uleg bumbu

Nguleg atau Ngiris?

Hai, hai, Sahabat… Lama ya saya tidak update cerita hasil percobaan di laboratorium Dapur Yu Pulen? Sakjane saya sedang malas masak. Benar, pada Ramadhan kemarin saya bisa full sahur buah selama seminggu terakhir, alhamdulillah. Makanya kalau sekarang keterusan dan bikin saya wegah masak terutama pada jam-jam biasanya saya aktif di laboratorium dapur; ya wislah, saya memilih bercerita yang ringan-ringan saja, seperti yang tertera di judul: nguleg vs ngiris.

Sosok yang menginspirasi tulisan ini adalah Bulik Darsinah, adik ipar ragilnya Ibu. Kalau beliau pas mudik ke Jogja, waah.. Bulik Dar hampir selalu ada di spot favorit (baca: dapur). 😆  Kalau mood saya sedang bagus, saya akan nangkring pula di spot yang sama— yang bagaimanapun keadaannya, menurut saya, selalu berhasil membuat para perempuan menjadi jauh lebih cantik. Iyes, perempuan cantik itu yang bisa masak. Bulik Dar jelas sudah cantik, kan beliau salah satu mentor saya. Terus, saya?  Saya belum berani memproklamirkan diri sebagai perempuan cantik (makanya, di header blog saya tulis “perempuan angin” #eh). 😆 Kerjaan saya di dapur sejauh ini adalah mencoba-coba resep, belajar memasak …, dan belum lebih dari itu.

Dalam kaitannya dengan proses belajar memasak dan segala thethek bengek metode percobaan, saya paling nge-fans dengan munthu dan cowek (sebut saja perangkat ulegan, biar gampang)—seperti halnya Bulik Dar. Benar, kami memang berada di kubu nguleg.

Iya, memasak itu yang paling lama adalah bagian preparation alias racik-racik dan saya bukan tipikal perempuan yang bisa berlama-lama memegang pisau. Bukan berarti saya tidak suka mengiris. Untuk hal yang sifatnya urgent, misal menyiapkan sayuran saat gim-jang, mau tidak mau saya harus bisa menyelesaikan proses iris-iris itu dengan cepat, dan itu butuh latihan yang lama. Singkatnya, saya tidak mau waktu masak saya tersita karena racik-racik (atau juga karena saya tipikal yang iris-irisnya lambat). 😛

Nah, kembali lagi ke ulegan. Bagi beberapa orang, nguleg itu butuh banyak energi; makanya ada yang lebih suka membeli bumbu instan. Tinggal sobek, terus pyuurr … masuklah semua bumbu dan masakan pun jadi lebih cepat dari waktu biasanya. Namanya juga instan, ta?

Tema bumbu instan ini pernah menjadi trending topic antara Bulik dan saya. Lantas, meluncur pula kalimat percakapan yang intinya, apa yang akan terjadi bila pemakaian bumbu instan itu kemudian membudaya lalu menurun ke generasi berikutnya? Bisa-bisa generasi penerus tidak akan pernah tahu bagaimana sensasi kerasnya kulit merica—selalu bikin si munthu keblender; licinnya perpaduan kulit cabai dan bawang merah; atau sensasi kesatnya garam beradu dengan cowek. Apalagi soal aroma; setiap bumbu punya aroma dan hanya akan muncul seluruhnya jika dilumatkan (baca: di-uleg). Kalau itu terjadi, proses belajar anak-anak di dapur bisa kurang komprehensif. Masa iya sih, kita membiarkan mereka hanya tahu bentuk virtual semua bumbu dari menu yang mereka makan? Kemunduran, dong! 🙁

“Wah, ya jangan sampai, Bulik!” sahut saya tidak rela.

Benar, kami sesama perempuan kubu nguleg, tidak rela jika kelak anak turun kami tidak kenal seperti apa bentuk, aroma, rasa, sensasi dari bumbu-bumbu yang sering kami uleg. Teknologi boleh semakin canggih, tetapi kami bersepakat bahwa ada budaya timur (salah satunya, nguleg) yang sepatutnya dilestarikan. Mau kata orang budaya zaman batu, zaman Flinstones, bumbu hasil nguleg punya rasa lebih mantap. *kekeuh 😆

Well, di sinilah saya merasa ajaib, dari diskusi dapur saja membuat imaji kami berkeliaran bagaimana kalau duduk di ruang depan untuk makan lesehan? Bisa tambah seru hehehe.

Oke, daripada tulisan saya semakin melebar dari tema awal, sekian dulu cerita Dapur Yu Pulen. Seperti apapun pendapat atau di kubu manapun Sahabat berada, nguleg atau ngiris, pastinya kedua metode racik-racik bumbu tersebut akan saling melengkapi. Jadi, tidak perlu berakhir di pojokan terus gontok-gontokan, ya. 😆

Salam nguleg dari Dapur Yu Pulen. 😉

4 thoughts on “Nguleg atau Ngiris?

  1. sensasi nguleg itu tiada yang bisa menggantikan, pernah coba diblender, kayak nggak keluar gitu citarasanya, apalagi nyambel, hmmm… kudu nguleg 😀
    met lebaran juga ya mbak, mohon maaf lahir batin 🙂

  2. Kalo diminta pilih ngiris atau nguleg, ya aku pilih ngiris aja deh. Nguleg selalu nggak bisa halus, jadi pegel tangannya hiks.
    Tapi jangan suruh ngiris bawang merah, bisa banjir air mata hahahaha.
    Sebenarnya ngiris juga bikin tangan pegel, seperti kalo lagi bikin orak arik, ngiris wortel tipis2 kecil sampai se jam, tapi ya dilakoni krn anak2 suka makannya. Jadi ngeraciknya lamaaaaa, masaknya cepet, makannya juga cepet 😀

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *