Di Balik Manisnya Madu Hutan Raya

Nama beliau, Waluyo Sitiadi. Seorang difabel yang sukses menjadi pengusaha madu dengan brand Madu Hutan Raya [@maduhutanraya]. Saban harinya pak Waluyo menjajakan madu keliling. Beberapa kali saya melihat beliau membawa dagangannya melintas di Jl. Kaliurang, akses utama dari pusat kota Jogja menuju obyek wisata Kaliurang. Kadang sendiri, kadang pula ditemani oleh istri dan putra/putri beliau.

produk Madu Hutan Raya
produk Madu Hutan Raya

Jauh sebelum saya mengenal beliau, saya hanya bisa melihat dari kejauhan beliau membawa madu. Entah.. tetapi tiap kali melihat beliau berkeliling, ada rasa kagum sekaligus malu di dalam hati. Kagum, karena beliau terus bekerja keras dengan segala kekurangan fisik yang beliau sandang. Seolah tidak ada sedikit pun yang boleh menghalangi beliau mencari nafkah untuk keluarga. Malu, karena sejauh ini saya yang dikaruniai anggota tubuh lengkap, masih saja merasa belum melakukan apa-apa. Tanpa beliau sadari, saya mulai mencuri semangat itu. Ah, saya berharap semoga pak Waluyo tidak mempersoalkan ini, semoga.

Meski demikian, kala itu belum terpikir untuk menjadi pelanggan Madu Hutan Raya. Padahal sebagai konsumen madu, saya telah mencoba berbagai produk madu. Mulai dari madu Nusantara, Arba’in, Flora, dll. Saat saya melihat beliau mulai menjajakan madu beberapa tahun lalu, terpikir dalam benak untuk mencoba juga keaslian produk Madu Hutan Raya ini, entah kapan.

***

Suatu pagi, tepat di tanggal 3 Desember 2012 lalu (hari Difabel Internasional) saya terjebak di antara konvoi para difabel (Komunitas Difabel Yogyakarta). Tersenyum haru melihat mereka berkonvoi. Hari itu seluruh dunia menjadi saksi keberadaan mereka, para difabel. Mereka yang ingin disamakan haknya seperti layaknya manusia normal. Selalu ada kata salut dan acungan jempol untuk mereka. Berada dalam konvoi itu, saya merasakan gelora semangat mereka, para difabel tangguh. Sungguh, bagi saya ituย  seperti merasakan efek sebuah suntikan endorfin.

Di tengah perjalanan, tanpa sengaja pandangan mata saya terbentur sesuatu. Sebuah tulisan “@waluyo_sitiadi” tertempel di bagian belakang sebuah motor. Hei, bukankah beliau yang biasa saya lihat membawa madu itu?

Begitu sampai di kantor, seperti biasa rutinitas berawal dengan cek e-mail redaksi. Mumpung sedang online, saya iseng mencari akun twitter beliau… dan voilaa!! Saya menemukan akun pak Waluyo pemilik usaha Madu Hutan Raya.

Berhenti di situ? TIDAK..

Alasan saya sederhana saja, ingin mengenal pengusaha madu yang telah menginspirasi tersebut, sekaligus juga karena persediaan madu di rumah habis. Itulah yang membuat saya mencermati linimasa beliau dan mencoba mengontak beliau. Mention-lah ke akun beliau. Sekadar bertanya apa saja produk yang tersedia berikut harganya. Hari itu juga saya ditanggapi dan tanya jawab (calon) pelanggan dengan pengusaha pun berlanjut via SMS.

Setelah beberapa kali ber-SMS saya pun mendapatkan harga untuk sebotol madu murni isi 1000mL. Transaksi via SMS sangat mudah sekarang ini, termasuk dalam pemesanan. Bukan hanya itu kenyamanan yang saya dapat. Kepercayaan beliau terhadap pelanggan terbangun ketika saya terpaksa tidak bisa menemui beliau untuk membayar semua orderan tadi secara langsung. Saya minta izin untuk membayarnya lewat transfer bank dan diperbolehkan. Syukur alhamdulillah.

Sebagai pelanggan baru saya merasa puas karena dilayani dengan sangat baik. Bahkan malam harinya saat saya pulang, sebotol madu yang saya pesan pagi itu telah tiba di rumah. Keprofesionalan pak Waluyo ini bisa jadi yang membuat usaha Madu Hutan Raya kini memiliki setidaknya 350 orang pelanggan. Tidak hanya dalam wilayah Yogyakarta saja, beliau juga bercerita sering mengirim pesanan madu ke Jakarta, Bogor, dan Surabaya. Subhanallah! Semoga jumlah pelanggan Madu Hutan Raya kian hari kian bertambah. Aamiin. Apalagi didukung dengan akses sosial media saat ini seperti facebook dan twitter.

akun facebook pak Waluyo

WaluyoTw

Beberapa rekan yang telah saya bagi kisah tentang usaha madu pak Waluyo ini terlihat setengah tak percaya kalau ada pengusaha madu yang memiliki akun twitter. Lho, memang tidak salah bukan memberdayakan potensi yang dimiliki? Kalau bisa, mengapa tidak? Saya saja salut melihat beliau tak mau kalah untuk urusan yang satu ini. Inilah kenyataannya. Dari beliau saya belajar tentang sebuah hal sederhana, keterbatasan bukanlah penghalang untuk maju dan meraih impian. Terima kasih, Pak Waluyo.. ๐Ÿ™‚

0 thoughts on “Di Balik Manisnya Madu Hutan Raya

    1. sami-sami, Pak Waluyo. senang bila tulisan sederhana ini bisa bermanfaat. aamiin ya Rabb, terima kasih doanya. sukses selalu untuk Bapak & Madu Hutan Raya ๐Ÿ™‚

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *