Ketagihan Bagea Kenari

Awal bulan ini, tepatnya tanggal 5 Juli 2012, redaksi kedatangan tamu seorang penulis artikel. Beliau akrab saya sapa pak Mohli, salah seorang mahasiswa S3 HPT sekaligus pengajar di Universitas Negeri Gorontalo, Sulawesi. Karena riset yang beliau lakukan berlokasi di Gorontalo, maka beliau sering bolak-balik Jogja-Gorontalo. Wow, tidak terbayangkan seperti apa jauhnya. Hm, maklumlah sekali pun saya belum pernah naik pesawat *ngaku 😛 Lalu apa yang istimewa dari kedatangan beliau tempo hari? Buah tangan alias oleh-oleh yang beliau bawa untuk kami di redaksi. Ya, beginilah akibatnya kalau sudah akrab dengan para penulis yang berkampung halaman di seantero nusantara. 😆

Usai perbincangan pak Mohli dengan saya mengenai perkembangan proses telaah dan perbaikan artikel, beliau mengulurkan sesuatu.

“Wah, Bapak.. repot-repot nih! Terima kasih..” begitu kata saya sambil menyambut oleh-oleh itu.

“Ah, nggak, Mbak.. sedikit saja.. Asli dari Sulawesi.” begitu jawab beliau.

Setelah beliau pamit, saya berbisik pada Melina,

“Ini apaan sih, Mel? Bagea kenari?”

Yang saya tanyai juga geleng-geleng kepala karena belum pernah melihat, bahkan mendengarnya pun baru sekali ini. Sama! 😀

Jadi seperti apa itu BAGEA KENARI? Ini dia gambarnya..

sebungkus Bagea Kenari
Sebungkus bagea kenari
Kenampakan bagea kenari setelah dikuliti

Hmm, setelah dicicipi, dirasa-rasakan kue yang kriuk-kriuk ini sekilas rasanya mirip dengan penganan khas Indonesia lain, kue bolu emprit. Sekali, dua kali, dan … hari ini saat jam istirahat kantor sudah lebih dari tiga kali saya bolak-balik membuang bungkus si bagea kenari. Ini dia buktinya. *idiih.. doyan apa maruk? ❓ :mrgreen:

Kira-kira berapa banyak yang sudah saya habiskan siang ini? 😀

Nah, karena sepertinya saya ketagihan dan mulai penasaran.. maka, saya pun googling dengan kata kunci “bagea kenari”. Dari hasil pencarian, muncullah artikel paling atas terindeks di mesin pencarinya mbah Google yang bersumber dari detikFood.com. Hmm, akhirnya saya tahu lebih banyak tentang si kue renyah asli dari Indonesia timur ini.

Dalam postingan tersebut disebutkan bahwa bahan utama dari kue ini adalah tepung sagu, ditambah dengan kacang kenari, dibumbui dengan rempah-rempah seperti pala dan kayu manis. Rasanya gurih khas berbaur dengan bau sangit dari daun enau yang digunakan untuk membungkusnya. Ya, pada saat pembuatannya adonan kue kering ini dicetak lalu dibungkus dengan daun enau atau lontar, diberi dua buah semat, kemudian dipanggang hingga kering. Renyah, gurih, dan manis bercampur.. Pantaslah bila saya ketagihan :mrgreen: Mau juga mencoba? Kapan lagi ya, pak Mohli membawakan kami bagea kenari? 😆

0 thoughts on “Ketagihan Bagea Kenari

  1. punya temen orang menado juga, jadi udah kenalan lama sama si bagea, tapi saya kok kurang suka ya 😀 masih suka bubur menadonya saja hehehe

    1. hmm, Mbak Nique ga bilang-bilang sih *eh? :mrgreen:
      hihi ini soal selera, Mbak.. mungkin juga karena posisinya sedang tidak ada camilan lain di ruangan saya, jadinyaaaa… 😆

    1. salam kenal, Mbak Mila 🙂
      sekali mencoba ketagihan saya. hm, jadi semakin cinta dengan Indonesia yang kaya berbagai hal unik.

      salam hangat dari kaki Merapi 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *