Desember, Merasai Hujan di Sela Kopdar (1)

Hari masih hujan. Ya, menjelang penghujung tahun hujan selalu turun. Tidak terkecuali Jogja. Namun, merasai hujan di sela kopdar, hm.. sepertinya menjadi penghangat suasana. Itu terjadi beberapa waktu lalu. Senin, 17 Desember, Jumat, 21 Desember, dan Ahad, 30 Desember 2012; tiga hari yang bersejarah bagi saya.

Kopdar Pop Hotel

Ahad pagi, 16 Desember 2012, saya mendapat kabar kalau Ari (Seti Muhardian) Tunsa dan isrinya, Arina, tengah berangkat ke Jogja. Sejak beberapa minggu sebelumnya, Ari memang sudah menghubungi saya dan berkisah tentang rencananya berbulan madu di Jogja. Hm, ya ya ya Jogja memang penuh romansa.. #tsaaah :mrgreen:

17 Desember 2012

Senin siang itu Ari menghubungi saya via SMS mencari tahu rute ke Kaliurang. Mereka hendak mencicipi suasana lereng Merapi ternyata. Bisa jadi terbujuk oleh iming-iming cerita saya hehehe 😆 Sayangnya saya sedang di kantor, jadi tak bisa menjadi tour guide merangkap obat nyamuk bagi mereka 😛 Lagipula ga enak kan, mereka ke Jogja untuk liburan honeymoon. Mana berani saya mengganggu?

Katanya sih mau ke Goa Jepang. Cuma sepertinya mereka feel spooky dengan suasana Kaliurang yang sepi-sepi saja ditambah mendung menggelayut, tanda hujan akan turun segera.

Menjelang sore, saya menghubungi Ari. Siapa tahu bisa kopdar. Karena hanya hari itu sepertinya mereka bisa saya temui. Selasa mereka berdua sudah pulang kembali ke negerinya hehe. Awalnya Ari minta supaya bisa kopdar sekalian di rumah saja, memang lebih dekat dengan obyek wisata Kaliurang, cumaaa.. ibu dan adik saya sedang sakit. Tidak ingin ibu jadi terganggu karena obrolan kami. Bukan ga boleh lho, Ri. Biar beliau lekas pulih begitu.

Akhirnya, saya putuskan menemui mereka di penginapan saja. Usai jam kantor, saya bergegas memacu Ezy menuju ke Jl. Urip Sumoharjo. Satu-satunya tempat yang terdekat dari kantor untuk memperoleh penganan khas yang sejak lama ingin ia cicipi, klepon. :mrgreen: Biar saya tebak, keinginan itu muncul kala ia membaca postingan saya tentang klepon ala Yu Pulen. Ya, setidaknya kalaupun tak bisa menikmati klepon buatan Yu Pulen, dengan adanya beberapa jajan pasar, kerinduannya bisa terobati.

Setelah membeli dua bungkus penganan (klepon, cethil, dan putu) seharga masing-masing Rp5.000,00 saya pun melaju ke bilangan Jl. A.M. Sangaji (sekitar 100 meter sebelah utara Tugu). Di loby Hotel Pop-lah kami bertemu. Hm, ini kali pertamanya saya masuk ke sana. Aroma keceriaan terasa dari warna-warna mencolok nan cerah dari ruangan di hotel ini.

Saya melangkah masuk dengan bingung (penyakit saya yang tak pernah bisa lepas bila memasuki tempat baru), lalu duduk di kursi paling depan loby, dan meng-SMS Ari sekadar memberi tahu kalau saya sudah sampai. Beberapa saat kemudian saya mendengar seseorang dengan jenggot tebal memanggil saya,

“Mbak Phie…”

Ya, itu dia Ari Tunsa. Saya pun beringsut dari kursi dan mengekornya. Di sebuah meja saya pun berjumpa dengan Arina (Nyonya Ari Tunsa). Usai uluk salam dan saling sapa, saya pun dipersilakan duduk. Segelas kecil kopi hitam menyambut ketika.. Tik.. tik.. tik.. Butiran hujan mulai menitik, tandanya kami harus segera pindah meja kalau ingin mengobrol santai dengan nyaman. Untunglah, sekalipun tamu hotel lumayan ramai, kami masih dapat meja pengganti yang sama nyamannya. Lalu? Seperti adat kopdar biasanya, ngobrol pun dimulai!

Pertama, tentu menanyakan bagaimana kesan obyek wisata yang mereka kunjungi hari itu. Haha, sepertinya ada yang kurang nyaman dengan suasana Kaliurang. Rupanya ini  boleh dibilang keliru jadwal. Anak-anak di Pekalongan sudah mulai libur sekolah, hmm.. tapi belum untuk anak-anak di Jogja.

“Siswaku baru ambil rapor paling cepat besok Rabu, yang satu lagi Jumat.. tapi kebanyakan Sabtu” kata saya memberi alasan mengapa Taman Bermain Kaliurang sepi.

Moment berduaan mereka jadi sedikit horor karena mendung, hujan, suasana sepi dan dingin. Ya, begitulah Kaliurang di musim penghujan. Kalau hari libur saja ramainya. Semoga mereka tak kapok berkunjung ke sana.

Tuan Ari dan Nyonya Arina
Tuan Ari dan Nyonya Arina

Selanjutnya? Obrolan ngalorngidul pun berlanjut sembari ngemil jajan pasar dan kacang mete. Buat rebutan bertiga? Itu yang bikin rame. 😆 Obrolan rehat saat bergantian sholat Maghrib, setelahnya ya dilanjut lagi. Ngomong soal kontes blog, menulis, juga soal SEO. Beberapa nama sobat Warung Blogger pun kami singgung. Semoga waktu itu tak ada yang wahingwahing (baca: bersin-bersin) karena obrolan kami. Sebut saja pak Marsudiyanto, kang Argun si Dewa SEO, Ais, juga Kaka Akin a.k.a mbak Mariatul Kibtiah yang tiba-tiba melakukan video call. Wah.. jadi tahu seperti apa beliau kalau bicara dan tersenyum..ya walaupun dalam slow motion. 😀 Sayangnya kami tidak bisa berlama-lama karena koneksinya kurang bagus, belum lagi waktu makan malam yang hampir habis.

ada Kaka Akin di sana (foto oleh Ari Tunsa)
ada Kaka Akin di sana (foto oleh Ari Tunsa)

Lalu? Keluarlah kami bertiga dari hotel. Di seberang jalan, tepatnya Jl. A.M. Sangaji No. 23, ada sebuah warung makan, Es Eny namanya. Masih buka di jam telat makan malam seperti saat kami datang. Yang terpenting halal lhoo.. Maka, daripada mencari yang terlalu jauh, kami pun makan dengan kurang nyaman. Bagaimana tidak, pelayannya sudah mulai kukut dagangan, pembeli yang ini baru mau mulai makan. Ya sudahlah, tidak apa. Untung sepiring menu makan berhasil saya habiskan.

Thanks to pak boss Ari Tunsa yang sudah mentraktir. Kesannya? Selalu ada yang berbeda. Ini kali kedua kopdar dengan Ari sekaligus membuktikan siapa perempuan cantik berbalut gaun putih di foto yang ia tunjukkan kepada  saya beberapa bulan sebelumnya di kopdar pertama. Hm, enaknya saya buat postingan juga ndak ya? Kan sudah telat. Hihihihi :mrgreen:

Malam kian beranjak dan saya tak boleh terlalu lama di luar rumah, bisa kambuh lagi si batuk alergi. Itulah mengapa setelah kami selesai makan dan kembali ke hotel, saya langsung pamit. Kami pun berpisah di tempat parkir. Saya boleh pulang dengan syarat. Apa?

Yu Pulen nampang dulu
Yu Pulen nampang dulu (foto oleh Ari Tunsa)

Sebelumnya difoto dulu bersama si Ezy. Haha.. dasar Ari. Ga pernah habis penasarannya soal Ezy, motor jadul peninggalan alm. bapak. Baiklah, nyengir kuda dulu sejadinya. Setelah itu, kami pun berpamitan. Sampai jumpa lain kesempatan ya, duo Ari. Senang bisa berjumpa dengan kalian. 🙂

-bersambung-

0 thoughts on “Desember, Merasai Hujan di Sela Kopdar (1)

  1. hehe.. lebay ih :p
    makasih buat mbak Phie sudah mau menemui kami meski rela pulang telat ^_^ sebenarnya juga aku nggak enak, kopdarnya nggak kerasa terlalu lama sepertinya, padahal kan di rumah mbak masih bnyak yg sakit 🙁
    skali lagi makasih mbak phie, makasih yu pulen dan makasih Ezy, kalian satu hati 😆

    1. lebay? sesekali bolehlah 😛
      sami-sami ya, Ri. namanya juga nyari sempatnya. ga papa, santai saja 🙂
      eh, kami memang kompak kok B)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *