Empat Jam di Museum Sasmitaloka Panglima Besar Jenderal Soedirman

Orang bilang, bicara sejarah sama artinya bicara romantisme masa lalu. Ada benarnya, menurut saya. Menilik masa lalu, mengenangnya, merasakan kembali hidup di saat manis, pahit, getir itu … rasanya menakjubkan; rasanya ada haru-biru yang kemudian menancap kembali di hati. Hmm, bisa jadi itu adalah satu di antara alasan saya menghadiri undangan diskusi sejarah TNI Angkatan Darat yang digelar pada hari Sabtu, 3 Januari 2015 pk. 09.00 oleh komunitas Djokjakarta 1945.

Undangan acara yang dikirim via SMS oleh mas Penyo (mas Eko Istiono), saya terima tepat di akhir tahun 2014. Alangkah senang, belum juga tahun berganti, sudah ada agenda akhir pekan menanti yang sayang rasanya untuk dilewatkan. Iya, kan, Sahabat? πŸ˜‰

Acara diskusi gratis ini awalnya akan dilaksanakan di Museum TNI AD Darma Wirayudha, Jln. Jenderal Sudirman. Namun, sehari jelang acara, berdasar sebuah pesan singkat yang saya terima, lokasi acara dipindahkan ke Museum Sasmitaloka Panglima Besar Jenderal Soedirman, Bintaran. Baiklah, saya catat baik-baik! πŸ˜‰

museum sasmitaloka dari depan

***

Sabtu, 3 Januari 2015

Hujan mengguyur kaki Merapi sejak pagi buta. Ah, ya, Januari … hujan sehari-hari. Semangat saya tersedot oleh mendung dan dinginnya suasana. Saya khawatir tidak bisa datang. Untunglah, mbak Cahya mengirim kabar kalau cuaca pusat kota terang benderang. Alhamdulillah.

Hujan mereda sekitar pk. 08.30. Sayang, Ezy, tidak mau diajak ngebut ke kota lekas-lekas. Persneling-nya kendor, harus dibawa ke bengkel segera. Kalau tidak, bisa-bisa persneling copot di jalan. Sambil turun, saya mampir ke Prima Motor. Ning yang saya ajak juga, saya minta berangkat duluan.

Alhamdulillah, hanya 5 menit setelah ditangani mekanik, semua masalah beres. Saya pun bergegas meluncur ke Sendowo, menjemput mbak Susi Melina.

***

Pk. 09.30. Akhirnya sampai juga saya dan mbak Susi di lokasi. Ning dan mbak Cahya menyusul kemudian. Sambil menunggu acara dimulai, kami dan para peserta lain dipersilakan menikmati sajian ketela rebus, kacang rebus, pisang rebus, dan wedang setup jambu hangat. Ah, ini dia sajian klasik yang membawa kami melintas masa lalu. πŸ˜†

suguhan klasik menemani diskusi
suguhan klasik menemani diskusi

Lima belas menit kemudian, acara diskusi pun dimulai. Acara yang dipandu oleh mas Penyo ini, dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, disusul sambutan dari ketua Djokjakarta 1945, pak Agung Surono. Setelah sambutan ketua, barulah diskusi inti dimulai.

Narasumber yang dihadirkan dalam diskusi ini adalah Letkol. Infanteri Eko Ismadi (Dinas Sejarah Angkatan Darat). Dalam materi yang dipaparkan, beliau menyinggung beberapa hal mengenai lingkup sejarah, organisasi, dinas sejarah TNI AD, hingga spiritual sejarah. Hal-hal menarik  baru saya ketahui di acara ini. Misalnya, soal tentara AS yang ternyata belajar penggunaan senjata AK dari tulisan Dr. Abdul Haris Nasution, seorang jenderal yang lolos dari aksi G30S/PKI. Wow! 😯

pemateri diskusi: Letkol Infanteri Eko Ismadi (foto oleh Susi Melina)
pemateri diskusi: Letkol Infanteri Eko Ismadi (foto oleh Susi Melina)
asyik menyimak pemaparan pemateri
asyik menyimak pemaparan pemateri

Acara diskusi siang itu begitu hidup, apalagi ditambah dengan guyonan yang diselipkan oleh pemateri. Alhasil, acapkali para peserta tertawa terbahak. Ini adalah satu pengalaman tersendiri bagi saya karena setahu saya orang-orang militer memiliki pembawaan tegas, disiplin sehingga terkesan kaku.

Diskusi akhirnya diakhiri sekitar pk. 12.30. Peserta didaulat untuk berfoto bersama pemateri. Selanjutnya, ini bagian yang saya suka: jalan-jalan melihat isi museum. Yuk! πŸ˜‰

ruang tengah dan kamar PB Soedirman

senjata, telepon, piagam penghargaan PB Soedirman

Nah, setelah puas berkeliling, saatnya para gadis beraksi! πŸ˜€

gadis-gadis pun beraksi (foto oleh Susi Melina)
gadis-gadis pun beraksi (foto oleh Susi Melina)

Wah, kalau dituruti bisa sampai magrib kami berfoto-foto! πŸ˜† Untunglah, karena perut sudah mulai lapar, kami pun sholat Dhuhur lalu pulang. Yeay! Senang rasanya bisa refresh sejenak seperti akhir pekan pertama di Januari 2015 ini. Sekian cerita akhir pekan dari saya, happy weekend, Pals! πŸ˜‰

0 thoughts on “Empat Jam di Museum Sasmitaloka Panglima Besar Jenderal Soedirman

      1. Nurmberg mah lagi musim sakit batuk pilek nih… Cuacanya ngga menentu, seminggu suhu diatas 5 derajat, eeehh besok2nya minus dan turun salju lagi… jadi ini di rumah banyak yg kena batuk pilek, termasuk teteh yg agak sedikit parah.. πŸ™

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *