My First Journey: tentang Kereta, Bandung, dan Juwita Malam

My first journey? Hmm, ngomong-ngomong soal bepergian, sejak kecil saya telah dibiasakan oleh orangtua untuk ikut merasakan seperti apa asyiknya bepergian dengan jalur darat. Kebanyakan berupa short trip bersama rombongan kantor Bapak (alm.) (baca: piknik). Sayangnya, saya tak pernah merasa keasyikan menikmati perjalanan itu benar-benar 100%. Bisa jadi karena saya pergi bersama dengan Bapak-Ibu. Ketidakpuasan dan keingintahuan, dua hal itulah yang akhirnya membuat saya bermimpi suatu ketika bisa mencicipi bepergian sendiri. *dasar badung! #eh πŸ˜›

Entah, sudah berapa tahun berlalu dari saat pertama kalinya harapan itu tercetus. Pada akhir tahun 2011, akhirnya mimpi saya benar-benar menjadi nyata. Jadi, bagaimana bisa saya senekat itu pergi dari rumah? Hehe, jangan berburuk sangka dulu. Saya bukan nekat ngabur dari rumah. Meski saya menolak diantar hingga stasiun Tugu, nyatanya, saya tetap pamit kepada Ibu dan adik-adik. Niat di hati memang tidak ingin merepotkan. Jadilah, saya mengendarai Ezy (motor jadul kesayangan, red.) turun gunung dan menginapkannya di tempat parkir stasiun. Tiket kereta pergi-pulang pun sudah saya pesan sekitar dua minggu sebelum keberangkatan. Untuk membawa logistik, saya tak mau repot, cukuplah saya menyandang sebuah ransel, Rei Barito. Ukurannya pun pas sekali dengan postur tubuh mungil saya. Yes, saya siap ber-backpacker ke Bandung! πŸ˜€

tiket kereta Lodaya (Jogja-Bandung PP): satu-satunya bukti perjalanan
tiket kereta Lodaya malam (Jogja-Bandung PP): satu-satunya bukti perjalanan

Kepergian saya ke Bandung bukan juga tanpa alasan. Semua bermula dari ajakan seorang sahabat, Mbak Vira. Ia adalah salah seorang dosen Universitas Padjadjaran. Beberapa tahun sebelumnya, ia pernah menempuh studi S2 di jurusan tempat saya bekerja. Kami berkenalan dan berteman baik. Itulah, ketika sampai waktunya ia lulus menyandang M.Sc., ia begitu berharap saya bisa dolan ke Bandung dan Jatinangor.

Well, saya menyanggupi… cuma, belum bisa janji soal kepastian waktunya. Paling tidak harus mencari waktu libur panjang akhir pekan … dan, moment yang pas sekali baru saya peroleh akhir tahun 2011.

***

Jogja, Jumat malam, 30 Desember 2011

Turun gunung dalam kondisi hujan bukan hal menyenangkan, terutama bagi saya dan Ezy. *pukpuk* Namun, hal itu tak lantas membuat semangat saya meluntur. Saya harus tetap santai dan have fun, apapun yang terjadi. Alhasil, sepanjang perjalanan menuju ke pusat kota, saya asyik menghibur diri dengan bernyanyi.

Kereta kita segera tiba di Jatinegara kita kan berpisah

Berilah nama, alamat, serta esok lusa boleh kita jumpa pula

Ya, Juwita Malam … meski lagu jadul, menurut saya, itulah lagu paling keren tepat mewakili kerinduan saya akan kenangan menumpang kereta. Boleh percaya, boleh tidak … 21 tahun lamanya saya tak naik kereta! Sekalianlah, saya reunian dengan kereta. :mrgreen:

Singkat cerita, lagu Juwita Malam benar-benar menjadi original sound track (OST) perjalanan saya dalam kereta Lodaya malam itu. Sembari mendekap si ransel, mata merem-melek macam ayam kampung, saya bersenandung. Dalam hati, saya berharap bertemu si juwita malam. Sayangnya, stasiun demi stasiun berlalu … tak ada juwita malam yang muncul dan duduk di sebelah saya. Kecewa? Sedikit. Tapi, ada untungnya juga buat saya: bisa tidur setengah merebah. Hehehe. πŸ˜›

***

Stasiun Bandung, Sabtu, 31 Desember pk. 05.30

Lhoo, sudah sampai di Tanah Priangan? Batin saya tetiba diberondong pertanyaan tak mengerti. Seingat saya, Mbak Vira pernah bilang kalau kereta Lodaya biasanya sampai pk. 06.00. Wah, itu artinya setengah jam lebih cepat. Sementara itu, teks SMS dari Mbak Vira yang masuk ke inbox mengatakan bahwa ia baru bisa menjemput saya sekitar pk. 07.00. Hore!

Satu setengah jam menunggu di peron stasiun. Muka kucel, iya. Lapar, sudah pasti. Dibawa enjoy sajalah. β€œKapan lagi saya bisa melenggang tenang seperti ini?” batin saya. Saya pun duduk senyaman mungkin.

Pk. 07.00. Ponsel saya berdering. Mbak Vira!

β€œJupice, aku lupa kalau penjemput sekarang ga boleh masuk peron. Nanti kalau aku sampai di stasiun, ku-misscall, kamu langsung keluar. Ok?”

Siap, Boss!

Beberapa menit kemudian kami pun bertemu di halaman stasiun. Berpelukan! Ah, rasanya senang bisa berjumpa lagi dengan Mbak Vira. Ia masih lajang, beberapa tahun lebih tua dari saya, dan tomboy-nya itu lho, ga habis-habis. πŸ˜†

***

Komplek UnPad Jl. Dipati Ukur, satu jam kemudian

β€œAh, seger banget, Mbak!”

Hahaha, entah sadar atau tidak, kalimat itu terlontar setelah saya menumpang mandi di kamar mandi putri mushola komplek UnPad. Untung saja masih pagi, untung saja sepi, untung saja sedang libur. Pagi pertama saya di Bandung merasa beruntung karena tak perlu menumpang mandi di kamar mandi SPBU. πŸ˜›

β€œSeger, kan? Kita nunggu Mayce ke sini. Terus kita makan pagi.” kata Mbak Vira.

Setelah May datang, kami bertiga pun bergegas naik angkot ke daerah yang Mbak Vira sebut Taman Lansia. Di sana, kami masuk ke sebuah tempat makan. Kalau saya pikir sih, mirip dengan kafe berkonsep rumah. Nyaman sekali duduk ngobrol di situ. Beberapa menit kemudian sejuknya kota Bandung pun berbaur dengan menu sarapan kami: siomay dan yoghurt. *nyambung ga? πŸ˜†

Setelahnya, kami sekadar jalan kaki santai menikmati pusat kota Bandung. Tidak ada agenda khusus memang, kecuali Mbak Vira yang terlihat sibuk. Beberapa kali ia menelpon, entah siapa. Katanya sih UnPad sedang ada acara, Mbak Vira salah satu panitia, jadilah ia sibuk begitu. Karena si Tuan rumah sibuk, kami ikutan ribet. Naik taksi ke hotel, balik lagi ke toko kue. Ribet. Untunglah tak lama.

Perjalanan kami dilanjutkan ke Ciwalk. Wah, ramai nian hari itu. Sebelum kami berkeliling, kami sempat menonton gladi resik choir anak-anak asuhan Purwacaraka. Sepertinya acara pergantian tahun 2011 di Ciwalk akan sangat ramai. Sayangnya, kami tak berniat untuk bermalam di Bandung. Jadi, daripada singgah lama-lama di atrium lalu menyesal sampai ke hati, kami memilih untuk menjelajah. Biar deh kaki capek, badan pegal, asal hati senang. *tsaah!

Jelang tengah hari, kami sempatkan mampir ke sebuah toko souvenir. Hahaha saya ingat dengan Ikang, Rara, dan Nasir. Demi mengejar Juwita Malam ke Bandung, saya meliburkan jadwal les mereka. *lalu dipentung rame-rame* πŸ˜› Oleh karena itu, sebagai tanda mata ungkapan penyesalan, saya pun membeli beberapa gantungan Angry Bird untuk mereka. :mrgreen:

Habis jalan-jalan, perut lapar. Iyes! Sight seeing di Ciwalk hari itu berakhir di sebuah warung mie ramen. Asyik! Capek, tapi senang. Setimpal!

Usai dari Ciwalk, kami lanjut ke Jatinangor, Sumedang. Ya, ibunda Mbak Vira ingin kami berakhir tahun di Jatinangor, di rumah Mbak Vira. Cuma, sebelum pulang, Mbak Vira mengajak kami berdua naik Damri ke kampus UnPad Jatinangor, sekadar mampir.

***

Laboratorium Entomologi HPT UnPad 2 jam kemudian

Kami masih asyik melihat-lihat spesimen yang ada di lab. Di akhir pekan itu, suasana kampus Jatinangor sepi. Lama-lama saya bosan juga di dalam ruangan. Ngantuk! Akhirnya, saya keluar. Betah rasanya melihat-lihat pemandangan hijau yang ada.

β€œMbak, itu bukit apa?”

Saya mulai penasaran dengan sebuah bukit tak jauh dari tempat saya berdiri.

β€œBukit Geulis, Pi!” teriak Mbak Vira dari dalam.

β€œOh ….”

Saya tahu, pertanyaan-pertanyaan saya justru akan mengganggu aktivitas Mbak Vira di dalam lab. Jadi, saya tahan sampai kami pulang sekitar dua jam setelahnya.

Sore itu kami pulang berdua. May lebih dulu pulang ke rumah Mbak Vira naik ojek. Sembari berjalan kaki menuju gerbang kampus, kami berbincang banyak. Salah satunya soal bukit Geulis.

β€œAku pernah naik ke sana, Pi.”

β€œAh, mau dong, Mbak kapan-kapan aku diajak ke sana!”

Hahaha, saya, selalu suka dengan hal-hal baru dan menantang. Entah ….

***

Malam tahun baru 2012

Tidak ada yang terlalu istimewa. Tak ada tiup-tiup terompet. Namun, sungguh, diundang makan malam oleh teman sejawat (sekaligus tetangga) Mbak Vira dan nonton film hingga larut malam adalah hal menyenangkan. Asal ga sering-sering saja.

Menjelang pk. 01.00 saya kembali ke kamar. Merebah. Heran, saya tiba-tiba menangis. Sepertinya saya harus mengakui bahwa saya sedang melarikan diri dari masalah: soal hati, soal rasa, soal seseorang. Well, at least kepergian saya ke Bandung bisa sedikit meringankan.

***

Jatinangor, 1 Januari 2012

Tiket pulang sudah di tangan, tapi jadwal kepulangan saya masih pk. 20.00. Hari itu Mbak Vira ada urusan di kampus dan jadwal pendampingan mahasiswa yang akan maju Linnean Game. Akhirnya, jadwal turun ke Bandung dipercepat. Tengah hari, May dan saya turun ke kampus Jatinangor naik ojek. Bukan untuk mampir ke kampus UnPad, tetapi ke Jatinangor Town Square (Jatos). Mbak Vira dan mahasiswanya berkumpul dan belajar bersama di food court Jatos. *enak ya, kalau lapar tinggal pesan! πŸ˜›

Usai makan siang dan berkeliling membeli beberapa oleh-oleh untuk Ning dan Di, habis sudah kesempatan. Kami bertiga segera ke Bandung. Sekali lagi naik Damri dan disambung angkot. Jelang magrib, Mbak Vira dan May pamit. May tak kebagian tiket kereta ke Jakarta. Ah, sayang, ia harus pulang ke ibukota dengan bus.

Well, selesai sudah liburan saya di Bandung. Saya pun masuk ke peron, menanti kereta Lodaya membawa saya pulang ke Jogja. Lengkap rasanya, selengkap lagu yang terlantun menemani saya petang itu.

Izinkanlah aku untuk slalu pulang lagi

Bila hati mulai sepi tanpa terobati

-Yogyakarta, KLA Project-

Tulisan ini disertakan dalam GA My First Journey Wanderer Silles

my-first-journey

0 thoughts on “My First Journey: tentang Kereta, Bandung, dan Juwita Malam

  1. Aaaaaaaaa, tahun baruan di Bandung…. sungguh hal tak terduga dan teristimewa…. aku kangen…. kapan ya kita kumpul lagi ke jatinangor tentunya….. mpok Virce… cepetan lulus dan balik kemariiii…

    1. Wah, waktu itu saya sudah gabung WB cuma sepertinya belum kenal Teh Dey yak. Kapan-kapan kalau main ke Bandung, insyaAllah, saya kabar-kabar deh, Teh πŸ˜€

  2. Kenapa aku terharu pas baca ini. Apalagi sampai di adegan Mbak Phie masuk kamar dan nangis. Perjalanan itu akan sangat menyenangkan bila dilakukan tanpa beban. Kalau ada beban, sudah bisa dipastikan saat itu kita sedang berlari. Sadar atau tidak, hehehe…

    Lain waktu, aku pingin banget melakukan perjalanan sendirian ke rumahmu ya Mbak πŸ™‚ Terima kasih atas partisipasinya.

    1. Aduh, Jeng Juri terharu …. *sodorin tisu*
      Hehe jadi ketahuan kalau jago nangis juga aku, Priit *tutup muka*

      Kembali kasih, ya. Trims berat sudah mampir ke sini πŸ™‚
      Kapan-kapan kalau mau ke Jogja kasih kabar, Priit.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *