Bu Piko. Semoga saya tak keliru mengingat nama sesosok perempuan yang menyambut saya dan kedua teman saya (Mbak Vira dan May) saat singgah di stand pameran pasar seni Sekaten awal Februari 2011 lalu. Awalnya iseng saja, lama-lama tertarik juga. Dari perbincangan kami sembari menunggu hujan yang mengguyur kawasan Jogja nol kilometer mereda, ada banyak sekali wawasan yang kami terima dari beliau. Salah satunya tentang Jari Polah. Jari Polah? Hm, saya sendiri awam dengan istilah itu. Apa ya?
Beliau pun menerangkan bahwa Jari Polah, akronim dari Jejaring Pengolahan Sampah, merupakan jejaring yang mengikat antar kelompok masyarakat yang mempunyai satu visi kebersamaan untuk mengolah sampah di Kota Yogyakarta. Secara filosofis, Jari Polah diartikan sebagai tangan-tangan yang bergerak aktif penuh kreativitas sehingga menghasilkan sesuatu yang bermanfaat dalam upaya penyelamatan lingkungan hidup. Hm, itu bisa dilihat dari banyaknya olahan sampah non organik, terutama plastik, yang kami lihat kala itu. Mulai dari celemek, berbagai jenis tas, dompet, tempat tisu, wadah koran/majalah, hingga topi dan gaun cantik yang terpajang sangat manis di sebuah manekin. Keren!

Lebih lanjut lagi, saya akhirnya tahu bahwa Jari Polah dibentuk tanggal 3 Mei 2009 dan diresmikan di Balaikota Yogyakarta pada tanggal 8 Juni 2009. Hingga saat ini Jari Polah berada di bawah naungan Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Yogyakarta dan beranggotakan 647 rukun warga se-kota Yogyakarta. Sampai saya bertemu dengan Bu Piko untuk kali kedua saat pameran di Museum Benteng Vredeburg, Jari Polah masih diketuai oleh Bapak Kirtijadi. Siapa lagi beliau? Beliau ada di foto di atas 🙂 Kami bertemu beliau kala itu karena bantuan Bu Piko juga. Sepertinya Bu Piko sedikit kewalahan dengan pertanyaan bernada penasaran kami tentang pengolahan sampah yang dilakukan oleh BLH Kota Yogya. Itulah mengapa, kami bertiga dipertemukan dengan ketua Jari Polah, Pak Kirtijadi.
Sesampainya kami di stand BLH.. Wow, serta merta mulut saya (nyaris) melongo melihat barang-barang kerajinan yang dipajang. Kesemuanya dihasilkan oleh tangan kreatif perempuan Jari Polah, hampir rata-rata ibu rumah tangga. Salut!

Selain informasi tentang produk olahan sampah plastik, Pak Kirtijadi juga menjelaskan tentang beberapa usaha pembuatan kompos, bisa basah bisa juga kering. Ada yang nantinya menjadi cairan, tetapi ada juga yang hasilnya serupa remah-remah berwarna kehitaman. Kata Pak Kirtijadi keduanya bisa dijadikan starter pengomposan. Saya jadi pengen
Sebagai pribumi Yogyakarta, saya merasa harus lebih bersemangat lagi. Usia saya jauh lebih muda ketimbang Pak Kirtijadi ataupun Bu Piko, masakan kalah semangat memberikan sumbangsih untuk tempat kelahiran? Bu Piko dan perempuan Jari Polah lain saja bisa berkontribusi untuk lingkungan sekitar, mengapa saya tidak?
Tulisan ini diikutsertakan dalam event #BloggerKartinian yang diselenggarakan oleh Mbak Anny
Semoga semakin banyak Ibu Piko di setiap daerah hingga bisa mengelola sampah menjadi benda bernilai.
Inspiratif mba 🙂
Terima kasih atas partisipasinya ya 😀
Aamiin, Mba Anny.. kita perlu perempuan semacam beliau
yang mau peduli dan memberi inspirasi.
Kembali kasih, Mba.. senang sudah bergabung 🙂
mengolah sampah jadi berkah? salutsalut….
salam kriuk, lama tak jumpa
salam hangat dari kaki Merapi ya, iya lama ga jumpa 🙂