Sedikit Kisah soal TORCH

Apa yang terlintas di benak kita manakala mendengar istilah TORCH? Bagi orang yang tak mau menambah perbendaharaan ilmu dan/atau ignorant, bisa jadi istilah kesehatan ini bukan termasuk yang diprioritaskan. Padahal, kalau saja mau sedikit meluangkan waktu mengedukasi diri, saya yakin kejadian infeksi TORCH bisa diminimalkan.

Secara ringkas, TORCH merupakan singkatan dari T=Toxoplasmosis, O=other (shypilis, varicella-zoster, parvovirus B19), R=Rubella, C=Cytomegalovirus, dan H=Herpes. Saya sendiri mulai tahu istilah ini sekitar 5 tahun lalu. Saat itu saya masih aktif mengikuti milis Femina & Friends. Sayangnya, hanya sedikit informasi yang saya dapat saat itu karena anggota milis banyak dan tema diskusi berganti-ganti saban hari. Seiring dengan bertambahnya kesibukan, ingatan soal TORCH seolah dorman.

Tahun lalu, 2013, ingatan soal TORCH kembali menggema di lipatan otak saya, bahkan beberapa kali menjadi tema diskusi kamar. Saat itu adik saya, Ning, membagi cerita soal Zaki, anak lelaki teman SD-nya. Zaki adalah seorang balita penyandang tuna rungu karena gangguan virus Rubella. Untuk membantunya berinteraksi, sebuah alat bantu dengar (ABD) dipasang di kedua telinganya.

Beberapa kali Zaki dan si ibu datang ke rumah untuk dibantu terapi bicara. Ning bukan terapis, tetapi di jurusan PAUD yang ia ambil, ia mendapat pengetahuan sedikit banyak soal penanganan anak berkebutuhan khusus. Ya, soal uang lagi-lagi menjadi alasan utama. Orangtua Zaki tidak mampu membayar terapis. Jadilah, mereka berusaha dengan cara sendiri. Ah, semoga apa yang dilakukan Ning untuk Zaki bisa bermanfaat. Aamiin.

Hanya beberapa minggu Zaki datang ke rumah kami. Saya tak tahu persisnya. Yang jelas, setelah beberapa minggu datang, si ibu pamit. Sejak itulah suara Zaki saat menjalani sesi latihan bicara tak lagi terdengar. Tidak ada lagi kata, “Meeraaah … Biirruuu …” seperti yang biasa diucapkan Ning untuk membantunya bicara dan mengenal warna.

Lepas dari Zaki, kamar saya mendadak sepi. Tidak ada lagi diskusi kamar soal penanganan anak berkebutuhan khusus. Mungkin, Gusti Allah hanya memberi saya jeda. Bukan menutup jalan untuk mengenal TORCH dan efeknya secara lebih dekat.

Syukur alhamdulillah, jendela ilmu saya terbuka kembali beberapa waktu kemudian. Ketika itu secara tak sengaja saya berkenalan dengan mak Gracie, seorang emak blogger sekaligus founder komunitas Rumah Ramah Rubella. Di blognya, mak Gracie sering membagi kisah tentang Ubii, putrinya yang menyandang Congenital Rubella Syndrome. Ah, saya jadi teringat Zaki. Rasa trenyuh dan empati yang timbul kala membaca kisah mak Gracie membuat saya penasaran. Apalagi dalam waktu berdekatan, mak Gracie menggelar giveaway. Temanya masih seputar Rumah Ramah Rubella.

Rumah Ramah Rubellacredit

Sayang sekali, saya ketinggalan kereta. Redaksi sedang sangat padat dengan agenda distribusi jurnal. Draft tinggal draft, terpaksa tidak saya ikutsertakan. Sedih. 😥 Meski gagal menjadi peserta giveaway, saya berharap masih diberi kesempatan untuk menulis soal TORCH sebagai bentuk dukungan saya kepada mak Gracie dan Rumah Ramah Rubella. I do hope so.

0 thoughts on “Sedikit Kisah soal TORCH

  1. Sekedar berbagi cerita. Ada beberapa teman yang pernah terkena TORCH. hanya saja, herpes nya negatif. teman saya ini tidak melakukan cek lab sebelum menikah. anak pertama, meninggal terkena TORCH. angkanya pun sangat tinggi. bayinya hanya bertahan 2 minggu dgn bantuan selang. pengalaman hamil pertama, membuat dia tak ingin mengulangi untuk anak keduanya. sebelum hamil anak ke dua, tes lab, dan hasilnya TORCH masih sangat tinggi. dengan berobat dokter, angkanya pun bisa negatif. dia pun hamil anak kedua. tapi tidak disangka, anaknya pun masih terinfeksi TORCH. sekarang masih bs bertahan, alhamdulilah. temanku yang kedua, pas hamil terkena rubella, dan akhirnya tuna rungu. pelajaran buat dia, bahwa sebelum nikah. merencanakan hamil perlu tes lab untuk memastikan ada TORCH atau ga. Ada lagi, 2 Temanku yang lain, pas hamil terdeteksi ada TORCH. Dokter menyarankan, menggugurkan (usianya 3 minggu kehamilan) atau mempertahankan dengan konsekuensi anaknya akan cacat. temanku yang satu memilih menggugurkan, dan temanku satunya memilih mempertahankan. alhamduliliah, sekarang dengan keterbatasannya, dengan dibantu alat dengar dia bs seperti anak yang lain…
    Cerita temanku yang lain. teman kantorku yang dulu, mengalami beberapa kali keguguran, sudah empat atau lima kali. aku mnyarankan untuk berobat ke dokter dan tes lab, ybs gak berkenan, dia lebih memilih alternatif. walhasil, karena gak kuat dengan pengobtan alternatif dan seringnya berpindah2 pengobatan alternatif, ginjalnya gak kuat, dan akhirnya meninggal
    Berdasarkan pengalaman2 teman2ku, lebih baik kita mendeteksi secara dini, cek lab, dan melakukan pengobatan sebelum menikah atau merencanakan kehamilan agar hal-hal yang tidak kita inginkan bisa kita hindari

    Salam

  2. dari ngeblog aku jadi tau mengenail torch dulu padahal aku gak kenal sama sekali. Searakng jadi lebih tau dan harus bagaimana. Bisa memberitahukan orang2 terdekat mengenai ini

  3. saya juga baru tau TORCH setelah keguguran, dokter menyarankan untuk tes TORCH, karena biayanya masih mahal, jadinya saya baru tes toxoplasmanya dulu, alhamdulillah negatif, semoga untuk yang lain juga negatif nantinya… amiiiin 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *