Belanja, Antara Butuh dan Ingin

Wanita dan pernik. Dua kata itu mungkin bisa mewakili betapa pernak-pernik alias aksesoris memang tidak bisa lepas dari dunia wanita. Mulai dari yang paling simpel dan murah meriah hingga yang mewah dan mahal, bisa dijumpai dengan sangat mudah sekarang ini. Demi memanjakan kesukaan wanita masa kini, butik dan toko aksesoris menjamur di sana-sini.

kalung cantik
aksesoris cantik

Tak ketinggalan, di kota seperti Jogja pun demikian. Begitu turun gunung dan masuk wilayah kota, beberapa toko aksesoris wanita dengan sangat manis terpampang, kalau orang Jawa bilang, “ngawe-awe”. Sesekali mupeng juga saya melihat barang-barang cantik terpajang di etalase toko. Sepatu, tas wanita, bros, cincin, kalung, gelang, dan masih banyak lagi…. Namun demikian, ada baiknya saya sebagai emak wannabe mampu mengendalikan diri. For me, it’s a must!

“Berbelanjalah sesuai kebutuhan, bukan keinginan.”

Prinsip inilah yang saya pegang sejak saya tahu seperti apa nikmatnya berbelanja. Butuh versus ingin, apa sih bedanya? Beda dong! Menurut makna kamusnya saja berbeda. Yuk, kita intip di KBBI daring. 🙂

Kebutuhan, berasal dari kata kerja butuh, yang artinya memerlukan; sedangkan keinginan, berasal dari kata ingin, yang artinya mau, hendak. Ada tingkat kepentingan yang berbeda antara kebutuhan dan keinginan.

Seorang financial advisor, Aidil Akbar, selalu menekankan masalah ini saat menanggapi pertanyaan klien-nya terkait uang dan belanja, apalagi kalau sudah menyangkut penggunaan kartu kredit. Pernah suatu ketika saya mendengar siaran bang Aidil di channel radio favorit. Nama acaranya FeMale Money and Business; kalau tidak keliru ingat beliau berkata seperti ini,

“Bu, jangan sampai deh dibela-belain ngutang kartu kredit demi memenuhi keinginan. Lihat tetangga kalung and cincinnya gede, terus pengen seperti itu. Tolong, pilah antara kebutuhan dengan keinginan. Mana yang benar-benar penting, itulah yang dibeli. Jangan sampai nyesel di kemudian hari gara-gara utang kartu kreditnya numpuk!”

Olalaa… demi keinginan lalu berani menumpuk utang? Well, kalau menurut saya sebaiknya tidak seperti itu ya. Wanita Indonesia, terutama, sudah semestinya merawat diri dan tampil cantik. Namun, sewajarnya saja. Jangan sampai deh demi jorjoran dengan tetangga lalu kalung sebesar pelek becak pun rela dipakai. 😆

Dear Ladies, tidak ada salahnya kok berbelanja, tentu dengan mempertimbangkan baik-baik level kepentingan dan skala prioritasnya. Semua keputusan ada di tangan kita. Jadi, mari lebih bijaksana berbelanja. Mau tetap tampil cantik sewajarnya boleh, mau numpuk utang sampai anak cucu pun boleh. #eh hehehe So? Selamat berbelanja! 😀

0 thoughts on “Belanja, Antara Butuh dan Ingin

  1. saya bukannya menghindari sikap boros, Bubu… kadang malah kalo lagi suka langsung beli *menyedihkan ya?
    jadi, saya memang tdk suka perhiasan. paling ‘mata belo’ kalau liat model jam tangan baru atau dompet. heheheheee
    msh blm bisa pilah2 kebutuhan… 🙁

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *