Hujan turun, musim hujan tiba. Di belahan bumi manapun, sepertinya telah jamak kita jumpai “efek samping” dari hujan. Entah banjir atau tanah longsor, semua (kata mereka) karena hujan turun dengan intensitas luar biasa. Hmm.. Bolehkah kita diam sejenak merenung bersama? Sebentar saja..

Di tempat saya tinggal, dari lahir jebrot sampai saya hampir berusia 29 tahun, ya di sini, di kaki Merapi.. tidak pernah ada banjir hingga mencapai ke pemukiman. Banjir bagi kami hanya bisa ditemui di aliran sungai jika intensitas hujan di daerah yang lebih tinggi (Gunung Merapi, red.) melebihi batas normalnya. Namun, beberapa tahun terakhir mulai terlihat perbedaan. Banjir tak hanya mengalir di alur sungai, tetapi juga mulai merambah ke jalanan. Bukan, bukan bermaksud menjadi pesaing pengguna jalan. Itu karena air yang mengalir di selokan pinggir jalan sudah tak mampu membendung debit air yang terlampau besar. Tapi, apa benar ini semua salahnya hujan?
Coba kita lihat lebih dekat. Apa yang ada di sepanjang selokan kadang akan membuat kita sedikit berpikir lalu tersadar bahwa.. bagaimana mungkin air akan mengalir lancar bila selokan atau parit-parit di pinggir jalan itu berubah fungsi menjadi tempat pembuangan sampah? *tetooot!*
Bukankah sejak dulu kala sifat air selalu seperti itu? Mengalir ke tempat yang lebih rendah, dengan catatan tidak ada penghalang. Lalu, keberadaan sampah-sampah itu? Itulah catatan khususnya! Sampah yang dibuang sembarangan = penghalang, maka jangan menyangsikan jika air pun lantas membludak dari jalur aslinya (selokan, red.) dan memilih berpesiar ke jalanan.
Kalau hal ini dibiarkan, maka sangat mungkin apa yang terjadi di daerah-daerah rawan banjir, seperti Jakarta, misalnya; akan bisa juga terjadi di Yogyakarta. Who knows? Nothing impossible! Ini bukan doa, ini peringatan.
Ada satu hal lagi, berkurangnya daerah tangkapan hujan. Semestinya tiap wilayah memiliki daerah tangkapan air hujan. Rumah yang baik saja disarankan untuk memiliki setidaknya satu pohon di halaman dan sebuah sumur resapan bukan? Syukur bisa lebih, satu orang satu pohon. Misal anggota keluarganya lima, maka setidaknya ada lima pohon yang harus ditanam di pekarangan. Kalau luasan pekarangan tidak mencukupi? Bukankah bercocok tanam dengan pot, bisa dijadikan alternatif? Setidaknya ada upaya agar air hujan meresap ke dalam tanah dan tidak begitu saja mengalir ke selokan.
Nah, sekarang bagaimana dengan wilayah yang jauh lebih luas? Kecamatan, kabupaten, provinsi? Mengatur wilayah sebesar itu bukan perkara mudah. Hm, saya jadi ingat pak Jokowi-Ahok yang jatuh bangun mengupayakan yang terbaik untuk Jakarta. Kesulitan beliau sebagai pemimpin dalam menanggulangi banjir di ibukota sebenarnya akan jauh lebih ringan jika tiap manusia yang tinggal di sana merasa memiliki dan peduli pada lingkungan tempat tinggalnya. Kembali lagi pada rumus kecil tadi. Bukankah sebenarnya menanggulangi banjir itu jauh lebih mudah jika dimulai dari menata pribadi dan ruang lingkup paling kecil (baca: keluarga)?
Jadi, apa kita masih mau peduli atau tidak sama sekali? Atau masih saja menganggap, “Ini salahnya hujan”? Ini sekadar renungan kecil. Silakan menjawabnya sesuai hati nurani masing-masing.
Bukan gak mau nanam pohon, tapi rumah saya di kompleks padat penduduk. Gada tanah di sekitar hehehe 😀
Kan bisa pake pot. Kalau ga, adopsi pohon trus tanam di hutan. hehehe
hujan gak salah krn itu anugrah.. manusia yg salah.. dan semua hrs introspeksi ya 🙂
benar sekali, Mbak Myra 😉 waktunya kita mawas diri.. ini bukan salahnya hujan!
Mungkin karena memang hujan, coba kalau tidak ada hujan, Jakarta mungkin seperti Dubai, kering.
Tapi pola tata ruang kota dan habitus masyarakatnya bukan berarti tidak berkontribusi juga terhadap banjir. Jadi ya kembali seperti kata tulisan di atas.
Alam tetap pada nature-nya, yang tidak nature lagi adalah manusia-nya. 🙂
ginilah kalo semuanya udah pada mikirin duit.. tar pas dunia kekurangan makanan dan air yang layak, mereka baru deh sadar kalau duit gak bisa diminum sama dimakan -___-
semoga kita semua disadarkan sebelum benar-benar terlambat, aamiin..
sangat bermanfaat 😀 kunjungi juga http://www.jagabumiku.blogspot.com
makasih, salam kenal 😀