Tulisan ini tercetus karena saya sedang heran. Heran? Ya, heran dengan sebuah puisi pendek yang saya tulis semalam di twitter. Sebenarnya ini adalah tantangan dari @nulisbuku. Saban harinya memang ada tantangan #PuisiMalam mulai pk. 23.00 s.d. 00.00 WIB yang dilontarkan admin twitter nulisbuku.com. Saya sih senang saja ditantang begitu, sekalian mengasah kemampuan saya menulis. Jadi, kalau tak sedang kerepotan dan mata masih bisa diajak kompromi (lalu diganjal korek api, misalnya #eh 😛 ), dengan suka cita saya akan ikut serta. Dengan syarat menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, tidak disingkat, serta NO 4la@y; lumayanlah untuk membiasakan diri menuangkan ide sepanjang lebih kurang 120 karakter (memang diminta menyisakan 16—20 karakter, red.).
Kata wajib #PuisiMalam tanggal 13 Oktober 2013 adalah KARTU. Itu umum sekali, tapi akan sangat tidak lucu rasanya jika saya menggunakan ‘kartu kredit’, sementara tidak memlikinya satu pun. 😆 Maka, saya pilih ‘kartu pos’ … dan setelah berpikir, mengutak-atik sejenak, jadilah puisi berikut:
“@phijatuasri: Ada selarik rindu di sini, di secarik kartu pos yang terhanyut sepi. Pergi, menemuimu dalam sembunyi” #puisimalam
— nulisbuku.com (@nulisbuku) October 13, 2013
Tidak ada yang lucu (malah kesannya wagu gimana gitu
), tapi ketika saya menengok twitter keesokan hari …. Walah! Empat belas orang me-retwit(RT) puisi tersebut (termasuk saya). Banyak juga yang rindu ya? Lha kok sama seperti saya. Saya juga sedang merindu seseorang, yang entah …, sedang memikirkan saya atau tidak (kasihaaan! 😛 ).
Hmm, ngomong-ngomong saking banyaknya rasa rindu itu sampai bisa saya jadikan dua tulisan yang keduanya saya ikutsertakan dalam lomba menulis. Satu di proyek buku #MyDreams-nya DIVA Press dan satu lagi di Antologi Rindu Tanpa Kata ‘Rindu’ (bisa jadi akan bertambah lagi jika saya masih saja galau dan merindu 😳 *duuh!!)
Hahaha, tapi tidak usah dibahas lagilah!
Rasa rindu itu lumrah kok … dan datangnya pun sembarangan, sesuka-suka. Yang penting bagi saya bagaimana mengemas segala macam rasa di hati (galau, sedih, senang, gelisah, cemas, takut, dsb.) menjadi karya. Di satu sisi menulis menjadi sarana terapi jiwa, di sisi lain menjadi wadah mengasah kemampuan diri. Siapa tahu nantinya saya ketiban bonus buku terbit, royalti, atau souvenir cantik hehe kan lumayan juga tuh. Iya, daripada lu-manyun! 😛 😆 So, happy writing, Pals! 😉
aku doain deh semoga ketiban royalti 🙂
aamiin.. aamiin.. aamiin..
makasih doanya, Mbak 😀