Catatan Lebaran 1433 H: Dua Jam Bersama Farel

Akhirnya berjumpa lagi dengan blog setelah sekian hari mengasingkan diri dan bergabung di dunia nyata. Sebelum lebih jauh saya berkisah, alangkah baiknya saya & Segores Pena Phie mengucapkan

SELAMAT IDUL FITRI 1433 H

MOHON MAAF LAHIR BATIN ATAS SEGALA KHILAF SELAMA INI

Semoga di moment yang berbahagia ini kita semua kembali kepada fitrah dan kita diberi kesempatan oleh-NYA dipertemukan kembali dengan Ramadhan nan mulia tahun depan. Aamiin ya Rabb.

Sedikit OOT.. Kalau ditanya, mana yang lebih enak? Dunia maya dan blog atau dunia nyata? Hm, saya pikir sama nikmatnya. Tinggal bagaimana kita mau melihat dari sudut pandang mana. Orang yang terlalu eksis di dunia maya dan tidak peduli pada dunia nyata, tentu juga tidak baik. Istilah saya, tidak seimbang. Padahal kan yang namanya manusia, hidup seimbang itu penting. Nah, bagi saya dunia nyata itu dunianya sumber inspirasi tulisan. Sementara dunia maya adalah salah satu tempat untuk menuangkannya, misalnya lewat media blog.

Seperti juga inspirasi untuk laporan Idul Fitri tahun ini. Siapa sangka bakal datang dari hal yang tidak terduga. Saya ingat, waktu itu sore tepat sehari sebelum sidang isbat penentuan hari H digelar di ibukota sana; ponsel saya berdering. Ternyata dosen pembimbing skripsi saya sekaligus anggota dewan redaksi jurnal tempat saya bekerja, akrab saya panggil pak Puta. Apa alasan beliau menelepon saya?

Seorang anak bernama Farel membutuhkan pengasuh sementara. Farel? Farel adalah cucu pak Puta, bukan cucu langsung, tetapi anak dari keponakannya. Sebenarnya pengasuh ini dibutuhkan hanya selama belum dijemput oleh kerabatnya yang tinggal di Wonosari. Bolehlah saya cerita sedikit mengapa pak Puta mesti repot-repot menghubungi saya.

Jadi, begini.. Farel dipondokkan di PP Sabilul Huda, Pakem, Sleman. Oleh karena orang tuanya tidak mampu, maka pak Puta yang menjadi wali Farel. Tidak mudah menemukan pondok pesantren untuk anak seusianya di Yogya. Butuh setidaknya enam bulan pencarian. Memangnya berapa usia Farel? Perkiraan saya sekitar 5 tahunan, dilihat dari kelasnya, TK B. Itu saya buktikan sendiri saat menjemputnya lepas waktu sholat Ied, 19 Agustus 2012 sekitar pk. 08.30. Lha terus mengapa jadi saya yang dimintai tolong?

Jadi begini… (lagi) Seminggu sebelum lebaran sebenarnya beliau sudah menghubungi ustad PP Sabilul Huda agar diperbolehkan mengajak si kecil untuk liburan di Batu, Malang. Namun, rupanya oleh pihak ponpes permohonan itu ditampik secara halus. Katanya para santri baru boleh dijemput usai sholat Ied.. *waduuh!* Lhaa terus, siapa yang mau menjemput? Perjalanan Jogja-Malang pp saja setidaknya butuh waktu seharian. Lagipula tidak mungkin, pak Puta yang menjemput. Jadi? Saya yang diminta menjadi nanny-nya Farel dan menyediakan tempat nyaman untuk transit sebelum dijemput ke Wonosari.

***

Kita flash back sejenak ya..

19 Agustus 2012

Gema takbir mengumandang. Seperti biasa, lebaran di kampung kaki Merapi seperti Candi Karang selalu ramai. Sayangnya saya tidak diberi kesempatan untuk sholat Ied, hehe biasa kodrat perempuan :mrgreen: Waktu bergulir dan… sampailah saatnya saya menjemput Farel. Saya siapkan Ezy dan sebuah helm, lalu kami melaju membelah jalanan. Lengang. Jl. Kaliurang kala itu sangat lengang. Tidak kurang dari 20 menit, kami pun merapat menyusuri sebuah gang di sebelah utara SDN Percobaan, Pakem. Hanya ada sebuah kelokan dan setelah melewatinya, kami pun tiba di PP Sabilul Huda.

Sedikit ragu.. tapi bukan berarti saya berhenti. Saya menemui beberapa orang dewasa di antara anak-anak yang berkerumun. Entah, sepertinya mereka juga sama seperti Farel: menunggu dijemput. Sebelumnya saya tidak pernah bertemu Farel, jadi..?

“Assalamu’alaikum, Bu..”

Saya mendekati salah seorang ibu (mungkin juga ustadzah), mengungkapkan maksud kedatangan hingga membuat beliau semua percaya. Hei.. saya tidak mau dicap sebagai penculik anak orang! 😆 Untunglah, setelah melontarkan sekian banyak kata saya dipercaya. Alhamdulillah. 😀

“Farel… Ini yang jemput sudah dateng!”

Seorang anak kecil berbaju setelah hitam-hitam mendekati ibu ustadzah itu. Dari face-nya, mirip sekali dengan “mbak pak lek” (pak Puta, maksudnya)-nya 😀 Tanpa banyak basa-basi saya pun menelepon pak Puta untuk lebih meyakinkan bahwa memang saya yang diminta untuk menjemputnya.

“Ini, mbak pak lek mau bicara sama Farel”

Saya menyodorkan Samsung Champ saya dan beberapa kali tersenyum melihat Farel mengangguk-angguk tanpa bilang, “ya”. Bagaimana mungkin mbah pak lek bisa tahu kalau hanya mengangguk? Hehehe.. namanya juga anak-anak. 😉

Singkat cerita, saya goncengkan Farel menuju rumah. Sebelumnya, mampir dulu ke SPBU terdekat. Kesan pertama? Apa yang ada di pikiran saya saat ia duduk di belakang saya dan berpegangan erat?

“Kalau sudah nikah, paling anakku segede dia ini ya? Hmm..” *abaikan!* 😆

Setidaknya, Farel bukan anak yang rewel. Ia pendiam. Mengangguk untuk bilang “ya” dan menggeleng untuk bilang “tidak”. Mungkin memang sudah dibiasakan begitu.

Bahkan sesampainya di rumah, masih saja diam. Diminta masuk ya diam, tapi dia sudah tahu. Kalau masuk rumah, sepatunya harus dicopot dan ditata rapi. Hebat! 😀

Lalu, dua jam itu? Dia belajar untuk krasan di tempat barunya. Saya pikir cepat juga ia beradaptasi. Bisa jadi itu karena ibu saya juga antusias menyambutnya. Hehe begitu masuk langsung ditawari makan! Begitu juga dengan kedua adik saya, Ning dan Di. Ning yang kesehariannya mengajar anak-anak di PAUD menyodorkan banyak sekali benda menarik: buku cerita, crayon, kertas gambar, mainan. Di juga tidak mau kalah. Kepandaiannya menggambar ia tunjukkan kepada Farel. Hm, show off nih, Dhek Bro? 😆 Dan, ini dia saya abadikan sebagian keakraban yang terjalin selama 2 jam itu.

Farel unjuk gigi
Farel unjuk gigi: Ini lhoo.. gasing kambing api 😀
hasil karya Di
hasil karya Di; show off ni yee.. biar yang kecil ketularan 😀

Sayangnya, satu jam itu keakraban dan keceriaan itu “lenyap” saat pak Sanusi dan istrinya sampai di rumah. Saya tidak tega melihat ekspresi Farel.. kepingin nangis juga rasanya.. Sedih.. 😥 Hmm, alhasil baru satu jam pula ia berhasil dibujuk untuk ikut ke Wonosari! Dari jam 11 sampai jam 12. Itu saja, saya mesti menghubungi pak Puta berkali-kali agar ia mau. Yah, mungkin di dalam benak Farel berkata,

“Ini tadi aku dijemput mbak e, katanya mau ketemu mbah pak lek.. tapi kok dijemput lagi sama orang asing?”

Oh, so sad.. Sedih saat melihatnya melambaikan tangan sesaat sebelum motor pak Sanusi melaju membawanya ke Panggang, Wonosari. Sampai jumpa lagi ya, Farel. Kapan-kapan boleh kita main dan nggambar lagi 🙂

0 thoughts on “Catatan Lebaran 1433 H: Dua Jam Bersama Farel

  1. aku kok jadi sedih mbaca ceritamu phie
    mbayangin perasaan Farrel
    seperti barang aja titip sana dan sini
    tapi gimana lagi ya, keadaannya emang udah gitu
    ahhh …
    pas pula ini baru pulang dari rumah Egi
    gak dibolehin pulang tadi sampai dia menangis
    ditutup pintu biar saya gak pergi
    sedih …
    tapi gak bisa tinggal juga
    anak-anak selalu punya cara membuat kita menyayangi mereka
    dan hal ini pula membuat saya tak habis pikir setiap mbaca berita ada orang tua / orang dewasa yang tega menyiksa anak2 ya phie 🙁

    semoga satu hari nanti kalian bisa bertemu lagi, aamiin

    #eh hasil gambar adikmu kok apik? emang sekolah lukis po?

    1. hiks.. hiks… Mbak Ni 😥
      aamiin.. aamiin..

      gambar Di memang begitu, Mbak. dia dulu sekolahnya di SMK jurusan Animasi, ya nggambar jadi makanan sehari-hari gitu. mohon doanya, Mbak.. biar Di jadi seniman yang baik. (aamiin) 😀

  2. Dimanapun Farel berada, semoga selalu mendapatkan keakraban dan kehangatan…
    Karena masih bulan Syawal, ijinkan saya mengucapkan Selamat Idul Fitri buat Mbak Phie & keluarga

    1. Aamiin ya Rabb.. terima kasih doanya, Pak Mars.
      Sami-sami, Pak. Terima kasih. Selamat Idul Fitri 1433 H juga untuk Pak Marsudiyanto & segenap keluarga di Kendal 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *