Sepenggal Cerita: Kopdar TDA Jogja dan Freelancer Indonesia

Bicara tentang kopdar tentu bukan barang baru bagi blogger, tetapi acara kopdar kali ini bukan sembarang kopdar. Melibatkan Freelancer.com—sebuah market online untuk outsourcing dan crowdsourcing bagi usaha kecil-menengah terbesar di dunia—komunitas Tangan di Atas (TDA) Jogja menghadirkan sebuah acara sharing ilmu yang dikemas secara elegan di Edu Hostel, Jl. Ngampilan. Acara ini dilaksanakan pada Jumat, 26 April 2013 pk. 18.00 s.d. selesai.

Ini adalah pertama kalinya saya datang mewakili komunitas blogger, Kumpulan Emak-emak Blogger (KEB). Beberapa waktu sebelumnya Freelancer.com memang telah menggelar acara serupa di Jakarta dan Bandung. Saya yang tahu informasi tersebut, ya cukup tahu saja sambil mupeng. Maka, ketika beberapa waktu kemudian makmin Lusi memposting berita ini di grup, saya buru-buru mendaftarkan diri. Kapan lagi sih saya mendapat kesempatan sebagus ini? Seingat saya dari KEB kala itu tercatat enam orang yang mendaftar. Wah, bisa sekalian digunakan untuk kopdar nih. :mrgreen:

Jadi, seperti apa jalannya acara sharing tersebut? Acara dimulai sekitar pk. 18.00  dengan serangkaian registrasi ulang yang unik. Saya katakan unik karena baru kali ini saya melihat pendaftaran acara dibuat full have fun! Usai membubuhkan tanda tangan di lembar registrasi ulang, para peserta diminta untuk mendaftarkan diri lewat akun facebook, like fanpage Freelancer.co.id dan mendaftar di website Freelancer.co.id. selanjutnya? Photobooth sudah menanti! Ya, seru-seruan begitu diambil foto sebagai dokumentasi acara.

Usai menyelesaikan pendaftaran, Tha dan saya bertemu dengan tiga orang emak blogger, Mak Lies Wahyuni, Mak Ika Koentjoro, dan Mak Reni Judhanto. Inilah yang dinamakan kopdar di dalam kopdar hahaha. 😆 *abaikan!*

Kami pun duduk berdekatan, lalu bergulirlah obrolan hangat. Bisa? Bisa saja, inilah seninya menjadi  blogger, bahkan meski baru sekali itu bertemu. Ternyata Mak Lies dan Mak Ika menyempatkan diri hadir dari Purworejo, sementara Mak Reni berhasil ‘mengakali’ jadwal dinas kantor dan jauh-jauh datang dari Madiun. Wah, salut saya buat emak-emak energik ini! *angkat dua jempol*

Di antara keramaian suasana, saya sempatkan mengajak salah seorang panitia (mbak Tiara) untuk berkenalan dengan emak-emak yang lain. Antuasias, lagi-lagi itu yang berhasil saya tangkap. Biasanya begitulah tipe orang socialita *peace! :mrgreen:

Usai beramah tamah, kami pun dipersilakan untuk makan malam di lantai 5, bergabung dengan peserta lain. Tak perlu ditanya lagi, dengan mengambil meja yang sama, obrolan kami berempat–kecuali Mak Ika yang makan semeja dengan suami dan putranya—pun dilanjutkan. Jadilah, kami bertukar alamat blog. Boleh percaya atau tidak, saya belum pernah sekali pun nyambang ke blog emak-emak ini.. *sungguh terlalu!* haha lha gimana saking banyaknya anggota KEB, sampai-sampai belum semuanya berhasil saya kunjungi blognya. Harap maklum…. 😳

Setelah makan malam, kami turun ke lantai 1 dan dipersilakan masuk ke hall Edu Hostel untuk mengikuti acara sharing. Wow! Setengah kaget rasanya, ketika saya masuk mengikuti langkah Mak Lies. Ada apa gerangan? Ruangan seluas itu sudah nyaris penuh dengan peserta. Salut dengan antusiasme ini. Kami berempat—tanpa Mak Ika—pun memilih duduk lesehan di pojok belakang dekat dengan pintu keluar. Mau bagaimana lagi, sudah tidak ada tempat yang luang! 😆

Begitu pemandu memulai acara beberapa menit kemudian, raut wajah para peserta tampak mulai berubah serius. Apa saja yang dibahas? Sesuai dengan tema, “Turn Your Talent into Your Business”, TDA menggandeng beberapa pemateri, yaitu pendiri dan CEO PT Aseli Dagadu Djokdja—Achmad Noor Arief, Indonesia country manager Freelancer.com—Helma Kusuma, dan seorang freelancer sukses dari Jogja—Prayudi Wijaya untuk memberikan pencerahan seperti apa mengembangkan diri menjadi pengusaha dan freelancer sukses.

Pada sesi pertama, pak Noor Arief memaparkan hal-hal penting tentang kerja kreatif. Bagaimana mengubah ide menjadi sumber pendapatan, seperti yang beliau kutip dari John Hopkins (2001), “the creative economy—how people make money from idea”. Well, begitulah kerja kreatif, dibutuhkan setidaknya tiga hal dalam memunculkan ide dan menyampaikannya dalam sebentuk karya: konsistensi, istiqomah (ketetapan hati), dan networking! Ditambah lagi dengan isu aktual seperti keterbatasan sumber daya alam, peduli lingkungan hidup, juga keterbukaan informasi; tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi para pekerja kreatif.

Alumni arsitektur UGM ini menambahkan pula tentang pembajakan. Kita tahu, di Indonesia ini orang-orangnya suka meniru, angka pembajakan pun tinggi. Sementara, proses kreatif biasanya menggunakan prinsip ATM (amati, tiru, modifikasi). Sayangnya, banyak pelaku yang melakukan kecurangan. Mereka bukan memodifikasi. Proses kreatif mereka berhenti sampai tahap meniru, sehingga terciptalah produk bajakan dan itu merugikan dunia kerja kreatif. Namun demikian, menurut beliau tanpa ada tahap modifikasi, sebuah bisnis kreatif tidak memiliki harapan untuk bertahan.

Di bagian terakhir presentasinya, pak Noor Arief menyinggung pula tentang bagaimana menghadapi tantangan dunia kerja kreatif dengan manajemen HKI, yaitu creationexploitationprotection (trade mark, copyright, patent, registered, trade secret). Dengan memperhatikan dan mempraktekkan tiga hal yang saling berhubungan ini akan menyehatkan perkembangan bisnis kreatif.

Hm, sebuah awalan yang cukup menyenangkan bukan? 😀

Sesi kedua dilanjutkan oleh Helma Kusuma, Indonesia country manager Freelancer.com. Pada sesi ini, mbak Helma memaparkan tentang peluang bekerja paruh waktu dengan bergabung sebagai freelancer di Freelancer.com.

Siapa yang belum kenal dengan Freelancer.com? Baiklah, sedikit lagi informasi ya. Kalau digambarkan secara riil, situs ini mirip seperti sebuah jembatan yang menghubungkan lebih dari tujuh juta profesional di 234 negara, baik freelancer maupun employer, dari negara maju ke negara berkembang. Di kehidupan nyata kita bisa menyebutnya semacam makelar kerja, bedanya semua hal dilakukan secara online. Tidak ada tatap muka langsung antara si pencari kerja dengan penyedia proyek/pekerjaan.

Lalu mengapa mbak Helma memilih kota kecil seperti Jogja untuk melakukan meet up? Mau tahu? Itu karena Jogja tercatat sebagai kota dengan akses internet terbesar ketiga di Indonesia, setelah Jakarta dan Bandung! Nah, potensi inilah yang dilirik oleh Freelancer Indonesia untuk melebarkan sayap dan membagi ide. Kalau internet bisa lebih bermanfaat dan menghasilkan ketimbang sekadar digunakan untuk ngobrol di sosial media, mengapa tidak? Menambah penghasilan tanpa meninggalkan pekerjaan utama, mengapa tidak? Membantu Indonesia mengurangi angka pengangguran dan turut serta menaikkan indeks pendapatan warganya, mengapa tidak?

Caranya? Tentu saja dengan bergabung dengan Freelancer Indonesia. Di sini para freelancer akan dapat mengakses banyak sekali jenis pekerjaan yang ditawarkan. Kebanyakan order pekerjaan memang dari luar negeri karena basis utama crowdsourcing online ini ada di kota New South Wales, Australia. Modalnya cukup ringan: kemauan, talenta/keahlian, akses internet, and of course a little bit English skill 😉

Well, kalau ada yang bertanya mengapa harus berbahasa Inggris? Hey, its a global networking, Pals! Freelancer menyediakan proyek/pekerjaan dari seluruh dunia. Sekali lagi ya, seluruh dunia! Dan bahasa yang digunakan tentunya bahasa yang dimengerti di seluruh dunia, none, except English 😉

Jenis proyeknya? Proyek terbesar di Freelancer.com berasal dari bidang IT. Peringkat kedua dari bidang penulisan (penulisan artikel, blog, penerjemahan, menulis ulang artikel, dsb.). Itu baru dua contoh saja, yang lain? Masih banyak…. Penasaran? Cobalah tengok daun dan ranting #eh malah nyanyi 😆 , maksud saya, silakan tengok ke regional website Freelancer.com, follow akun twitternya, juga like fanpage facebook Freelancer Indonesia untuk mengetahui informasi lebih detail. Atau, mau mencermati video tentang “How Freelancer.com works?” Boleh! Silakan di-klik ya. Enjoy it… 😀

[youtube https://www.youtube.com/watch?v=SyBkaS5xJI0&w=460&h=315]

Sudah puas mantengi videonya? 😀 Ok, lanjuuut! Di sesi ketiga, sebagai pembuktian bahwa menjadi freelancer itu bisa menghidupi; seorang freelancer yang telah bergabung dengan Freelancer.com sejak 2009, tampil membagi pengalaman dan testimoni. Adalah mas Prayudi Wijaya, pemuda berusia 29 tahun ini telah berhasil mengantungi pendapatan lebih dari US$ 20.000. Wow…!! 😯 Keren ya! Belum ada 30 tahun, tetapi track record-nya sudah bagus. Saya jadi makin mupeng bergabung dengan Freelancer Indonesia. Semoga suatu ketika…. 😀

Usai masing-masing narasumber tersebut memberikan materi, disusullah dengan sesi tanya jawab. Saya udah siap sedia dengan pertanyaan penting, menurut saya.  Tiap kali dimas-diajeng Jogja (pemandu acara) memberi kesempatan peserta untuk bertanya, saya sigap menunjukkan tangan. Sayangnya, sampai di akhir acara saya tidak memperoleh giliran bertanya, hiks… 😥 Apa karena saya dan teman-teman duduk di sudut dan nyempil? Atau karena tubuh saya yang mungil? Hehe, mungkin….

Pertanyaan yang ingin saya sampaikan adalah mengenai pembayaran reward pekerjaan. Rata-rata memang menggunakan PayPal sebagai sarana utama. Di satu sisi ini akan memudahkan pembayaran dari luar negeri; di sisi lain, bagi para pemula (termasuk saya) yang awam dengan PayPal tentu membutuhkan lebih banyak ilmu lagi sebagai modal menjadi seorang freelancer andal. Intinya saya ingin bertanya, “show me the way, how to deal with PayPal as a begginer?”

Yah, mungkin memang sudah jatah saya untuk belajar sendiri dan bertanya sana-sini kepada yang lebih tahu. Dan, memang, untuk memulai sebuah hal dibutuhkan keberanian, termasuk belajar banyak hal baru di luar sana.

Apapun yang sudah saya dapatkan, saya hanya bisa mengatakan, “What an incredible evening!” 😀 Bersyukur sekali saya bisa hadir di acara penuh manfaat dan menjadi salah satu wakil dari KEB. Terima kasih KEB untuk kesempatannya. Terima kasih TDA, Freelancer Indonesia atas ilmu yang bermanfaat ini. Semoga saya pun bisa segera bergabung dan mengeksplorasi talenta saya bersama Freelancer.com. Aamiin….

mejeng di photoboth (lagi) di akhir acara :D
mejeng di photoboth (lagi) di akhir acara 😀

0 thoughts on “Sepenggal Cerita: Kopdar TDA Jogja dan Freelancer Indonesia

  1. saya baru tahu freelencer in dari tulisan mbak Reni beberapa waktu lalu. Inilah kesempatan untuk pengembangan diri dan mengambil manfaat dari kerja sama. Sayangnya, saya masih jauh dari kriteria menjadi member soalnya saya nggak bisa bahasa inggris jadi akan kesulitan kalo mendapatkan review job dan sejenisnya

    1. Dicoba dulu mendaftar, Pak Ies. Saya juga sudah mendaftar. Kalau saya pikir, ke depannya akan tetap ada peluang si employer ini berasal dari bangsa sendiri, jadi mumpung masih ada kesempatan.. mangga mendaftar, ikuti infonya..

      O ya, saran saya Pak Ies tidak perlu terlalu pusing dg “English skill”, kalau ada kemauan, belajar bisa sambil jalan. 🙂

  2. Ulasanmu elok tenan Phie ….#tambah lagi ilmuku …emak2 mah wes ktinggalan kereta yg lain, udah nyampe Australi si emak masih mbegogok di dapur… 🙂

    1. haha bisa saja lho, Mak Lies ini 😳
      itulah pentingnya berbagi, Mak.. dengan begitu makin banyaklah yang tahu dan berkata, “Ooh, seperti ini ta yang dimaksud Freelancer.com itu”
      Udah jadi emak gak papa, terus genjot semangat belajar, Mak Lies! :mrgreen:

  3. Salut, laporannya keren banget. Gak rugi nunggu sekian lama kalo akhirnya laporannya jadi sekeren ini 🙂
    Iyaaa kalo dipikir-pikir kita sebelumnya belum saling kenal di dumay tapi sekalinya ketemu di dunia nyata kok langsung klop ya? Jadi pengen ketemuan lagi 😉

  4. MCnya siwer tuh! Moga2 lain kali ada workshop gitu ya, biar belajarnya lebih serius. Tapi seneng lihat kopdarnya. Semoga tersambung tali silaturahim.

    1. Haha, Mak Lusi.. ternyata bukan cuma bangsa walandi ya yang siwer.. tapi kali-kali memang karena saya nyempil, Mak 😆
      Foto lainnya masih ada, tapi gegara koneksi lemot belum jadi diunggah 🙁
      Aamiin.. Jangan lupa kita kopdar ya kalau Mak Lusi ke Jogja *aseeek* :mrgreen:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *