13 Tahun dan Rindu untuk Bapak

Pagi ini tepat 6 Juli 2013, tepat pula 13 tahun Bapak berpulang ke hadirat Allah SWT. Ada rindu yang tetap saja menggelayuti hingga hari ini. Ah, ya… lewat tulisan ini saya ingin mengenang beliau, bukan untuk menyesali apa yang telah terjadi; meski kenyataannya kehilangan seorang ayah bukan hal mudah bagi gadis remaja seperti saya kala itu.

untuk sebuah rindu
untuk sebuah rindu

Bapak adalah seorang sulung dari enam bersaudara. Dari setiap kisah yang beliau bagi kepada saya, ada rasa tak puas dengan masa lalu beliau. Beliau tumbuh di masa orde lama, di saat beliau hidup terpisah dengan keluarga inti, dititipkan kepada salah seorang famili karena kedua orangtuanya tak cukup mampu menyekolahkan beliau tinggi-tinggi. Rasa tak puas karena sebenarnya dari sisi akademis beliau mampu melanjutkan kuliah, namun lagi-lagi terhalang karena masalah biaya. Juga, mungkin sedikit rasa tak terima ketika beliau ditawari diberi beasiswa kuliah dengan syarat dan ketentuan. Yang terakhir ini, saya ingat benar, beliau menegaskan untuk menolak tawaran tersebut; tidak mau menggadaikan akidah demi sebuah gelar sarjana.

Akhirnya, beliau memutuskan untuk bekerja. Lulusan SMA kala itu, bekerja dari nol di sebuah perusahaan bernama PT Natour Adisucipto Restaurant. Ya, pekerjaan beliau di restoran bandara. Maka, tidak heran jika beliau sering membawa kelebihan makanan dan benda-benda lain dari pesawat untuk dibawa pulang. Dari beliau saya tahu seperti apa menu yang terhidang di dalam sebuah pesawat—seolah sedang naik pesawat terbang—meski hingga saat ini saya belum pernah sekalipun naik pesawat hehe.

Karena beliau, saya jadi tahu seperti apa saja menu pastry di pesawat. Croissant misalnya, roti bulan sabit yang lebih suka saya istilahkan roti kepiting; pastry renyah yang berasal dari Perancis. Sandwich, si roti lapis isi daging dan sayur. Juga ham, si daging asap; atau sosis yang (menurut gadis kecil seperti saya) bentuknya unik. Saya jadi tahu seperti apa lezatnya cokelat batangan seperti Van Houten, Silverqueen, Cadburry, Delfi… lalu kehilangan satu per satu empat gigi seri karena caries di usia kanak-kanak, hingga  menjadi penggila cokelat sampai saat ini, itu juga karena beliau.

Saya pun jadi tahu seperti apa aroma wangi tisu basah dari beberapa maskapai penerbangan yang kala itu berjaya; Garuda Indonesia Airlines, Merpati Nusantara Airlines, Bouraq Indonesia Airlines. Saking seringnya Bapak membawa pulang, jadilah menumpuk di rumah; memunculkan ide gila berjualan tisu basah. Hahaha, ya, saya sempat menjual tisu basah limited edition itu kepada beberapa teman. Agaknya mereka penasaran, jadilah dengan harga Rp200,00-an saya lepas tisu-tisu itu. 😛 Mungkin itu juga yang membuat teman-teman sepermainan saya di rumah menganggap Bapak adalah seorang pilot dan mendongak ke atas ketika ada pesawat terbang melintas, padahal … bukan!

Bapak juga suka membawa pulang majalah Garuda Indonesia. Wow, saya suka karena gambarnya bagus-bagus. Sayangnya, kebanyakan berbahasa Inggris. Kala itu di sekolah dasar, saya belum dikenalkan dengan bahasa Inggris. Alhasil, saya lebih menikmati gambarnya. Ingin sekali rasanya masuk ke dalam gambar lalu bertualang menikmati indahnya gunung dan pantai di Lombok, meriahnya upacara kematian di Toraja, memukaunya Danau Toba, hijaunya Lembah Baliem, ah…. semua itu masih berupa impian hingga sekarang. Mudah-mudahan suatu ketika impian itu bisa terwujud, aamiin.

Ada banyak kegembiraan yang beliau bawa ke rumah sederhana kami, meski beberapa tahun di awal pekerjaan beliau harus berangkat pagi buta, pulang pun setelah pesawat terakhir tinggal landas dari bandara. Itulah mengapa saya seperti tidak mengenal beliau beberapa tahun. Kalau saya sudah mulai gelisah dan bertanya pada Ibu kapan Bapak kondur (= pulang, bahasa Jawa), Ibu hampir selalu menjawab,

“Nanti kalau pesawat terakhir sudah terbang, Bapak pasti pulang.., Mbak.”

Pesawat terakhir kala itu biasanya tinggal landas pk. 20.45. Sementara saya tidak kuat begadang, jadilah saya sudah tertidur pulas ketika Bapak pulang. Lebih seringnya saya tidur bersama cokelat batangan hadiah Bapak. Bukan hanya dalam genggaman, tetapi juga di dalam mulut. Tentu saja, cokelat yang lumer itu merepotkan Ibu karena sembari tidur saya akan meninggalkan bekas “pulau-pulau cokelat” di seprei. Ckckck….

Tidak hanya hadiah berupa majalah dan cokelat, Bapak sering menyempatkan bertanya seperti apa kemajuan pelajaran saya di sekolah. Kadang juga menemani saya belajar. Memberi dorongan untuk menjadi yang terbaik sesuai kemampuan saya.

Bapak, beliau boleh hanya lulusan SMA, tapi beliau selalu ingin belajar dan memperluas wawasan. Itu yang saya kagumi dari beliau, selain disiplin. Ah, ya disiplin, bagi saya yang moody kadang masih sering keteteran menerapkannya. Namun demikian, saya tahu setiap kali punya kesempatan mengoreksi diri.. saya berusaha memperbaikinya.

Kini, 13 tahun berlalu tanpa beliau. Ada yang hilang ketika beliau pergi. Ada rasa perih yang tiba-tiba menyeruak saat mengingat apa yang terjadi 13 tahun lalu di RS Panti Nugroho; melihat badan Bapak terguncang-guncang oleh serangkai alat pacu jantung. Sayangnya, dokter dan tenaga medis tak mampu menyelamatkan. Tak mampu membawa nyawa beliau kembali merasuk tubuh yang telah lama ringkih digerogoti diabetes mellitus. Ada rasa haru mengingat apa saja yang telah beliau bagi selama ini kepada kami. Semangat untuk terus belajar, gurauan, juga dongeng pengantar tidur yang seringkali membuat kami malah tertawa tergelak.

Mungkin saya sedih, lalu menangis tiap kali mengingat Bapak. Namun, tidak, saya tidak pernah menganggap Bapak pergi jauh. Suatu ketika kami akan berjumpa kembali dengan beliau, di sana di keabadian yang telah dijanjikan Gusti Allah SWT… dan hari ini tepat di 13 tahun kepergian Bapak, sebagai seorang anak, saya tahu harus apa. Menjadikan semua motivasi beliau sebagai motivasi sepanjang hayat, a whole life motivation… untuk tetap berkarya dan memberi yang terbaik, yang bermanfaat bagi diri dan sesama. Dari beliau saya mengerti, bahwa belajar tidak melulu dari sekolah formal karena kehidupan adalah sekolah sebenarnya dan pengalaman adalah guru terbaiknya. Thanks, Dad… thanks for everything. 🙂

0 thoughts on “13 Tahun dan Rindu untuk Bapak

  1. Hik…… hiks… hiks… ayah saya pun sdah 14 th yg lalu meninggalkan kami. semua cerita ttg org yg telah meninggalkan kita, memang tak akan hilang dari ingatan.

    1. #pukpukpuk
      kita sama, Mbak. tapi yang penting adalah bagaimana upaya kita untuk terus menghidupkan hal-hal positif dari tiap orang yang telah berpulang. semangat ya!! 🙂

  2. haaaa..aku terharu….berasa banget kerinduannya….
    hatur doa buat bapaknya ya bubu n semoga tenang disana….. *jd pengen peluk bapak*

    1. kangen, itulah yang bikin kita ingat apa-apa saja tentang bapak. semoga bapak Mbak Ika dikaruniai husnul khotimah. Aamiin.#pukpuk

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *