisau dari desa Bulu memang terkenal ketajamannya. Namun, rasa-rasanya akan sangat berbahaya bagi saya jika membawa pulang pisau. Bisa-bisa belum sampai di jogja sudah disita polisi. :mrgreen:

Beberapa menit kemudian, muncullah si ibu dengan membawa 5 buah liontin monel. Hanya itu yang tersisa. Tinggal dua bentuk, bulat dan segiempat. Kami memilih-memilah. Yang dipegang May paling cantik, yang lain pahatannya sudah buram.. mungkin karena saking lamanya. Ya, sudah, karena itu yang tersisa maka saya ulurkan selembar uang lima ribuan kepada si penjual sesuai permintaannya.

liontin kartini
liontin kartini

Selesai sudah acara ziarah di makam Kartini. Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan menuju hutan Mantingan. Masih ada beberapa tempat lain yang kami kunjungi dalam kisah penelusuran jejak Kartini ini. Namun, akan terlalu panjang jika saya tulis semua di sini. Dokumentasi lain dapat dilihat di slideshow foto. Oya, sekadar info. Berdasar hasil wawancara via SMS dengan May, lokasi kompleks makam Kartini dari kota Rembang dapat dijangkau pula dengan menggunakan angkutan umum. Bila kita bertandang ke Rembang melalui jalur pantura, kita bisa turun di alun-alun kota Rembang kemudian naik minibus jurusan Tayu, turun Taman Kartini atau Pasar Pentungan. Dari kedua tempat ini naik bus jurusan Blora.

[slideshow]

Sumber:

http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Rembang

http://rembangkab.go.id/potensipotensi-daerah/pariwisata

Tulisan ini diikutsertakan dalam acara

Giveaway Pertama di Kisahku (Bunda Monda)

banner.kisahku

37 thoughts on “Rembang, Menelusur Jejak Kartini

    1. ya, begitulah.. tidak terasa 4 tahun telah lewat, Masbro. kangen juga bisa ke sana lagi.

      terima kasih, sukses juga untuk Masbro 🙂

    1. Naah.. Pak Mars jadi teringat pada keluarga juga. saya kan jadi senang *lhoo ❓

      Jadi ingat, saudara saya yang di Pati, Pak 😀

  1. wah,,aku pengen kesana..
    jalannya lewat sawah2 gitu, keren..
    sepanjang jalan liat ijo ijo..
    hehehhe
    sukses buat kontesnya, semoga menang… 🙂

    1. Hehe memang ijo, Han.. banyak sapi juga :mrgreen: Kapan-kapan ngajak Masbro tuh yang pernah ke Rembang.

      Aamiin. Makasih doanya, sukses juga untuk Hanna 😀

    1. Wah, lhaa sebagai pribumi Jogja saya mengakui bahwa Pak Alam tentu lebih menguasai medan. Lha kan Pati satu plat dengan Rembang ya hehe 😀

      Hm, jadi pengen kemah juga di sana, kapan ya?

  2. postingan yang sangat menarik 🙂
    sangat bermanfaat.. ^_^
    keep posting yaa..

    ingin barang bekas lebih bermanfaat ?
    kunjungi website kami, dan mari kita beramal bersama.. 🙂

  3. Akhirnya mb jup, sudah kutunggu lamaaaaaaa sekali tulisan ini, 😀

    Kalau pengen maen lagi, hayuk atuh diatur aja waktunya, ntar jadi guide lagi deh, ntar jadi ojek yg ngebut lagi biar tambah seru, hehehe bercanda.

    Makasih ya mbak dah meluangkan waktunya untuk maen ke rumahku dan ke kota kelahiranku, 😀

    Untuk kontesnya, moga menang 😀

    Ganbatte ne. Nee-san (‘o’)/

    1. Ehehehe si empunya Rembang datang :mrgreen:
      Makasih banyak bantuannya ya, May. Untung dapat moment yang tepat, jadilah terbayar semua itu hutang-hutang hihihi.

      Thanks, sukses juga untuk May 😀

    1. Hai, Gie salam kenal 🙂
      RA KArtini berasal dari Jepara, tetapi beliau menikah dengan bupati Rembang dan dimakamkan di Rembang.

    1. hihihi.. ah, Kang Lozz ini kaya ndak tahu waktu istimewanya perempuan 😳
      liontinnya cuma satu je, ehemm.. mau dikasih sama mbakyu Marpuah ya? 😛

    1. Oh, coba sekali-sekali bertandang ke pantura bagian timur, Pak Narno.
      Tentunya akan ada pengalaman baru yang bisa dituliskan 🙂
      Salam kenal 😀

  4. This site is actually fascinating i’m searching for is there the other examples? but anyway many thanks greatly as a result of I found that i was searching for.

  5. Wonderful writeup post on the web page man, I actually like the appearance and also the feel of this kind of website. You write certainly well, you have got to be a knowledgable guy. Will most certainly come back

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *