Ganza, Kencan Pertama

Sabtu pagi, Juli 1999.

Hari pertamaku di bangku sekolah menengah umum telah dimulai. Puluhan siswa baru berdiri menggerombol di depan gerbang SMU 9 Yogyakarta. Ya, mereka saling kenal. Sementara aku? Tak ada seorang pun yang kukenal, apalagi mengenalku. Menyedihkan… 🙁

Ugh, hari pertama masuk selalu seperti ini. Pantas saja orang bilang I HATE MONDAY” gumamku, “tapi hari ini kan Sabtu!”

Nyengir kudalah aku saat menyadari kekeliruanku.

Pandangan mataku berkeliling, mencari-cari siapa tahu ada yang senasib denganku, hiks! Dan, akhirnya pandanganku beradu dengan seorang gadis bertubuh mungil. Rambut panjangnya diikat rapi membuatku heran. Lurus hingga nyaris mencapai pantat… Wow!!

Hei, tak perlu mengernyitkan dahi melihatku terheran-heran pada rambut seseorang. Itu wajar bagiku. Bagi seorang gadis berkaca mata tebal dan berambut kriwil (Psst, itu kata orang-orang lho! Aku lebih suka menyebutnya ikal, hehe :P)

Kudekati ia perlahan. Begitu sampai di hadapannya, langsung kusunggingkan bibir tebalku sejadinya (senyum, maksudku!).

“Hai! Nama saya Upik, Palupi Jatuasri.”

Sambil mengulurkan tangan, kusapa ia.
Hii, si kriwil kepedean! Untung saja kehadiranku tak ditampiknya, bahkan tangan kanannya terulur menyambut.

Rini Budi Astuti, panggil saja Rini.”

Jawabnya sambil tersenyum simpul. Tak berapa lama, obrolan pun bergulir. Tak dinyana, Rini sekelas denganku. Dan lagi, gadis yang kupikir pendiam itu ternyata ceriwis juga, yaa wiis!
***

Setengah jam pun berlalu tanpa kusadari, asyik dengan teman baru sih! Seorang kakak angkatan meminta kami semua masuk sesuai kelas masing-masing. Aku dan Rini masuk kelas IB. Dan, jangan pula menganggapku aneh gara-gara aku duduk sebangku dengannya. Ya, satu kebiasaanku ini tak berubah hingga sekarang: nyaman bersama orang yang sok akrab sedari awal perkenalan. Hehehe… 😀

Kelasku di pojok barat, mepet tempat parkir. Kesan pertamaku: gelap! Waduh, kalau saja Mbah Kung (sebutan untuk kakekku) tahu, beliau pasti tidak mengijinkanku tinggal di dalamnya berlama-lama.

Singup kuwi, Nok! Aja, ora pareng!

Singup? Ya, singup. Istilah Jawa untuk menyebut daerah, tempat, bisa juga ruangan yang gelap karena konon kabarnya tempat-tempat gelap selalu menjadi tempat favorit para dhemit berkongkow! Hiiyaaai…!!
Ngeri. Namun, apa boleh dikata. Jatah ruang kelas IB memang di situ. Jadi? Lebih baik simpan rapat-rapat supaya Mbah Kung tak perlu tahu, hii 😛
***

Tiga hari pertama, aku berhasil menambah teman lagi. Dua orang gadis menarik perhatianku hanya karena mereka terlihat berbeda dengan yang lain. Yang seorang bertubuh subur. Ia terdengar aneh dengan logat mBanyumasan-nya, medhog!

Sukarni namaku, panggil saja Karni… asal jangan menambahkan ‘vora’ di belakangnya ya!”

Kontan, aku dan Rini tertawa mendengar si Bongsor bicara. Dialeknya itu lho!

Yang satu lagi, berbadan kecil. Tiap kali tertawa, ia tak pernah absen mengikutsertakan telapak tangannya untuk menutup mulut. Namanya singkat, padat, dan jelas: Aminah.

“Hai, Aminah! Humh, ngomong-ngomong panggilanmu siapa?” tanya Rini.

Sesaat ia terlihat ragu menjawab,

“Siapa ya? Di rumah, teman-teman biasa memanggilku Aminah, tak ada nama lebih singkat lagi!”

“Hei, namamu terlalu panjang di papan nama! Kakak kelas kita kan minta kita nulis nama panggilan tidak lebih dari 5 huruf saja,” komentarku.

Sengaja mengingatkannya pada papan nama kami untuk MOS satu minggu berikutnya.

“Gimana kalau Ami?” tiba-tiba Karni yang sedari tadi diam ikut ambil bagian.

“Ami? A-M-I?”

Aminah mengeja nama barunya. Seolah baru datang dari galaksi antah berantah saja nama itu. Melihatnya begitu, kami bertiga saling pandang sesaat, lalu tertawa cekikikan.
Ami… Ami… Ada-ada saja!
***

*) Kenangan awalku berkencan dengan tiga teman yang kelak disebut-sebut Geng PRAS (Palupi, Rini, Aminah, & Sukarni). Siapa yang bakal menyangka bila dalam perjalanan waktu PRAS kehilangan jejak Aminah? Namun, satu hal yang tidak akan terganti adalah rasa dari persahabatan kami. Ya, waktu boleh saja bergulir.. 11 tahun sudah kami bersahabat. Tiada yang akan berubah dari indah dan berwarnanya kehidupan oleh hadirnya kedua sahabatku, Rini dan Sukarni. Terima kasih.. 😀

1 thought on “Ganza, Kencan Pertama

  1. Allah…saudariku, soo sweet….masih inget aja masa perkenalan kita. ayo, dilanjut sist, tulislah terus memori yang dirimu masih ingat, itu pasti bakal membuatku tersenyum gembira, seperti saat ini…
    jujur, aku juga pernah pengen nulis tentang persahabatan kita, supaya kalau diantara kita lupa, akan saling mengingatkan, bahwa kita pernah bersama-sama memintal benang persahabatan yang sangat indah, dan kuharap benang persahabatan ini bakal abadi menjadi benang persaudaraan….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *