Mungkin tak banyak yang tahu, sejak kecil saya termasuk anak yang tak bisa diam lengkap dengan kebiasaan yang sering membikin Ibu geleng kepala. Beberapa hal dari masa kecil saya terbawa hingga saat ini. Satu di antaranya adalah tingginya rasa ingin tahu. Hal itu sering mendorong saya melakukan sesuatu yang mungkin terlihat/terdengar/terasa tidak lazim bagi orang pada umumnya. Contohnya? SMA … Suka Memotret Ayam 😆 Mungkin ini anti mainstream, atau bolehlah dibilang aneh, absurd, aeng, atau apapun. 
Jadi bagaimana ceritanya sampai saya punya hobi nyleneh ini?
Semua itu bermula saat saya membeli sebuah ponsel dengan kamera berkualitas lumayan sekitar dua tahun lalu. Biasalah, orang juga paham apa yang bakal sering saya lakukan dengan sesuatu yang baru. Ke mana-mana saya kantongi ponsel itu. Apa lagi alasannya, kalau bukan untuk mencari objek. Awalnya iseng lalu secara perlahan mulai mencandu. Apapun saya potret, dari yang di atas sana sampai yang menempel di tanah, asal menarik perhatian saya. Hitung-hitung belajar mencari angle yang bagus. 😉
Sampai suatu hari ….
Waktu itu Ibu sedang gemar-gemarnya memisahkan anak ayam dari induknya lalu dipiara dalam kandang tersendiri sampai cukup kuat untuk dilepas. Alasan Ibu sih supaya si induk lekas kawin-bertelur lagi-mengerami-telur menetas-dipisahkan dan begitu seterusnya. Intinya, lebih efisien waktu karena induk ayam tak punya jeda terlalu banyak untuk ngemong anak-anaknya yang lucu dan bulat itu. Cuma …, kalau dirasa-rasakan, kasihan juga anak-anak ayam itu dipisahkan dari induknya. Mereka masih membutuhkan kasih sayang induknya. Saya sering membayangkan kalau saja anak-anak ayam itu bisa bicara, kemungkinan besar mereka akan mengutuk perbuatan Ibu dan menyebut beliau, “Nenek jahat”. #eh 😆
Sayangnya, sekalipun Ibu sudah cukup andal menjadi peternak ayam; sering juga mengalami kegagalan. Pernah suatu ketika dari satu generasi peneluran hanya tersisa satu ekor yang berhasil lolos hidup. Saya memberi ia nama, Blirik. Karena tak memiliki seekor pun teman di kandang, Ibu lebih suka membiarkan Blirik berkeliaran di sekitar kandang. Ia tidak pergi, hanya berkitaran di sekitar kandang. Sering juga Blirik mengikuti Ibu ke manapun beliau melangkah ke luar rumah, meski takkan terlalu jauh.
Apa yang terjadi kemudian?
Blirik seolah sudah menjadi bagian keluarga kami … dan ini dia akibat dari domestikasi yang dilakukan Ibu. Haha kelihatan kan bagaimana saya menikmati persahabatan dengan Blirik? Tentu saja saya semakin SMA (Suka Memotret Ayam) dan bikin Ibu geleng kepala! 😆
Jadi, bagaimana menurut Sahabat? Saya berbakat juga kan menjadi fotografer majalah fauna? 




terima kasih sudah turut mendukung gerakan PKK Warung Blogger
Artikel sudah tercatat sebagai peserta
kembali kasih, Min WeBen:D
jadi pengen kopdar ma kamu phie, pasti kamu kalo cerita seru ya ,bikin tulisan juga asyik untuk dibaca… 🙂
hehehe … ayo, Mak, kapan2 kontak saya ya 😉
ini kebiasaan memotret yang unik 🙂
😆 Mbak Lidya mau juga? ke sini deh, ayam di rumah saya rata-rata suka bergaya 😀
Hihihihi… ayamnya banyak… 😀
Hehe itu rekor induk dengan anak terbanyak, 15 atau malah lebih ya.. sampai ga muat induknya, semua anaknya ndusel begitu 😆
Wah unik nih, habis ayam lanjut ke fauna-fauna yang lain.
Salam kenal.
Masih ada sih yang lain, rata-rata unggas
*geleng-geleng kepala* 😀
😆 terima kasih sudah menjadi teman Ibu saya *geleng-geleng kepala* 😛
Mari dukung gerakan PKK warung blogger, semoga saja keywoar ANAK SMA bisa dibantai dan masuk pejwan artikel ini
Salam Obat Keputihan