Batik. Sebagai salah satu heritage bangsa Indonesia batik sepertinya telah menjadi sesuatu hal yang familiar bagi kita. Pada awalnya batik dimulai sebagai patron sebagai pakaian adat suku tertentu di Indonesia. Kini batik telah menjadi sebuah icon tidak hanya di kalangan pecinta busana tradisonal, tetapi juga merambah lebih luas lagi terutama di dunia fashion. Banyak sekali ragam busana berbahan batik, mulai dari yang resmi yang biasa kita jumpai di acara hajatan dan perhelatan hingga busana santai sehari-hari.
Salah satu desainer yang berfokus pada pengembangan batik adalah Iwet Ramadhan. Membaca tulisan beliau di Yahoo tentang filosofi batik yang menurut beliau bukan sekadar kain (bisa di-klik di sini), membuat saya ingin mengetahui lebih banyak tentang batik. Maka, akhir pekan kemarin saya sempatkan untuk mengunjungi Museum Batik. Sebenarnya sudah sejak lama saya ingin menengok apa saja yang ada di balik tembok museum ini. Namun, baru kemarin saya bisa menyaksikan dan membuktikan sendiri mengapa Iwet Ramadhan mengatakan bahwa batik merupakan kekayaan adiluhung milik bangsa Indonesia.
***
Penyusuran pun dimulai..

Menilik sebuah gang kecil di Jl. Dr. Soetomo No. 13 A, Yogyakarta di sana terdapat sebuah plang “Hotel Museum Batik dan Museum Batik” Masuk sekitar 10 meter, kami bertemu sebuah gerbang sederhana, lebih mirip seperti pintu sebuah garasi. Tidak perlu under estimate dulu sebelum menjenguk ke dalam.
Setelah kami masuk, sebuah pohon jambu bol yang tengah berbuah lebat menyambut kami. Museum tampak sepi. Ya, memang tidak ada pengunjung lain selain kami berdua, saya dan Ning. Sebelum masuk lebih dalam, kami disambut oleh seorang perempuan berusia 50-an tahun. Bu Wagiyem, seorang pembatik yang telah delapan tahun bekerja kepada pemilik museum ini. Setelah mengisi buku tamu dan membayar biaya masuk museum (Rp15.000,00/orang), kami berdua pun dipandu oleh bu Wagiyem menikmati seluruh penjuru museum. Pemandu yang biasanya sedang libur ternyata, sehingga beliau menggantikan sebagai pemandu.
Saya sudah siap sedia dengan kamera ponsel Samsung Champ, tetapi saat kedua mata saya beradu dengan peraturan museum “TIDAK BOLEH MEMOTRET”, maka saya selipkan saja ponsel tersebut di balik leaflet yang saya pegang. Di mana langit dijunjung, di situlah bumi dipijak. Maka, sudah semestinya kami menghormatinya. Baiklah, tidak akan saya keluarkan ponsel tersebut sebelum saya mendapat izin dari sang pemandu.
Pertama sekali kami menyusuri museum bagian barat. Di sana terdapat deretan lemari berisi koleksi motif kain. Setidaknya ada 1500 motif batik dari beberapa wilayah di Indonesia. Batik corak pantai utara Jawa, hingga gaya Yogya dan Solo ada di sini. Wow! Saya takjub untuk kali pertama 😀 Semuanya adalah koleksi pribadi dari ibu Dewi Nugroho, pemilik museum, dan saat ini museum batik dikelola oleh generasi keempat. Bisa dibayangkan setua apa koleksi nya? Saat saya menanyakan koleksi tertua kepada bu Wagiyem, jawaban beliau membuat saya lagi-lagi berdecak kagum. Tahun 1700! Wow!! Itu zaman kolonial.. 😯 dan koleksi tersebut sampai hari ini masih dalam kondisi baik. Apa rahasianya? Tiap kain yang dikoleksi di sini melalui tahap-tahap perawatan terjadwal. Penyimpanan dilakukan dengan cara digulung, bukan dilipat dan ditumpuk seperti menyimpan di lemari pakaian. Pengecekan dilakukan secara teratur, kain dijaga agar jangan sampai lembap dan berjamur.
“ Jamur dan renget bisa merusak motif, Mbak” jelas bu Wagiyem.

Setidaknya setelah disimpan selama tiga bulan dalam lemari pajang, masing-masing kain pada gulungan tersebut dikeluarkan untuk dirawat di sebuah ruang khusus. Kain-kain yang dirawat dibentangkan berjajar seperti ketika dijemur, di bawahnya diletakkan wajan berisi ramuan khusus.
“Mbak bisa mirsani, itu kompor listrik untuk menguapkan ramuan khusus di dalam wajan.” Kata bu Wagiyem.
“Mirip ratus begitu nggih, Bu?” tanya saya.
“Nggih, leres, Mbak..” jawab beliau.
***
Gaya Yogya-Solo
Bila di permulaan perjalanan kami ditunjukkan kain bercorak pesisir dengan warna-warna cerah; saat kami mencapai bagian tengah museum, oleh sang pemandu kami dikenalkan lebih dekat dengan motif batik gaya Yogya dan Solo. Warna batik Yogya dan Solo cenderung lebih gelap ketimbang corak pesisir seperti Pekalongan, Cirebon, dan Madura. Itu karena batik Yogya dan Solo melalui tahap nyogan (pemberian warna soga, red.).
Ada 17 motif batik yang bisa dikenakan pada setiap tahapan seorang anak manusia. Semuanya ada urutan tersendiri. Misalnya motif Madu Bronto dikenakan oleh seseorang yang tengah menjalin hubungan asmara alias kasmaran. Saat tahapan mulai lebih serius, belum dipinang tetapi sudah menjatuhkan pilihan kepada seseorang lalu bertunangan, motif yang dikenakan pun lain, yaitu Semen Rante. Tidak seorang pun diperkenankan mendekati gadis yang mengenakan kain motif ini. Saat melakukan lamaran, motif yang dikenakan adalah Sidodadi. Saat malam midodareni, calon mempelai putri mengenakan kain motif Wahyu Tumurun. Baru saat melangsungkan akad nikah dan resepsi, kedua mempelai mengenakan motif kain Sidomukti, sementara kedua orang tua mempelai mengenakan motif Truntum. Sementara itu, untuk kain pesing (kain yang dihadiahkan oleh mempelai pria untuk simbahnya mempelai putri, red.) ada tiga jenis, yaitu Sidoluhur, Sidomulyo, dan Sidoasih. Bahkan setelah menikah pun, mempelai pada zaman dulu tidak diperkenankan keluar rumah dulu.
“Paling ndak empat hari diam di rumah, Mbak.. kain yang dipakai ini, namanya Semen Rambutan”
Wah, saya baru tahu.. Tapi kalau sampai empat hari di rumah saja untuk zaman seperti saat ini, bisa-bisa kena surat peringatan ya? 😀 Tergantung boleh tidaknya mengajukan cuti sih hehe.. Hm, selanjutnya?
Motif Parang Rusak Barong dikisahkan merupakan hasil semedi Sultan Agung Hanyakrakusuma dan menjadi induk dari pengembangan motif Parang lain.
Banyak yang disampaikan oleh bu Wagiyem kepada kami, termasuk kain bermotif Parang tidak selayaknya digunakan untuk lurup jenazah karena kain ini bermakna kejayaan.
“Lebih baik menggunakan kain dengan motif lain, Mbak. Motif Parang tidak pantas.. ya sekalipun begitu saya sering melihat kekeliruan, ndak banyak orang sekarang yang tahu..” tambah bu Wagiyem.
Selain menyimpan koleksi patron motif dan kain batik, museum ini juga menyimpan segala uba rampe (peralatan dan perlengkapan, red.) yang diperlukan dalam proses pembuatan batik. Mulai dari berbagai jenis dan ukuran canting, cap motif (terbuat dari tembaga, sudah termasuk dalam 1500 motif yang ada), jenis-jenis malam dan bahan yang bisa digunakan untuk membatik, jenis bahan lilin untuk melapisi kain, hingga wajan dan kompor yang digunakan.



Dokumentasi pembuatan batik semua secara lengkap dipampangkan di museum ini. Rumit memang, saya akui. Untuk memproduksi sehelai kain batik tulis dibutuhkan waktu minimal lima bulan, dan dua bulan untuk batik cap. Butuh ekstra tenaga kerja untuk melajukan roda produksi. Prosesnya dari ngetel, nganji (memberi lapisan kanji/tepung tapioka), ngemplongi (menghaluskan kain mori dengan cara dipukul-pukul), ngelowong (pelapisan lilin), ngerok (mengikis bagian yang akan diwarnai), nglorot, sampai akhirnya nemboki. Pelapisan lilin dan pewarnaan kain dilakukan tidak hanya sekali. Bingung? Pusing? Saya juga. 
Menurut Iwet Ramadhan, setidaknya proses nan rumit tersebut bisa dipersingkat menjadi: ketel – canting – celup – nglorot – nembok. Saya mulai paham mengapa sehelai kain batik menurut beliau adalah sebuah “karya haute couture, karya adibusana tingkatan tertinggi dalam dunia fashion”
O ya, selain batik, museum ini sekaligus menyimpan patron bordir karya pribadi ibu Dewi Nugroho dan koleksi sulaman bahkan yang mendapatkan rekor dari MURI. Menakjubkan ya? 🙂

***
Yang membuat saya bersedih.. 😥
Museum ini pada awalnya merupakan salah satu tempat pembuatan batik di Yogyakarta; baik tulis, semitulis, maupun cap. Namun sayangnya, proses produksi terpaksa berhenti pada tahun 1930 karena kekurangan sumber daya manusia. Akhirnya sebagai bentuk apresiasi terhadap adiluhungnya seni batik, oleh ibu Dewi Nugroho dijadikanlah tempat ini menjadi museum.
Namun demikian, seperti juga dialami oleh museum lain di Indonesia, kadang sumber dana untuk keperluan pengelolaan dan pemeliharaan museum menjadi kendala. Hmm.. Saya pun terpikir sebuah ide seperti yang kala itu saya lontarkan kepada bu Wagiyem. Ini soal patron bordir. Adakah pernah terpikir untuk mengadakan kerja sama dengan pihak tertentu, desainer misalnya. Setidaknya agar gaung seni bordir karya Dewi Nugroho tetap dikenal seperti saat beliau mengelola “Busana Dewi” dan bahkan bisa lebih luas lagi. Dari perbincangan kami dengan bu Wagiyem, patron tersebut sebenarnya bisa diproduksi secara massal asal dengan seizin penciptanya dan mencantumkan nama serta tahun pembuatannya. Ini untuk mengantisipasi pelanggaran hak cipta dan plagiator.
Nah, ini dia celah yang saya pikir bisa digunakan museum ataupun desainer muda untuk mengadakan kerja sama. Harapannya, agar museum ini tidak sekadar jadi tontonan, jadi tempat tujuan untuk mengagumi semata; tetapi lebih dari itu.. Agar bisa diambil manfaatnya untuk kepentingan pelestarian budaya Indonesia.
Ya, begitulah.. secuplik perjalanan menyusuri budaya Indonesia dengan menilik Museum Batik akhir pekan kemarin. Semoga kita tetap berkenan menjaga, melestarikan apa yang telah diwariskan oleh leluhur. Pada dasarnya dengan melestarikan, mencintai batik Indonesia, itu berarti kita menyimpan ribuan peluang dan kekayaan budaya untuk anak turun kita kelak. Jadi.. kalau bukan sekarang, kapan lagi? Kalau bukan kita, siapa lagi? 🙂
Postingan ini diikutsertakan dalam Giveaway Catatan Akhir Pekan dengan Tema Aku Cinta Batik Indonesia.

aku baru tau mengenai museum ini..
penegn banget lihat kin bati yg dari tahun 1700 itu …kainnya nggak lapuk ya …?
kapan-kapan mampir ke Jogja ya, Bunda Monda 🙂
kain koleksi semuanya masih baik karena mendapat perawatan rutin
lengkap banget mbak deskripsi tentang museumnya dan jenis batiknya
jadi pengen tahu lebih dalam lagi tentang gimana motif batik2 itu yg asli, nanti liat di mbah gugel aja deh
salam kenal mbak….. ^^
salam kenal 🙂
lumayan lengkap ya? 😀
lebih lengkap lagi kalau bisa melihat sendiri ya motif batik yang ada di museum tersebut, Mas Imam. 🙂
kapan-kapan mampirlah ke museum ini
kalo mbak jatu pingin lebih jauh mengenal batik, di kantor ada YBI mbak …Yayasan Batik Indonesia …
Yayasan Batik Indonesia? Harus ke Jakarta ya, Mbak? Adakah website-nya?
Museum Batik dan Sulaman Yogyakarta -terletak di jalan Dr. Sutomo 13 Yogyakarta. Berdiri pada tanggal 25 mei 1977 dan menempati areal seluas 4010 m2. Koleksi yang dimiliki berupa beraneka ragam kain batik berupa kain panjang, sarung, selendang, tokwi/taplak dan sebagainya dengan motif gaya yogyakarta, surakarta, madura dan tempat-tempat lain di Indonesia. Koleksi lainnya berupa peralatan membatik mualai dari canthing, cap beraneka motif, bahan pewarna dan paraffin(malam). Koleksi batik tertua dibuat pada tahun 1780.. Pengelola museum juga dapat memberikan fasilitas pelatihan (workshop) membatik bagi pengunjung yang meng-inginkan.
Terima kasih atas tambahan informasinya. Semoga pengunjung Museum Batik semakin ramai & semakin banyak yang cinta batik. 🙂
Museum Batik Yogyakarta terletak di Jl. Dr. Sutomo No. 13 A Yogyakarta dan didirikan pada tanggal 12 Mei 1977 atas prakarsa keluarga Hadi Nugroho. Masih adanya perhatian yang besar dari masyarakat termasuk wisatawan asing pada batik, mendorong keluarga ini merintis pengumpulan kain batik. Dimulai dari kerabatnya sendiri, orang tua, eyang dan generasi Hadi sendiri, hingga upaya merintis sebuah museum batik terlaksana.
The works in the other rooms of the museum are just as divine as Dewi’s embroideries. In one wing, there are nearly 1,500 priceless pieces of batik, 500 sheets of batik prototypes, hundreds of wooden and copper block batik stamps, kebaya encim (a type of blouse with Chinese influence) and piles of canting, a type of pen used to draw the batik motifs.
di jakarta udah ada blm ya museum batik seperti ini. hmm
GPS Tracker
silakan ditengok GPS-nya 🙂
saya bukan orang Jakarta, jadi rada susah mau jawabnya hehe
salam kenal, Mas Jikuns 😀