Review Buku (ala Phie): Harmoni di Balik Meja

Pengantar

Hari itu, 14 Juni 2011, seorang sobat blogger yang berdomisili di Jakarta menge-tag sebuah foto, Harmoni di Balik Meja. Rupanya inilah buku pertama teh Ani Berta. Buku bersampul merah tua itu setahun kemudian, tepatnya tanggal 24 September 2012, akhirnya saya pesan dan awal Oktober tiba di kaki Merapi. Setibanya di rumah, hm.. bergegas saya menanyakan biayanya. Menurut teh Ani, totalnya Rp 37.000,00 (termasuk ongkir ke Jogja). Namun, entah bagaimana teh Ani berubah pikiran. Buku ini digratiskan untuk saya, tentu dengan syarat: membuat review-nya ๐Ÿ˜€

Tanggal 8 Oktober 2012, tepat dua bulan lalu, saya membuat janji.. dan hari ini (setelah saya pikir ugh, saya benar-benar kebangetan.. bukan lupa, saya pun melunasinya! yes!). Baiklah ini dia review buku Harmoni di Balik Meja (ala Phie) ๐Ÿ™‚

***

buku Harmoni di Balik Meja (foto oleh Ani Berta)
buku Harmoni di Balik Meja (foto oleh Ani Berta)

Judul: Harmoni di Balik Meja
Penulis: Anny
Penerbit: Sekar Publishing
Tebal: 100 halaman
Harga: Rp 30.000,00 (belum temasuk ongkos kirim)

Sekilas tentang penulis

Tak kenal maka tak sayang. Siapa itu Anny? Seorang blogger reporter? Ibu dengan satu putri bernama Sekar? Yang saya tahu baru sebatas itu. Setelah saya membaca buku ini, akhirnya saya pun mengerti. Izinkan saya berkisah. Anny kecil adalah seorang anak dari keluarga sederhana. Dalam kesehariannya, ia dibiasakan berhemat. Pondasi ilmu pengetahuan dan agama merupakan kunci penting dalam kehidupannya. Itulah mengapa hingga detik ini ia boleh dikatakan telah mampu meraih kesuksesan. Anny tidak pernah bercita-cita sebagai akuntan, bahkan pernah merasa sangat muak, tetapi pada akhirnya berkarir dalam bidang akuntansi. Pada awalnya ia bercita-cita sebagai dokter gigi. Dengan upaya memilih penjurusan A2 Biologi, ia pun melanjutkan apa yang diimpikan. Namun, di tengah perjalanan sesuatu hal membuatnya harus mengalah dan memilih jurusan lain, yaitu akuntansi. Perbedaan impian dengan kenyataan inilah yang membuatnya menilai sukses tidak selalu identik dengan memiliki pekerjaan linier/sejalur dengan pendidikan.

Tentang isi buku

Pengalaman Anny selama menjadi pekerja ia tuang ke dalam tulisan. Dari postingan di blognya semenjak tahun 2008 sampai dengan tahun 2011 terkumpullah bahan yang akhirnya terwujud sebagai buku โ€œHarmoni di Balik Mejaโ€. Dalam beberapa bab yang disuguhkan, buku ini secara khusus memberikan tips-tips bagaimana semestinya seseorang, utamanya pekerja, menghadapi harmoni kehidupan.

Kenyataan hidup pada dasarnya memang tak mudah. Maka, sudah tentu dibutuhkan trik dan strategi untuk menghadapinya. Mulai dari bagaimana memposisikan cita-cita dan target waktu, prinsip hidup, hingga tips melakukan hal-hal “remeh” yang sebenarnya penting dalam pencapaian target pekerjaan diungkapkan oleh Anny dalam buku ini. Terdiri dari lima bab. Masing-masing bab berisi tentang hal-hal yang meskipun menurut saya melompat-lompat membahas beberapa hal, tetapi bisa ditarik kesimpulan, kesemuanya bermanfaat. Saya sebagai bagian dari pekerja patut mengambil manfaat dan inspirasi atas setiap hal yang disampaikan penulis.

Catatan kecil

Sebagai insan yang berkutat di redaksi setidaknya untuk 2,5 tahun terakhir, saya menilai masih ada beberapa hal yang perlu dikoreksi dan diperhatikan dalam penulisan. Di beberapa paragraf saya masih menemukan kalimat dengan kata โ€œmerubahโ€. Kata โ€œrubahโ€ bukan kata kerja baku, yang benar adalah โ€ubahโ€ -> โ€œmengubahโ€.

Saya tidak tahu persis bagaimana sistem penyuntingan di penerbit indie, tetapi menurut saya meski tulisan ini bukan termasuk tulisan resmi, ada baiknya diperhatikan pula kebakuan bahasa yang digunakan.

Selain itu beberapa redaksional kalimat menurut saya perlu disesuaikan. Meskipun buku ini disarikan dari kumpulan tulisan di blog, ada baiknya disesuaikan kembali karena saat diputuskan untuk dicetak, lingkup penikmat buku ini secara otomatis meluas. Bukan lagi para blogger dan penikmat dunia online, tetapi juga penikmat buku pada umumnya, dengan kisaran tingkat pendidikan yang pastinya beraneka. Terhadap redaksional bahasa, saya sendiri merasa bingung ketika bertemu dengan beberapa kalimat, sebagai contoh, salah satunya ada di halaman 26

โ€œ… sebab kadang kita untuk melalui suatu jalan yang terbaik dan merupakan porsinya kita, seupaya apa pun kita berusaha jika Allah berkehendak tidak dapat mengelak apalagi menawar.โ€

Setelah beberapa kali mengulang membaca kalimat ini, barulah saya mengerti apa yang dimaksudkan.

Hal lain adalah soal penyampaian yang terkesan melompat-lompat. Menurut saya, ada baiknya diberikan sentuhan penyempurnaan terhadap keruntutan penyampaian. Dengan mengatur alur penyampaian dari hal yang sifatnya umum ke khusus akan mempermudah pembaca memahami maksud penulis.

***

Penutup

Demikian penilaian yang dapat saya beri terhadap buku Harmoni di Balik Meja. Semoga menjadi bagian dari kritik membangun bagi tulisan teh Ani Berta selanjutnya. Tetap semangat, tetap berkarya.. dan mohon maaf bila tulisan ini terpaksa tertunda hingga dua bulan lamanya karena kesibukan. Terima kasih telah diberi kesempatan untuk me-review.

0 thoughts on “Review Buku (ala Phie): Harmoni di Balik Meja

  1. Urun rembuk: ๐Ÿ˜€
    – “…ia tuang…” ==> “ia tuangkan”.
    – “tips” ==> “kiat”.
    – berkarir ==> berkarier
    – kesemuanya ==> semuanya
    – mengambil manfaat dan inspirasi atas setiap ==> inspirasi dari
    – …redaksional kalimat… ==> redaksi kalimat
    – Review ==> ulasan; me-review ==> mengulas. Atau review ditulis miriing.
    – Akan semakin komplet dan menggugah andai saja Phie menurunkan kutipan berupa salah satu kiat Mbak Ani saat didera tekanan pekerjaan. Atau saat doi mengalami kejadian lucu dsb.

    Pasti jauh lebih menarik deh ๐Ÿ™‚

    Salam dari Kota Hujan..brrr.. :p

    1. Terima kasih telah mampir dan memberi tambahan koreksi (terhadap isi ulasan saya). Faktanya kemampuan berbahasa, baik lisan maupun tulisan, perlu terus dilatih. Sebagai penyunting pelaksana redaksi jurnal ilmiah saya merasakan itu, Om Walank ๐Ÿ™‚
      Gampang gampang susah..

      Soal “ia tuang” versus “ia tuangkan”, saya sendiri kadang masih merasa ragu. “tuangkan” termasuk kata perintah.. sementara yang benar “ia menuangkan” S => ia, P => menuangkan (predikat kalimat aktif). Di situ saya tulis, “ia tuang” karena kata dasar “tuang” sendiri sudah berupa kata kerja.
      Ini sedikit pembelaan diri, Om :mrgreen:

  2. Eh, ada yang terlewat: selamat buat jeng Ani Berta atas terbitnya buku ini. Semoga tetap kreatif dan produktif dalam berkarya. Ayo kapan giliranmu menerbitkan bukumu, Phie? –komporkompor haha ๐Ÿ˜€

  3. Akhirnya, utangnya mipil dicicil ya? ๐Ÿ™‚

    2008? Sudah lama juga ya, Bu?
    Sepertinya perjalanan hidup sembari bekerja patut dibaca. ๐Ÿ™‚

    Terus, Bubu kapan menerbitkan buku? hihihih

    1. Namanya juga utang, Dah.. utang tulisan kopdar juga itu masih ngantri baris rapi di list utang ๐Ÿ˜ฅ

      Iya, teh Ani kan memang sudah lama aktif ngeblog.

      Aku? Hm, ingin pasti ada.. belum kesampaian saja. Buat nyicil, ikutan antologi, Dah. Lumayan kan, belum bisa nulis buku sendiri.. ya keroyokan dulu :mrgreen:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *