Dear Na,
Di status FeMale Circle kemarin kubaca tentang yang akan terjadi hari ini. Bukan. Ini bukan ramalan, Na. Ini tentang sesuatu hal yang hampir dua setengah tahun lalu membuatku merisaukanmu. Lihatlah, aku sedang memandangi pigura hijau bergambar kodok hadiahmu dan Meir. Membuka lembar-lembar catatan harianku yang ke-23, dan menemukan engkau di sana. Masih ingatkah kala kau hendak bertolak ke Negeri Sakura? Ingatkah tentang apa yang terjadi di laboratorium tempat kita menjalani riset dulu?
Sore itu, Jumat, 4 September 2009. Ramadhan terakhir kita di Jogja. Seperti tahun-tahun sebelumnya selalu ada kehangatan berbuka puasa yang kita reguk bersama sebagai sesama penghuni laboratorium Entomologi Dasar. Adalah engkau, Na seorang gadis ragil yang tangguh. Kau yang tepat di pertengahan masa studi terpaksa vakum karena sakit. Kata mereka kau terkena cedera tulang punggung. Setelah engkau berangsur sembuh pun, kau harus berlelah-lelah menyusuri jalur Jogja-Magelang. Itu belum seberapa. Hebat, kuacungi kau dua jempol oleh karena perjuanganmu menerobos birokrasi negara kita demi mendapatkan VISA belajar ke sana. Fiskal dan NPWP, ya berada di antara dua hal itu yang sepertinya membuatmu pusing dan mengalami kejadian di siang itu. Tanpa memiliki NPWP berarti harus membayar fiskal 2,5 juta! Wow! Sungguh, aku tak pernah menyangka. But, you don’t have to worry about it, that’s God’s way to say, “I love you.”
***
Aku sempat melihatmu datang pagi hari itu, sekitar pk. 09.30. Hanya say hello, lalu kau terburu masuk ke ruang dosen. Kulanjutkan pekerjaanku kala itu tanpa ambil pusing apa pun tentang keadaanmu. Ya, artikel pertama tentang rice weevil harus segera kuselesaikan. Entah 30 menit atau 45 menit kemudian kulihat kau meninggalkan lab, mau ketemu ketua jurusan begitu katamu. Ah, dasar gadis Sagitarius.. kau tetap bersemangat! Aku suka melihat gayamu begitu, meski pucat tetap saja meneduhi raut wajahmu setelah sakit. Menjelang sholat Jumat kau kembali menemuiku. Dengan napas tersengal setengah memburu kau duduk di kursi praktikum sembari.. entah memikirkan apa. Siang itu sebenarnya kau tidak berpuasakan? Tapi kenapa diajak keluar makan tidak mau? Ada Nun juga di lab. Sepertinya ia memang sedang tidak ingin makan siang. Jadilah kita bertiga di lab, menunggu lab sementara para dosen dan asistennya sholat Jumat. Sampai turun sholat, ah.. giliran aku yang sholat. Semua berjalan normal sampai saat itu. Sekitar pk. 14.00.. ketika kau tiba-tiba mengatakan,
“Aduh.., kok aku deg-degan ya?!”
“Ya iyalah, namanya juga orang hidup deg-degan..” komentarku asal,
disambung oleh Nun, ”Iya kan bernapas ta, Mbak..”
Tak kami sangka, sungguh! Raut wajahmu sedang tidak bercanda.
“Aduh.. aku kok mumet (baca: pusing) ya?!”
Kedua tanganmu memegangi kepala, mendadak berdiri dari kursi tanpa mengindahkan saran Nun untuk tetap duduk tenang. Na, kau aneh.. aneh sekali siang itu. Aku yang penasaran mengerlingmu lalu mengubah posisi dudukku sekadar memperhatikan apa yang terjadi padamu. Na, belum pernah sekalipun kutemui engkau seperti itu. Lalu mulailah engkau MENGGIGIL.
“Hei! Na, jelas-jelas kau tidak demam.. katakan padaku apa yang terjadi padamu..,” batinku.
Karena tersergap rasa khawatir (hampir) panik, aku bergegas menghampirimu; meninggalkan Nun tetap di kursinya, memandangi layar komputer. Kupanggil-panggil namamu. Tak menyahut.. tapi jelas kulihat kau merenggangkan jemari tangan yang sedari tadi menutupi wajahmu. Astaghfirullaah.., ada apa denganmu? Hendak kupegangi engkau, tapi mengapa pandangan matamu tak tertuju padaku.
“Gusti Allah, apa yang terjadi pada Na? Istighfar, Na..!”
Sungguh, untuk sekian kalinya aku terperanjat melihat wajahmu perot dan tanganmu melengkung kaku. Langsung kuangsurkan kedua lenganku menahanmu agar tak sampai jatuh. Kau kejang..
“Astaghfirullaahaladhiim.. Na, Na..” Aku berteriak sekuat mungkin meminta pertolongan.
Nun yang panik pun memanggil para penghuni lab yang sedari akhir sholat Jumat berada di ruang lain. Aku tak mungkin membiarkanmu jatuh terkapar dalam keadaan kejang seperti itu. Kupasang lenganku kuat-kuat meski itu berat. Na, ada apa denganmu? Lama-kelamaan badanmu pun melemas, hilang kesadaran. Kuminta Nun membawakan tikar yang sedianya akan digelar untuk acara buka bersama. Aku tersungkur menahan badanmu. Dengan pertolongan mereka, kami pun berhasil menggotongmu ke atas tikar.
Pucat pasi, bibir merahmu tidak lagi seperti sebelumnya. Ada suara-suara asing yang kian bermunculan dari dalam saluran tenggorokan. Aku sukses panik, lalu berpikir yang tidak-tidak. Maafkan aku, Na.
Kukendorkan segala penghalang napas, kulonggarkan pakaianmu. Seseorang datang dan menyalahartikan kondisimu. Ia pikir kau kerasukan. Ah, masa iya? Maka sembari mengurai benang kusut dalam pikiranku sendiri, berulang kulafadzkan
“A’uudzubikalimatillaahittaammati minsyarri ma khalaq..”
“Rabb, tolong hindarkan Na dari segala hal buruk..” batinku mengiba.
Syukurlah setelah minyak kayu putih dibalurkan, upaya dikerahkan; kau pun siuman. Raut wajahmu yang sedari tadi pucat berangsur lebih merah. Syukur Alhamdulillah, lega sekali melihatmu, Na.
Satu hal yang setelahnya menjadi sedikit beban di benakku adalah.. apa kau tahu kalau keadaanmu seperti itu? Bagaimana kau akan menghadapi keadaan di luar sana? Kondisi yang tentunya akan sangat berbeda dengan Indonesia. Tidak. Bukan maksudku menghalangi niat studimu, tapi andai tidak ada masalah yang bisa dikhawatirkan saat melepasmu pergi dari sisi, itu tentu akan jauh lebih baik.
Engkau, aku, dan yang lain sudah merasa seperti bagian tak terpisahkan sebagai HPTers muda. Sulit mudah sama ditanggung. Kalau pun memang kau perlu pertimbangan kami, kami ada. Itulah mengapa kuhubungi mereka, teman karib kita untuk membuat pertemuan kecil. Na, maafkan aku.. aku hanya tak ingin sesuatu terjadi dengan rencana keberangkatanmu. Satu hal yang kami putuskan kala itu adalah melimpahkan segala putusan kepadamu. Dosen harus tahu tentang keistimewaanmu, terutama agar beliau tidak disalahkan di kemudian hari karena kau sama sekali tidak mengakui keadaanmu. Professor di sanapun juga harus tahu. Bukankah menyediakan payung sebelum hujan itu baik? Kami ingin melepasmu dengan rasa ikhlas. Seperti membiarkan mentari mencintai bumi dan alam semesta. Jiwa dan semangatmu itu adalah cahaya kami. Maka alangkah bahagianya kita semua saat kau bisa meraih impianmu tanpa ada sedikitpun keraguan. We do really hope so, dear Na.
***
29 September 2009. Inilah kabar bahagianya, Na. Kau mau mendengar. Kau mendengarkan kami, menghargai kerisauan kami. Terima kasih. Pada akhirnya kau berangkat mengusung bertumpuk impianmu ke sana, Negeri Matahari Terbit. Ya, kami semua berbahagia untukmu, untuk Na gadis mungil bersahaja dengan impian sangat besar.
Dua tahun berjalan. Kau baik-baik saja di sana. Bahkan beberapa kali selama masa studi kau sempatkan pulang. Menemuiku (yang masih saja asyik) di kampus. Menghadiahiku dengan kisah, dengan tanda mata sederhana, obrolan panjang selama makan siang, juga koin-koin cantik dari Jepang, dan yang terbesar tentunya kabar kelulusanmu menjadi master. Selamat untukmu, Na.. Kau memberiku sebuah lagi pertanda kasih sayang-Nya kepada kita semua. Man jadda wa jada, itulah keniscayaan yang terjadi pada yang mau bersungguh-sungguh berusaha dan oleh karenanya aku berbahagia untukmu, dear Na.
Jogja, 26 Maret 2012
My best regards on a Purple Day for you dear Na,
Phie
-ditulis dalam rangka Purple Day 2012 (peringatan Hari Peduli Epilepsi Sedunia, 26 Maret 2012)-
so inspiring. bahkan epilepsi pun tak berhak menghalangi seorang anak manusia yang bersungguh-sungguh mewujudkan mimpinya.
man jadda wajada. jalanNya selalu terbuka untuk mereka yang mau berusaha.
begitulah, Pak Rizal.. kita toh tidak dapat menolak dikasih “keistimewaan” apa pun karena itu hak Allah. yang penting tetap berusaha, kelak Allah yang tentukan hasilnya 🙂
Na, sekarang masih di Jepang ya mbak?
kapan saya nyusul ya? *mikir 😀
masih di Jepun. kemarin bilangnya, rencana mau lanjut program doktoral malahan. salut pokoke sama Na.
hayoo, kapan Puch nyusul nih? 😀
waaah…, malu neh bila tidak semangat; makasih banyak ya, Mbak, inspiratif bangeeeeet….
mari, Pak Akhmad.. kita harus selalu semangat! 😀
Salut banget untuk Na. Sebuah tekad dan semangat dalam menggapai mimpi yang tak pernah padam.
inggih, Pak Alam.. saya belajar dari Na. dia memang incredible hihihi 😀
Rasanya jadi gak mau kalah…
siip deh, Zart