Kopdar Hore "Sambel Pete"

20 Januari 2015 lepas waktu subuh

Nyawa saya seolah dipaksa masuk kembali ke alam nyata pagi itu. Ada apa? Ponsel saya tiba-tiba melenguh (eh, si Sam—ponsel jadul saya—bukan sapi, sih). Maksud saya, suara getaran si Sam  yang mirip suara sapi itu membuat saya harus bangun segera. Seseorang di seberang sana sedang merindukan suara saya, mungkin. Ah, daripada ge-er, segera saja saya beringsut menuju meja belajar. Begitu tahu siapa, saya segera mengangkat telepon.

“Hallo, assalamu’alaikum, Priit …”

Suara perempuan yang saya sapa Priit itu tak jelas. Hmm, pagi-pagi kok sudah susah sinyal, lho? Ckckck… nasib hidup di kaki gunung. 😆 

Masih dengan sisa keheranan, “Ada apa kok sepagi itu Priit menghubungi saya?” … akhirnya, saya sampaikan saja via pesan SMS agar Priit meng-SMS saja. Sayang sekali sebenarnya jika sampai ada hal penting yang perlu ia sampaikan via telepon, gara-gara sinyal masih merem-melek (seperti mata saya pagi itu), jadi gagal.

Dari beberapa kali berbalas pesan, saya baru ngeh kalau si empu Apikecil itu baru saja tiba dari Bandung. Hmm, pantas saja beberapa waktu sebelumnya saya melihat foto Teh Nchie Hanie berdua dengan Priit. Jadi, ini ceritanya safari kopdar beberapa kota, ta? Elok tenaaan! :mrgreen:

O ya, kata Priit, suami tercinta (Masbro Hakim) akan menjemputnya di Jogja, lalu sama-sama pulang ke Panaongan, Jember.

“Mas Hakim dari Jember njemput aku, datangnya kemarin sore. Jadi ini rencanae kita ketemuan di Jogja. Tapi malah belum ketemuan ….”

Sampai di kalimat itu, senyum saya mengembang. Mereka berdua ini pasangan yang bikin saya iri. Entah karena mereka sama-sama pecinta alam, atau karena sama-sama nyastranya kalau sudah menulis tentang satu sama lain. Hahaha, yang gak percaya, jangan percaya saya! 😛

Singkat cerita, saya minta Priit memberi kabar kalau memang sekiranya di hari itu kami bisa berjumpa. Kopdar kan tidak harus di tempat makan, e tapi kalau pas hari kerja, saya hanya bisa ngabur saat jam istirahat kantor alias jam makan siang saja.

***

 

Sekitar pk. 11.00 waktu Bulaksumur

Saya bertanya tempat kopdar kepada Priit (sekali lagi). Maklumlah, posisi mereka yang tanpa kendaraan pribadi itu membuat saya rada cemas, entah. Khawatir gagal kopdar, bisa jadi. Sebelumnya, Priit sempat berkabar, ia dan Masbro masih di perpustakaan Cak Nun di dekat tempat kost adiknya. Saya pun menawarkan diri untuk datang ke sana, tapi jawaban Priit sedikit meleset dari perkiraan. Katanya, kami ketemu di nol kilometer saja. Oh? Okelah!

***

 

Pk. 12.00

Usai sholat Dhuhur, saya meluncur ke kawasan nol kilometer. Bagaimanapun senangnya saya akan berjumpa Priit, saya tetap tak bisa menahan lapar, Saudara-saudara! Dalam hati saya berharap, “ Mudah-mudahan nanti kopdarnya bisa disambi makan.” 😛

Sembari menempuh perjalanan, saya terbayang soal kenangan Blogger Nusantara 2013 silam. Bersama Priit, mbak Esti Sulistiyawan, auntie Mechta, dan mbak Susindra, saya pernah terlibat obrolan seru sampai ngakak-guling-guling. Ya ampun, diam-diam kami menyimpan bakat ndhagel juga! 😆

Bayangan sambil jalan itu tanpa terasa menemani saya hingga merapat di tempat parkir Kantor Pos Besar.

“Hei, mereka ada di mana?” tanya saya dalam hati.

Sebuah pesan singkat pun meluncur ke nomor ponsel Priit. Rupanya mereka duduk ‘bersembunyi’ di balik patung LOVE… (iiih, so sweet!). 😛 Begitu saya menyeberang, barulah saya tahu posisi mereka. Sapaan dan jabat tangan erat menyambut saya. Ah, Priit, Masbro Hakim … akhirnya saya berkesempatan jumpa lagi. Senangnya! 😀

O ya, saya pikir mereka hanya berdua. Ternyata Masbro mengajak serta seorang teman dari Jember yang berperan juga sebagai juru jepret. Hihihi, sukses nampang tanpa basa-basi donk pasangan ini. Jadi mupeng saya! 😛

Untungnya semua ke-mupeng-an itu tersamar oleh rasa lapar dan panasnya suasana nol kilometer siang itu. Suasana itu pula yang bikin saya bersedia ndlosor beralas duduk sepatu, apalagi ketika Priit menawari saya makan.

Makan di mana?

Di depan mata! 😉

Hahaha, saya baru sadar kalau ada seorang ibu penjaja nasi bungkus di dekat kami. Baguslah, pucuk dicinta ulam tiba! Nasi, sayur tahu, dan sambal petai pun jadi menu makan siang kami. Sebagai tambahan, saya keluarkan kotak bekal jingga yang berisi sayur dan lalap hasil petik kebun sendiri: bayam, bayam merah, mentimun, kemangi, dan beluntas. Yap! Berbagi itu indah, kan? 😉

makan siang spesial (foto oleh Masbro Hakim)
makan siang spesial (foto oleh Masbro Hakim)

Makan siang kami disempurnakan dengan pemandangan nol km yang tak begitu padat, kaki bebas buat ndlosor. Benar-benar perpaduan yang pas! 😉 Meski demikian, bagi beberapa orang, makan di pinggir jalan begitu mungkin tak pernah menjadi pilihan, atau terlihat ‘gimana gitu’. Itu saya baca dari ekspresi beberapa pasang mata para pengendara yang berhenti di traffic light di dekat kami. Sudahlah, biar. Yang penting, kami hore-hore saja melakoninya. *cuek mode on sambil elus perut* 😆

Usai melahap habis menu makan siang spesial, kami lanjut lagi mengobrol. Bedanya, hanya pindah tempat saja. Cari spot yang lebih nyaman buat duduk mengobrol. Ketemu! Ya, bangku di depan pagar Gedung Agung memang nyaman untuk cangkrukan.

cangkrukan bareng tamu istimewa dari Jember
cangkrukan bareng tamu istimewa dari Jember

Bahan obrolan kami berkisar soal kegiatan pemuda, soal siaran mereka di RRI Jember, ngrasani beberapa sahabat blogger Jember (kang Lozzakbar dan Jaswan, dua di antaranya yang akhir-akhir ini jarang sekali update di linimasa twitter), juga sahabat blogger dari Jogja yang saat ini merantau di ibukota: Vierda.

“Mbak, sketsa hadiah dari Vierda udah sampai di sampeyan?”

“Udah, Priit. Kata Vierda COD. COD apanya, lha wong dak ambil sendiri kok, gak di-delivery! Hahaha…”

Vierda, si empu Wanderer Silles itu pernah menggelar giveaway dan Priit adalah jurinya. Para pemenang giveaway mendapat hadiah sebuah sketsa yang menggambarkan pengalaman yang ditulis.

“Belum jadi kupajang, Priit. Masih dak taruh meja kamar lengkap sama plastik pembungkusnya.”

***

Seberapapun lamanya ngobrol sana-sini dengan teman yang lama tak berjumpa, rasanya hanya sebentar. Padahal jam di ponsel saya sudah menunjuk pk. 13.45. Waduuh! Sebelum kena toyor, saya harus segera pamit, tapi sebelumnya foto berdua dulu dengan Priit. 😉

Semoga lain waktu kami masih diberi kesempatan berjumpa dan mencicipi lagi sambal petai dan lalapan. Aamiin.

pose hahahihi bareng Priit
pose hahahihi bareng Priit (foto oleh Masbro Hakim)

Ya, beginilah senangnya menjadi seorang blogger, sesekali waktu bisa kopdar. Di mana? Di mana saja. Bahkan di tempat yang kadang dianggap tak mungkin, bisa jadi justru menjadi tempat paling berkesan. Kopdar hore “sambel pete” ini, misalnya.

Jadi, sudahkah Sahabat berkopdar hore bulan ini? 😉

0 thoughts on “Kopdar Hore "Sambel Pete"

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *