sewindu

#CurhatRedaksi: SEWINDU

Sewindu? Bukankah sewindu sama dengan delapan tahun? Ini bukan pertanyaan buat siswa-siswa saya, justru ini pertanyaan untuk diri sendiri. Ya, seperti sebuah kesempatan berharga untuk mawas diri.

Pada akhir April delapan tahun lalu yang rasanya seperti baru kemarin untuk pertama kalinya saya melangkahkan kaki masuk ke dalam ruang redaksi jurnal ilmiah. Sadar sepenuhnya bahwa ketika itu roda petualangan saya dimulai. … dan memang benar kata orang, first step always hard.

 

Tasking Redaksi dan Stres

Ada banyak hal yang belum saya ketahui tentang proses publikasi jurnal ilmiah. Bahwa menjadi managing editor alias redaktur pelaksana jurnal ilmiah itu bukan saja soal administrasi, melainkan juga termasuk mencari tahu rekomendasi penelaah/peer reviewer yang ahli di bidangnya lalu menghubungi, disusul dengan mengirim berkas manuskrip. Kalau tejadi keterlambatan waktu menelaah, saya juga perlu menagih.

Di redaksi saya juga belajar dari nol tentang dasar-dasar layout jurnal berikut segala hal mendetailnya. Bagian recto punya aturan sendiri, begitu juga dengan verso. Tidak boleh terbalik dan harus konsisten. Selesai proses layout, ada yang namanya cetak proof dan proof reading. Saya perlu pergi ke percetakan terpercaya demi mendapat layanan cetak terbaik.

Well, semenjak itu kewajiban dan networking berkembang pesat dan saya stres karenanya. Betul, saya mulai terbiasa dengan multitasking, tetapi memikirkan segala tasking redaksi bersamaan membuat saya gampang sekali merasa penat. Sayangnya, tidak mungkin memisahkan stres dari pekerjaan redaksi. Impossible! 😥

Dalam rentang waktu dua tahun pertama, pernah suatu ketika saya terpikir untuk resign, namun urung saya teruskan. Semua bermula lantaran pikiran saya begitu penuh. Urusan pekerjaan bercampur-aduk dengan urusan hati. Karena alasan itu juga, saya pernah membenci diri sendiri. Mengapa bad mood saya tak kunjung selesai? Mengapa saya belum juga bisa bekerja layaknya seorang pro? Ugh, rasanya tak tertahan; rasanya ingin kabur saja. 

 

Saved by the Blog

Dalam pertikaian batin, apa yang bisa saya perbuat? Di satu sisi, saya dituntut untuk tetap produktif; di sisi lain saya tidak nyaman dengan stres yang mendera. Menjadi pro ternyata tak semudah berangan. Saya perlu berhenti sejenak. Rehat. Terus-menerus bekerja dalam kondisi bad mood tidak baik untuk kesehatan jiwa raga.

Sebagai pelarian … hahaha (((pelarian))) 😆 … menulis menjadi pilihan. Saya sangat bersyukur menekuni kegemaran ini sejak kecil. Dari bentuk surat, puisi, pantun dan karangan bebas zaman SD; berlanjut ke buku diary di era senandung masa puber; sampai akhirnya berwujud blog, kesemuanya saya suka. Jadi, bila kegemaran ini lantas berlanjut sampai ke redaksi yang-enggak-jauh-jauhlah-dari-menulis, bukankah itu seperti kesukaan baru yang sebenarnya hanya perlu waktu untuk bisa lebih mencintainya? Ya, tentu saja. Yang perlu saya lakukan adalah menemukan formulasi paling pas untuk menghadapi “kegilaan” redaksi yang ujung-ujungnya pasti membikin stres.

Jadilah, setelah ide menulis sebagai pelarian itu mengemuka, postingan bertema redaksi pun menambah warna di blog pribadi. Seingat saya, tag pertama yang saya gunakan adalah “sudut redaksi”. Karena lambat laun saya merasa tag itu terlalu kalem, saya menggantinya dengan #curhatredaksi. Saya merasa istilah “curhat” jauh lebih bebas, berwarna, dan to the point. 😆 Soal isi, silakan cek sendiri, ya. Seingat saya ada beberapa tutorial, laporan singkat hasil mengikuti workshop jurnal, juga cerita-cerita random. Berwarna, kan? 😛

Ruang redaksi, ada banyak cerita di dalamnya

 

Open Journal System dan Akreditasi Jurnal Nasional

Enam tahun setelah saya masuk ke redaksi, tepatnya awal November 2016, tema jurnal online menjadi pembicaraan penting di aula Klub Bunga Butik Resort, Batu-Malang. Salah seorang pemateri acara Penataran dan Lokakarya Nasional (Penloknas) Pengelola Jurnal Ilmiah ke-40 yang diselenggarakan oleh Universitas Negeri Malang menyampaikan bahwa jurnal ilmiah perlu dikelola oleh orang-orang “gila” kalau ingin mapan, apalagi dengan kondisi teknologi internet yang kian bertumbuh.

Benar, beralih dari jurnal offline menjadi online bukan perkara mudah. Setidaknya saya butuh waktu kurang lebih enam bulan untuk mengerti setiap role yang ada di dalam open journal system (OJS). Saya benar-benar bersyukur karena basic saya sebagai blogger memudahkan proses belajar itu. Coba kalau jauh sebelumnya saya menganggap menulis buku diary saja cukup untuk membuang stres; belum tentu secepat itu saya paham multirole OJS.

Kehadiran saya di acara Penloknas ke-40 itu sekaligus mencari tahu strategi terbaik, mengingat ada target akreditasi jurnal yang perlu dicapai sesegera mungkin. Mumpung kondisi sedang dalam masa peralihan.

Alhamdulillah, setelah banyak upaya dikerahkan, jurnal dinyatakan lolos pengajuan berkas akreditasi online pada periode Maret 2017. Terbayar sudah segala lelah dan penat selama ini. Herannya, lega yang teramat justru membuat saya tak bisa berkomentar apa-apa saat ketua dewan redaksi mengirim sebuah foto tanda ucapan selamat.

What should I say? Kalau sudah spechless, saya hanya dapat bergembira dengan nyengir selebar-lebarnya. Ekspresi serupa itu pula yang bisa saya beri saat menerima potongan tumpeng perayaan di sekretariat Departemen HPT.

JPTI
Tasyakuran akreditasi JPTI: nyengir lebar setelah menerima potongan tumpeng (credit: Prof. Achmadi Priyatmojo)

 

Ya, itu peristiwa penting setahun lalu dan masih saja tergambar jelas dalam benak saya. Tahun ini, tepat sewindu bersama redaksi jurnal, ada hal lain yang juga layak untuk saya syukuri. Apa itu? Hal sederhana bernama formulasi agenda harian yang tentunya sudah pas dengan kapasitas saya. Saya tidak ingin selamanya disebut “gila kerja” karena “kegilaan” yang terjadi di redaksi. Menjadi jurnal terakreditasi bukan berarti alasan untuk melupakan hidup seimbang. Kesehatan adalah modal penting; jadi mau seperti apapun target redaksi, kini saya menjalaninya dengan lebih enjoy.

Sewindu dan keseimbangan yang sejak dulu saya inginkan; tidak ada lain, kecuali saya terima dan lakukan dengan penuh kesyukuran. Semoga tahun ini segala urusan terkait redaksi jurnal diberi limpah kemudahan dan kelapangan. Aamiin. 🙂

1 thought on “#CurhatRedaksi: SEWINDU

  1. Selamat ya Phie… Dua jempol utkmu.. aih..pengalaman sekali bikin jurnal skripsi buatku puyeng..apalagi nguplek ngurusi buanyaaak jurnal ya.. WOW lah pokoknya..
    Semangat terus yaa….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *