Pagi itu mentari menapaki hari
Seiring senyumnya merekah berseri
Kusambut cerah ke 21 hari
Di bulan ketiga tahun ini
Tak kuragu ucapkan syukur
Kar’na tlah kulalui sepanjang umur
Tak kusangka engkau menyapa
Senandungkan lagu panjang usia
Terbalut senyuman dan canda
Tak lupa sepasang lilin menyala
Tertegun kuberdoa sebelum kutiup lilin ke 20 bahagia
Hanya satu keharuan atas cinta
Menutup kalbu di siang ceria
Delapan sahabat bertandang
Bawakan aku kebahagiaan
Sebuah tiupan lilin ke 20
Membuat rasa hati begitu penuh
Terima kasih, Kawan
Atas semua yang tlah engkau berikan
Biarlah ini jadi kenangan
Menghias setiap hati kita
Untuk berbagi kasih dan cinta
Di hari nan bahagia
-Sepasang Lilin ke 20, Karangsari, 22 Maret 2004-
Larik-larik puisi inilah yang akan tetap kuingat manakala aku berulang tahun. Tak terasa lima tahun sudah berlalu, masing-masing dari delapan orang yang bertandang ke rumah kini telah menempuh jalan hidupnya.
Dina Wahyu “Oneng” Trisnawati telah berangkat studi Master ke Yamagata University Jepang akhir September 2009 lalu. Setelah menunggu hampir dua tahun lamanya, lewat Monbushu Scholarship, gadis ragil dari tiga bersaudara asal Rambeanak III, Magelang ini pun berangkat meraih mimpinya. Sebenarnya ia yang bakal melengkapi tulisanku ini dengan fotonya, tapi apa boleh buat. Kesempatan tak mengijinkan kami bertemu lebih lama di Yogyakarta, tentu karena masih banyak hal yang mesti diurus berkaitan dengan kepergiannya ke Negeri Matahari Terbit.
Palupi “Mupik” Murnaningsih telah mengakhiri masa lajangnya 4 November 2007 silam, tepat 6 bulan lepas ulang tahunnya yang ke 24. Kini bersama suaminya dan si kecil Naya, menetap di Kayunan, Donoharjo. Sebuah keberuntungan telah menjemputnya akhir tahun lalu: ia lolos seleksi CPNS Departemen Pertanian 2009 di saat ia tengah sibuk mengurus riset tesis S2-nya. Inilah jalan yang kadang tak disangka, tapi insya Allah semua pasti yang terbaik. Beberapa minggu silam, kudengar kabar bahwa ia harus berpisah dengan suami tercinta, padahal kini ia sedang berbadan dua. Lhoo? Iya, bagian penempatannya di Karantina Cilacap, Jawa Tengah. Hmm, begitulah menjadi abdi negara.. selalu siap “sendika dhawuh.”
Rr. Rulany “L@ Rose” Widya Kartika telah menempuh akhir masa studi Masternya di MMA Universitas Gadjah Mada dan wisuda Oktober lalu. Ragil dari dua bersaudara ini pernah membuat rekor pengalaman kerja paling kilat di Makin Grup. Lany, demikian aku dan teman-teman menyapanya, tetaplah Miss Debate yang pernah kukenal di HPT angkatan 2002.
Masanto “Anthrox” Masyahit tinggal menanti waktu menyelesaikan studi Masternya di UPM Malaysia. Ia berharap bisa melanjutkan studinya di Jepang hingga tingkat Doktoral dan mengajar di Universitas Bangka Belitung (konon begitulah pengakuannya via telepon tempo hari). Hmm, lalu kalau tahun ini ia pun lolos seleksi CPNS Departemen Pertanian.. bakal seperti apa cita-citanya nanti? Ya, setidaknya tiap orang ditunjukkan jalan oleh Tuhan untuk memilih. Life, it’s about choice and decision, isn’t it? :).
Nah, usut punya usut, nasib baik telah mengantarnya pergi menelusur Indonesia bagian timur. Oh ya? Tentu! Ditempatkan di daerah Papua Barat, tepatnya kota Biak, tentu akan menjadi sejarah penting dalam kehidupannya. Semangat, Throx! 😀
Khairunnisa “Kinoy” Syahdu belum ada 6 bulan ini kembali beraktivitas di Lab. Bioteknologi Pertanian. Banyak yang ia alami sejauh ini, termasuk mencicipi asyiknya belajar rearing Drosophila sp. Kabarnya hendak digunakan sebagai serangga uji. Memulai sesuatu yang baru pastinya takkan mudah. People said, it is not easy to start coz first step is the hardest. Pada awalnya sulit, tapi seiring berjalannya waktu, aku yakin ia bisa. Apalagi kudengar rencananya ia akan melanjutkan studi ke Jepang, tak main-main 5 tahun sekaligus!! Ph.D? Oh, YES.. 😀
Aleryovan Nahli ”Ale” Erlangga memilih menyeleweng dari ilmu yang selama ini ia tempuh di bangku perkuliahan. Apa sebab? Saat ini ia bergabung dengan sebuah forex trader company yang berkantor di Jl Magelang. Dari hari ke hari mencari nasabah, kadang membuatnya bingung. Namun, semua itu sungguh tak lepas dari usahanya menjadi mapan. Bisa jadi itu semua perwujudan atas apa yang pernah ia katakan: tak berminat menjadi pegawai negeri sipil!
Hmm, satu hal lagi. Namanya! Tak tahu mengapa bisa sepanjang ini sekarang. Dulu, aku dan teman-teman hanya tahu kalau Ale hanya punya satu nama, ya Nahli! Tak ada embel-embel lain yang rupanya succesfully hidden so far.. 8)
Agung “Gunkdul” Tri Santosa dikabarkan saat ini masih berjibaku di Jogja, meski jarang sekali SMS-ku dibalasnya. Kali terakhir aku bertemu dengannya –beberapa hari menjelang keberangkatan Oneng ke Jepang-, ada yang berubah: tubuhnya lebih kurus dibanding saat kami masih kuliah dan praktikum dulu. Namun, ia tetaplah Gunk yang antuasias, suka berseloroh dan tertawa.. 🙂
Tri Maruto “Jikun” Aji si Profesor yang suka memberi petuah. Dulu ketika perkuliahan masih aktif di kampus Sekip, ia pernah bermimpi menjadi guru besar Fakultas Kegilaan. Mungkin saking tingginya impian itu membuat kami terkadang nggak ’ngeh’ dengan apa yang ia maksudkan. High level? Hmm, I don’t have any idea.. Dan, entah, apa lagi impiannya selepas menempuh studi Master di HPT.
Itulah sekelumit paparan singkatku tentang delapan sahabat yang datang memberiku kejutan kecil nan istimewa, 21 Maret 2004 silam di teras rumah sempit yang kala itu masih bocor, hiks.. 🙁
Hmm, sayangnya, aku mulai speechless sekarang.. hehe 😛 So? Mungkin sitiran lirik ini bisa mengungkapkan bagaimana mereka telah membuatku merasa.. ya that’s the way they make me feel..
-JADILAH BAGIAN HIDUPKU, APA PUN KEKURANGANMU-
Thanks for being my friends, Guys and Gals.
Teringat kenangan indah hari itu. Penuh tawa riang seakan tak ada beban yang menghimpit hidup ini. Masih melekat dalam ingatan kala Lany dan Oneng berubah jadi ninja yang memata-matai seseorang dari daerah Kaliurang atas hahaha, lucu nian… Begitu senang rasanya melihat senyum bahagia dari wajah Chyiepie hari itu. Walau tak ada kado spesial, walau tak ada kue tart yang besar, walau makanan seadanya, tapi tak ada sedikit pun gurat kecewa terlukis di wajahnya. Yang ada hanya rona bahagia. Satu hal yang bisa kupelajari dari dia, hidup penuh syukur dalam kesederhanaan yang jarang ditemukan di zaman sekarang ini. Sekarang masing2 kami yang hadir pada hari itu telah mengambil jalan masing2. Banyak yang sudah S2, bahkan sampai ke luar negeri. Hanya aLuL sendiri yang jalan di tempat, tapi ini lah pilihan yang aLuL ambil. tak berani egois memikirkan kesenangan sendiri, Insya Allah aLuL ikhlas menjalaninya.
Buat teman2 lain yang telah sukses, aLuL ucapkan selamat ya…………….
sangat terharu phrix…semoga Allah mempertemukan kita semua lagi dgn cerita hidup masing-masing dari negeri matarahari terbit, dari propinsi matahari terbit (papua maksudte..hehea), hingga dari kota terbenamnya matahari di bengkulu utara sana