Hari masih pagi saat kulihat Pak Tyo mondar-mandir. Kebingungan, sepertinya. Entahlah, untuk alasan apa hingga beliau tak biasa-biasanya seperti itu. Hmm, maaf saja ya aku bukan tipe orang yang suka mencampuri urusan orang lain, apalagi hal-hal yang sifatnya pribadi. Kecuali…
“Ndhuk..!”
Akhirnya beliau bersuara, membuka pembicaraan denganku yang sedari pagi telah asyik memencet-mencet keyboard komputer kerjaku. Nada suara beliau terdengar menggantung, itu artinya akan ada lanjutan. Kutolehkan kepalaku ke arah beliau yang rupanya berjalan menghampir. Dan…
“Nggih, Pak. Wonten napa?” jawabku
“…Kowe kenal cah mahasiswa sing isa maca puisi utawa deklamasi?” tanya beliau setengah ragu.
Sejenak aku terdiam, berpikir. Hmm, siapa ya? Anak-anak HPT yang punya bakat itu… Ah, tidak kutemukan satu pun kandidat. Maklumlah, aku kenal mereka (adik-adik angkatan) di forum praktikum. Soal bakat seni semacam itu.. hoho, itu di luar jangkauanku.
“Wah, menawi adik-adik angkatan, kula mboten ngertos, Pak..” ujarku.
“Sapa ya kira-kira? Hmm..” kata beliau sambil berlalu menuju ke wastafel lab.
Suara air mengucur deras dari kran sesaat, lalu hening. Aku masih berpikir. Sebenarnya ada urusan apa beliau mencari mahasiswa yang bisa berdeklamasi? Hmm.. aku terus berpikir.
Lalu…
“Kalau saya saja gimana, Pak? Memangnya buat acara apa ta Pak?” tungkasku.
“Iku lho, acara suk Jumat neng audit… Isa kowe?” tantang beliau,
~Wah, Palupi Jatuasri paling tak suka diragukan 8-), begitu kata setan di sampingku (Hush..hush..!! Pergi sana!)~
“Wah, Bapak baru tahu kalau saya hobi nulis sih.. belum tahu bakat terpendam Jupik, hehehehe..” sahutku berkilah.
Suara tawaku berderaian ke penjuru lab Ento Dasar.
“Hehehe.. Ya wis, sik..” pungkas beliau sembari melangkah menuju ruangan.
~Haa? Cuma begitu saja..~ (Eh, ni setan kenapa usil sih?)
Aku juga penasaran sebenarnya, ini di luar kebiasaan beliau. So? Dari pada melongo tak jelas, fokus pikiranku pun kualihkan ke layar komputer. Ow, compie..compie..compie..!! My beloved compie, teman setiaku di ruang lab sebesar itu. Namun, belum ada 5 menit, beliau keluar dan menghampiriku dengan membawa amplop linen putih.
~Oops, gajian niee!~ (Hush, belum tanggalnya terima honor. Ngaco!)
Langsung saja beliau mengangsurkannya kepadaku sembari berkata,
“Iki dipelajari ya, saka Pak Dekan. Suk le maca aja karo sesenggukan ya, Ndhuk.. Ben cetha.. rak arep didadekke acara utama”
~Nah lho, acara utama?! Pik, mimpi apa dirimu semalam?~
“Oh nggih, Pak. Siap, sendika dhawuh!” ujarku mantap.
***
Sesampainya di rumah..
Hei, apa kabar amplop linen putihku tadi? Let me see.. Tepat di bagian muka amplop itu tertulis “Kepada Yth. Bpk. Nugroho di tempat”
Sementara di sudut kiri atas tertulis “Surat untuk Guru”
Kubuka perlahan. Penasaran seperti apa buah pena dekan kami yang baru saja dilantik itu, maksudku Prof. Triwibowo Yuwono. Hmm, lets see..
Mata Air yangTak Pernah Surut
Prosa liris dipersembahkan
Bagi pribadi-pribadi yang memerdekakan
Dengan mata batin yang takzim, kami memandangmu.
Kaki langit yang luas, hampir tanpa batas, selarik bianglala penuh warna.
Engkau adalah rimbun kebun teh di punggung bukit.
Namun engkau pun bagai elang dengan mata yang tajam, memandang masa depan.
Barangkali tak cukup selaksa kata untuk menyampaikan pujian.
Lebih banyak lagi maaf harus kami sampaikan atas khilaf dan kenakalan-kenakalan.
Tinta kami pun barangkali tak cukup untuk menuliskan.
Namun, ijinkan kami dengan segenap masa lalu yang mungkin tak terlalu mengenakkan,
Untuk menyampaikan.
Kini, dengan kecintaan sederhana, kami ingin mengungkapkan.
Engkau adalah mata air yang tak pernah surut.
Kami berkaca di atasnya.
Kami menghirup sepuasnya.
Namun, maafkan kami karena telah mengotori dinding-dinding mata air
Atau mereguk airmu, kemudian berlalu tanpa sekedar menyapamu.
Engkau adalah mata air yang menyegarkan perjalanan menuju masa depan.
Perjalanan menuju kaki langit lepas, menjadi jiwa-jiwa yang merdeka.
Kami berteladan kepada cakrawala.
Kami berteladan kepada rimba belantara.
Kami berteladan kepada samudera.
Namun, kami juga berteladan kepada mata air yang tak pernah surut.
Dahaga telah engkau puaskan.
Namun, ijinkan sekali lagi kami singgah di mata airmu.
Ingin kami cicipi lagi airmu yang tetap jernih.
Agar kami dapat memandang lebih jauh lagi ke masa depan.
Dan, agar kami serap pula batin dan jiwa yang jernih.
Kami mengerti betapa repotnya engkau kini menempuh perjalanan.
Dengan kaki yang mungkin tak setegak kemarin.
Dengan punggung yang mungkin tak setegak masa dulu.
Rasanya ingin kami menangis memandang kerentaanmu.
Rasanya ingin kami merengkuhmu.
Rasanya ingin menitikkan air mata, mengingat segala yang kami terima.
Namun, kami yakin bahwa mata elang itu masih tajam memandang.
Mata air itu masih segar menyiram.
Kami tak akan pernah lekang untuk mengenang
Masa-masa penuh keceriaan menjadi anak-anakmu.
Dan juga, masa-masa penuh kenakalan.
Maafkan kami, wahai ayah dan bunda kami.
Rasanya ingin kami rebah di pangkuanmu.
Merasakan lagi kecintaan tulus bagai kecintaan burung-burung laut kepada anak-anaknya.
Menyuapi anak-anaknya dengan suka cita meski harus bertualang di atas samudera.
Maafkan kami, karena tak banyak yang dapat kami persembahkan.
Kami hanya dapat memberikan penghormatan, takzim, dan kecintaan sederhana.
Selebihnya, doa kepada Sang Maha Pemberi.
Barokah semoga senantiasa dilimpahkan atasmu
Dan jalan yang senantiasa lurus di depanmu.
Terima kasih atas segalanya.
Maafkan, atas segala khilaf kami.
Terimalah air mata kebanggaan dan kebahagiaan kami.
Terimalah cinta kasih kami.
Yogyakarta, kampus hijau Pertanian,
Jumat, 25 Juli 2009
Atas nama putra-putrimu
Triwibowo Yuwono
—
Oh, betapa mengharukan. Kekhawatiranku mulai muncul, manusia perasa sepertiku bagaimana mungkin tidak akan menitikkan air mata saat membacanya. Tapi… Ingat pesan Pak Tyo, Pik!
Hmm, okay I’ll do my best. Nothing to worry about, everything’s just gonna be fine. Yeah..!! Ganbatte ne!
***
Malam harinya kuintip lagi isi amplop itu. Waktunya berlatih. Ayo, Pik kau pasti bisa. Eh, tapi belum juga masuk bait ketiga aku sudah mewek.
~We lha kojur ki.. Ayo-ayo, ora pareng nangis. Control your emotion, Girl!~
Alhasil, kuulang beberapa kali hingga aku bosan dan tak lagi ingin mewek. Hohoho, ternyata bisa bosan juga ya nangis 😀
***
Akhirnya… Hari yang direncanakan pun tiba, 31 Juli 2009. Hmm, degup-degup kencang itu sempat kurasakan sesaat sebelum aku pamit pada ibu. Wish me luck, Mom..
Lalu? Segera saja kulajukan Ezy, kuda besiku. Nggruuunngggg… Rush..rush.. rush… Dua puluh menit kemudian, tibalah aku di parkir kampus Faperta. Lengang, ya arlojiku menunjuk pukul 07.30. Masih pagi, jadi ya begitulah. 🙂
Langkahku tertuju ke gedung A2b lantai 3. Yup, mampir dululah ke sarang, eh ke lab maksudnya. Ada beberapa barang yang mesti diangkut ke auditorium. Beberapa stopmap berisi lembaran daftar hadir peserta juga souvenir sederhana nan cantik. Tepat sekali, acara “Guru & Sesepuh in Memorium” dipusatkan di Auditorium Harjono Danoesastro dan dimulai pukul 09.00 teng. Jadi lebih baik berangkat lebih pagi, ga enak kalau mesti kemrungsung.
Sebentar-sebentar, sebelum aku kisahkan apa yang terjadi selanjutnya.. lebih baik juga kujelaskan untuk apa ada acara semacam ini. Hmm, OK. Acara “Guru & Sesepuh in Memorium” ini adalah salah satu rangkaian acara dies natalis Fakultas Pertanian UGM yang ke-63. Kata Pak Tyo, acara ini baru sekali dilaksanakan sebagai pengganti acara anjangsana sesepuh dan guru besar FPN.
Oh, rupanya ini debutku. Aku? Palupi Jatuasri yang bakal membacakan Surat untuk Guru di hadapan para sesepuh fakultas? Masa sih? Biar kucubit lenganku.. Aaauuuw!! Sakit.. Aku tidak bermimpi. So? Just go ahead, mimpi atau pun bukan aku harus maju karena aku yang menawarkan diri menyanggupinya.
***
Then.. Apa yang terjadi di auditorium? Sibuk pastinya. Ibu-ibu Dharma Wanita Persatuan sudah beraksi menata souvenir juga daftar hadir bagi para tamu undangan. Hari itu hampir semua yang datang mengenakan batik, termasuk juga aku. Batik berwarna dasar coklat-krem bermotif parang jadi pilihanku, batik kesayangan..biar percaya diri gitu. Tapi, biarpun sudah kuupayakan untuk pede.. rasanya tetap saja kikuk berhadapan dengan para senior. Apalagi yang duduk di kursi kehormatan adalah guru-guru besar. Pfuih..! Untungnya di sana tidak hanya aku yang junior, ada Kralawi Sita, S.P. (Wita, Agribisnis 03, MC) dan Nugrahenny Setya Prabandari, S.P. (Tya, HPT 04, KSK).
“Tenang aja, Mbak Jup.. ” bisik Tya.
“Ok.. Ok.. Hmmm..” balasku sambil menghela nafas panjang.
***
Lima belas menit setelah acara dimulai,
“Mbak, habis ini sesi Surat untuk Guru lho.. siap-siap ya” Wita memberiku kode.
“Iya. Siap..” sahutku sambil mengangguk.
Benar saja, tidak ada 5 menit setelah Wita berbisik padaku..
“Hadirin yang terhormat, acara selanjutnya adalah pembacaan Surat untuk Guru oleh Palupi Jatuasri, S.P. ”
Kudengar suara Wita menggema dalam ruang auditorium seiring dengan memburunya nafasku.. Oh, TIDAK!
Kugeser posisi kursi tempatku duduk, beranjak sembari menatap ke arah hadirin. Bismillahirrohmanirrohiim.. Kumulai berjalan, dan tepat di depan para sesepuh lenggah, aku berhenti sejenak. Mengambil sikap ngapu rancang, tersenyum dan mengangguk, memberi hadirin penghormatan.
“Izinkanlah si junior ini membacakan sebuah karya indah yang tercetus dari kedalaman lubuk hati..” batinku.
Eits, ini bukan hal yang berlebihan. Aku sangat muda dibanding beliau semua, muda dari segi umur dan pengalaman.. jadi kalau aku kikuk dan grogi, tentu bukan hal yang lebay, hehe 😀
Sejenak kemudian, aku pun sampai di podium. Sembari menahan debar, kukeluarkan perlahan secarik kertas dari dalam amplop. Bukan tulisan asli Pak Dekan, ketikan ulang, agar aku lebih mudah membacakannya.
Seperti biasanya kuhela nafas panjang dan memandangi sejenak hadirin sebelum membacakan sesuatu di depan umum, hanya agar suaraku tak tercekat nantinya. Lalu.. show time!
Lama sudah aku tidak mentas seperti ini. Entah, aku bergaya seperti siapa. Taufik Ismail-kah, W.S. Rendra-kah, atau malah pembaca amatiran…hehe :-P. Namun, setidaknya nada dan suaraku membuat seorang cameraman mendekat. Hei, itu dia Mas Maman! Ya, beliaulah yang diberikan tanggung jawab mendokumentasikan rangkaian acara dies natalis, termasuk merekam detik-detik pembacaan Surat untuk Guru.
Wah, jadi ga enak waktu moncong kamera diarahkan padaku, close up ! Tapi, aku kan tak mungkin mengelak, jadi kunikmati saja detik-detik yang bergulir. Syukur Alhamdulillah, tiada sebutir air mata pun yang titik, meski aku sempat merasakan bulu romaku meremang dan mataku berkaca-kaca, terharu.
Sepuluh menit pun berlalu tanpa terasa. Panjang juga ya? Sementara suara tepuk tangan membahana di segala penjuru auditorium.. Oh, finally! Hmm.. Rasanya seperti mimpi. Tapi, tolong, jangan bangunkan aku dari mimpi indah ini, hehe 😀
***
Selepas pembacaan Surat untuk Guru, acara dilanjutkan dengan penyerahan bingkisan dan souvenir. Ya, inilah tanda mata sederhana dari civitas akademika Faperta UGM untuk para pendahulunya, sesepuh yang membangun kampus hingga seperti sekarang ini. Hmm.. sungguh, senang rasanya menjadi yang pertama diberi kesempatan membacakan penghargaan terdalam bagi sesepuh dan guru besar Faperta UGM.
Terima kasih, Rabb.. Terima kasih Pak Tyo.. Terima kasih semuanya.. 🙂
-Bulaksumur, 6 Juli 2010-
1 thought on “Guru & Sesepuh in Memorium (behind the scene)”