Sabtu, 19 Desember 2015
Meski gerimis pagi itu turun, saya harus ke kota. Ya, ada acara akhir pekan bersama Indonesia Tera. Kami, 15 blogger Komunitas Blogger Jogja, akan diajak ke Desa Bahasa Borobudur dan berkenalan dengan founder-nya.
Di kantor Indonesia Tera yang baru (Jln. Wora-Wari A-74 Baciro, Yogyakarta), kami disambut oleh mas Tri ‘TePe’ Prasetyo, mas Lukito ‘Luluk’ Adi, dan kru Indonesia Tera. Setelah briefing singkat, kami pun berangkat ke Magelang. Lama perjalanan sekira 1,5 jam. Sesampai di sana, kami disambut oleh Mr Hani Sutrisno dan kru Desa Bahasa yang rupanya mahir juga bermain orkes angklung. Salut!
Sebelum materi utama, dilakukan penyerahan sampul buku kepada Mr Hani oleh mas Luluk. Buku tersebut adalah buku Mr Hani yang kesembilan. Sebelumnya, pada tahun 2012, beliau pernah menerbitkan buku serupa dan menjadi best seller. Hal ini menjadi penyemangat Mr Hani untuk menerbitkan versi lengkapnya, hingga akhirnya terbitlah buku How to Master Vocabulary for Daily Conversation (Complete Version) (review buku bisa dibaca di sini).

Dalam acara ini, Mr Hani juga memperkenalkan kami dengan Desa Bahasa Borobudur. Desa kelahiran beliau ini begitu istimewa. Terletak di lereng Menoreh, tepatnya berlokasi di Dusun Parakan, Desa Ngargogondo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.
Terbentuknya Desa Bahasa hingga saat ini adalah berkat perjuangan tanpa henti selama 16 tahun. Mr Hani mengelola Desa Bahasa sejak tahun 1998. Kala itu semua program belajar diberikan secara gratis kepada siapapun. Sayangnya, antuasiasme ini tak sejalan dengan masalah finansial. Desa Bahasa pernah vakum berkegiatan selama 5 tahun karena masalah tersebut. Setelah secara resmi dinyatakan sebagai Desa Bahasa oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI pada tahun 2007 dan dibuka kembali pada tahun 2011, Desa Bahasa Borobudur kembali terlihat geliatnya dengan program belajar yang jauh lebih apik, sarana prasarana yang lebih memadai, dan pengelolaan yang lebih rapi.
Saat ini Desa Bahasa memiliki lima ruang kelas, ruang kerja, lobby dan pemberdayaan masyarakat. Jadi, Desa Bahasa juga memberdayakan masyarakat? Iya, dengan program bantuan PNPM Mandiri Pariwisata, warga diberdayakan untuk mengelola homestay bagi peserta belajar yang menginap. Sebesar 80% dari dana bantuan tersebut dialokasikan untuk homestay. Tidak hanya itu, pemberdayaan masyarakat juga mencakup bidang pengembangan softskill. Dalam mengelola Desa Bahasa, Mr Hani dibantu oleh sembilan orang pegawai yang kesemuanya adalah warga asli Desa Ngargogondo.

Lalu program apa yang disuguhkan jika kita berlibur sembari belajar di Desa Bahasa? Salah satunya bernama Holiday English Program. Program belajar reguler (berbayar) ini berlangsung selama 6 hari untuk masyarakat umum di luar Ngargogondo. Biasanya eduwisata ini digelar tiap tanggal 10 dan 20 setiap bulannya, atau menyesuaikan dengan jadwal yang telah disepakati.
Secara garis besar program belajar di Desa Bahasa, yaitu:
Hari pertama, peserta diajak ber-eduwisata dengan memberi makan kambing atau sapi dan wisata berkeliling desa, dan melihat pemandangan persawahan, tegalan (perkebunan).
Hari kedua, peserta diajak berwisata ke kerajinan gerabah di Desa Karanganyar.
Hari ketiga, peserta diminta untuk praktik berbicara bahasa Inggris dengan wisatawan asing di Candi Borobudur.
Hari keempat, peserta diajak menyaksikan sunrise dan outbound.
Hari kelima, city tours dengan mengunjungi Candi Pawon, Candi Mendut, Artos Mall, dan sekitarnya.
Hari keenam, rafting di sungai Elo.
Paket eduwisata di atas, bisa juga diadakan selama sehari, jika tamu menghendaki.
Wah, seru ya! Saya sudah membayangkan betapa asyiknya belajar dalam suasana fun begitu, hehehe. 😆
O ya, hari itu Mr Hani juga memperkenalkan kami dengan metode pembelajaran di Desa Bahasa. Namanya metode jari. Mengapa disebut metode jari? Karena para peserta diajak untuk belajar sembari menggerakkan jari tangan ke sana-sini sambil berteriak lantang.
“I saya, you anda, we kita, they mereka, he dia laki-laki, she dia perempuan”
Wah, iya, seperti yang disampaikan Mr Hani sebelumnya. Kami belajar seperti anak kecil. Tapi, kalau dengan metode ini belajar menjadi lebih gampang, mengapa tidak?
Usai belajar singkat dengan metode jari, kami diajak short tour ke sekitar Desa Bahasa. Dipandu oleh Mr Miftah, peserta mengunjungi beberapa homestay serta memberi makan sapi sambil menanyakan beberapa pertanyaan dalam bahasa Inggris. Hahaha, a bit ridiculous … tapi, di situlah sisi fun yang lain daripada yang lain 😆


Kami juga menjajal permainan kelompok. Berteriak, berlarian sana-sini, tertawa … meski siang lumayan terik, rasanya kami tetap senang dan bersemangat. Apalagi sepanjang perjalanan kami diajak bernyanyi oleh Mr Miftah. In English? Of course! Hmm, entah mengapa, pengalaman itu membuat saya teringat kenangan jaman aktif berlatih Pramuka. 😀
Sekembalinya ke kantor Desa Bahasa, kami berkesempatan menengok lobby dan beberapa buku karya Mr Hani. Semuanya terpajang rapi di etalase. Sayangnya, perjumpaan hari itu mesti berakhir setelah sesi hiburan. Ah, kalau boleh mengajukan permintaan, saya masih mau liburan di Desa Bahasa. Serius! Sehari bersama Desa Bahasa rasanya kurang. Bukan maruk, tapi belum puas saja belajarnya. Hehehe 😛
Well, setelah serangkaian kegiatan (yang melelahkan sekaligus menyenangkan) hari itu, jelang pk 15.00 kami pamit. Sebelumnya tak lupa berfoto bersama di depan kantor desa wisata. Sampai jumpa lagi! See you next time, Desa Bahasa!

Catatan:
Sahabat yang berminat belajar di Desa Bahasa Borobudur dapat menghubungi di alamat:
Desa Bahasa Borobudur
Dusun Parakan RT 02/02 Desa Ngargogondo Borobudur Magelang
e-mail: desabahasa@gmailcom
website: www.desa-bahasa.com
Wah. Lengkap banget reportasenya. Mantap!
Seru ya eduwisata di Desa Bahasa ini, jadi pengen ikutan Holiday English Program-nya, biar bisa ngobrol sama kambing, eh sama wisatawan asing. 😀
Salam kenal, mba. 🙂
http://penjajakata.com/
weeh lah, ikut event ini? mantab pollll deh
Wah, kemaren itu nggak sempet lihat bagian lobby ternyata 🙁 kapan-kapan harus ke desa bahasa lagi nih.. hehe
weelhaaaa ora ajak2 akuuuu
Acaranya seru banget ya mbak.. kalo di Bandung ada gak ya? Hehehe
seru yaa ada desa bahasa nyaa
pengen deh kesana jadinya
Acaranya luar biasa banget. Duh jadi kangen Mas Tepe deh.
Dijamin pesertanya fun banget ikut belajar di desa bahasa, liat programnya menarik danseru punya…hehehe