Menjadi Sulung Itu…

Menjadi sulung? Ya, sulung.. istilah lain anak pertama, bukan dan tidak pernah menjadi permintaan tiap bayi yang lahir ke muka bumi. Kita tidak bisa memilih dari keluarga mana, orang tua macam apa, dan urutan kelahiran yang mana kita dilahirkan. Namun, ketika semua itu terlakoni.. apa yang terjadi kemudian?

Salah satunya saya. Terlahir sebagai seorang anak pertama dari tiga bersaudara yang hidup dalam sebuah keluarga sederhana cukup membuat saya diprioritaskan. Namun demikian, lain waktu posisi ini  (kadang-kadang) juga tak kalah membuat saya kerepotan.

Diprioritaskan, seperti ketika saya harus masuk sekolah lebih dulu. Orang tua mana yang tidak memikirkan biaya sekolah bagi anak pertamanya? Semacam itulah, karena saya hadir lebih dulu, ibu dan bapak cenderung memberikan perhatian lebih. Sebaliknya, posisi ini akan menuntut ekstra kesabaran, manakala ibu melahirkan adik-adik saya. Itu berarti saya harus berbagi perhatian orang tua dengan mereka. Bukan tidak mau, pada awalnya tetap ada rasa cemburu karena saya bukan lagi satu-satunya pusat perhatian dan tempat curahan kasih sayang ibu dan bapak.

Lambat laun, seiring bertambahnya usia dan kedewasaan, saya pun mengerti ini adalah soal posisi.. dan posisi sebagai anak pertama itu berisiko tinggi. Mengapa begitu? Konon, anak pertama memikul tanggung jawab paling besar. Saya merasakannya benar. Semisal menjadi pelindung dan penjaga bagi adik-adik saat kedua orang tua saya berada jauh dari kami. Seperti saat ibu dan bapak harus menghadiri acara kantor dan beliau berdua terpaksa pulang malam. Maklumlah, rumah kami di pinggiran kota Jogja dan setidaknya perlu waktu satu jam perjalanan pergi-pulang ke kantor bapak. Pada awalnya semua itu merepotkan bagi saya. Namun, lagi-lagi ini hanya soal waktu. Setelah beberapa kali diberi tanggung jawab lebih, saya pun belajar mengerti seperti inilah rasanya menjadi anak pertama. Istimewa bagi saya.., dan mungkin bagi anak-anak sulung lain.

Dengan menjadi anak pertama, saya belajar menjadi pemimpin, penjaga, dan pelindung yang baik untuk kedua adik saya; belajar lebih bertanggung jawab untuk sebuah konsekuensi karena saya diprioritaskan. Manfaatnya terasa hingga saat ini, ketika pekerjaan di redaksi jurnal menuntut saya menjadi koordinator pelaksana harian. Sekalipun demikian, menurut saya tiap posisi kelahiran menduduki fungsinya. Itu terasa sekali, terutama ketika kami kehilangan bapak untuk selamanya. Ibu, saya (si sulung), Ning (si tengah), dan Di (si bungsu); kami semua berusaha saling menopang agar keluarga kami tetap utuh, tetap menjadi tempat ternyaman untuk pulang.

“Tulisan ini diikutsertakan pada Hajatan Anak Pertama yang diadakan oleh Sulung Lahitani

0 thoughts on “Menjadi Sulung Itu…

    1. Weh, ternyataa… Toss jauh dulu, Idah :mrgreen:
      Ya, seperti itulah jadi anak pertama hehehe dilakoni saja, nyatanya setelah 26 tahun jadi sulung itu nikmat 😀

      Ok, terima kasih doanya. Sukses juga untukmu 🙂

      1. Saya baru 23 tahun jadi anak pertama nih, mbak
        Tapi udah lumayan banyak juga pengalaman yang ane dapat. Hehe

        Sudah terdaftar sebagai peserta Hajatan Anak Pertama ya, Mbak
        Maaf baru mampir
        Terima kasih atas partisipasinya 😉

      2. @Sulung: Terima kasih. Lumayanlah.. di Hajatan Anak Pertama ini, semua anak sulung pun ngumpul & berkisah. Sukses untuk semua ya 😀

    1. Terima kasih telah berkunjung Mr. Andry, salam kenal 🙂
      Ya, seperti itulah.. bisa momong dan jadi teladan yang baik bagi adik-adik

  1. Anak sulung itu secara umum enaknya di awal, tapi makin kesini makin kesini makin berat tanggung jawabnya dan makin kurang perhatian manakala ada anak kedua, ketiga dst…

    1. Hmm.. itu juga benar, Pak Mars 🙂
      Kehadiran adik pertama, kedua, dst.. pernah membuat saya merasa cemburu, tapi lama-kelamaan biasa saja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *