Ngomong-ngomong soal ponsel, saya termasuk yang tertinggal dibanding teman-teman seangkatan jaman kuliah. Mereka rata-rata sudah dibekali ponsel oleh orangtua sejak masuk kuliah, sementara saya tidak. Bagi saya, di kisaran tahun 2002 silam, ponsel termasuk benda mewah. Lagipula, masih banyak hal yang harus diprioritaskan dan dihemat kala itu; jadilah, saya enggan merengek-rengek kepada Ibu sekadar minta dibelikan ponsel. Gak banget, pokoknya!
Bertahan tanpa ponsel, sudah teramat biasa waktu itu. Toh, saya tak kehilangan komunikasi sama sekali. Teman-teman masih bisa menghubungi saya via telepon rumah. Kebanyakan dari mereka menghubungi saya untuk sebuah alasan yang mainstream: pinjam catatan! *tepok jidat* 
Ada sekitar 4 tahun saya menjalani aktivitas kuliah tanpa ponsel. Ponsel pertama sampai di tangan saya pun karena ada hal mendesak. Saya ingat benar, kala itu awal Juni 2006. Saya hendak berangkat KKN PPM gempa. Begitu Ibu tahu rencana tersebut, tanpa sepengetahuan saya, beliau menjual kambing kami, si Choki (memang warnanya cokelat hehehe). Uang hasil penjualan itu sebagian Ibu berikan kepada saya untuk saya membeli ponsel.
Kata Ibu, “Biar Ibu bisa menghubungimu selama di posko relawan, Mbak.”
Ah, sebegitunya perhatian Ibu. Sepertinya gempa 5,9 SR itu benar-benar membekaskan trauma dalam benak beliau.
“Di sana kan belum tentu ada wartel yang masih berfungsi. Kalau kau punya hape, kan Ibu bisa kapan saja nelpon,” bujuk Ibu.
Ya, alasan beliau cukup masuk akal. Jadilah, saya meminta bantuan kakak Dee (teman seangkatan) untuk mencarikan ponsel second yang masih bagus. Kakak sulung Dee memang punya usaha counter ponsel, pas benar!
Sekitar dua hari sebelum rombongan KKN diberangkatkan, Dee menelepon agar saya datang ke rumahnya di Bumijo Lor. Ya, ponsel untuk saya sudah ada. Alhamdulillah.
“Masku bilang, Nokia aja. Bagus kok, Jue!” kata Dee riang.
Ah, iya, apapun itu, asal bagus … saya terima hehehe. 😉
***
Singkat cerita, hari-hari saya berubah sejak kehadiran si Biru. Saya yang sebelumnya mengetik SMS saja sampai ubanan (istilah teman-teman hehehe), akhirnya perlahan mulai bisa lebih cepat. Sedikit lebih nggaya-lah ketimbang sebelumnya. Hahaha. 😛
O iya, hampir lupa saya. Mau tahu kenampakan ponsel pertama saya, si Biru Nokia 3315? Ini dia, boleh dapat dari hasil googling. 😀
Benar kata Dee, Nokia memang awet. Meski saya membelinya dari tangan kedua, Biru menemani saya sampai 4 tahun. Biar sesekali terjatuh, Biru jarang error. Hanya, satu hal yang membuat saya sedih, Biru tak bisa menyimpan kontak lebih dari 100, hiks. 😥
Seawet-awetnya buatan manusia tetap ada masa kadaluwarsa, begitu kata orang. Tepat di tanggal 30 Oktober 2010 malam, si Biru tak tertolong lagi. Mati total. Waduh! Padahal kala itu situasi sedang genting. Gemuruh erupsi Merapi terdengar hingga tempat tinggal kami (radius 17 km dari puncak). Hujan pasir halus begitu deras malam itu. Belum lagi aroma sangit belerang membauri pikiran yang sesekali kalut melihat berita. Hampir tengah malam dan kami sekeluarga telah bersiap. Mengungsi tanpa alat komunikasi portable, rasanya sulit. Seketika pikiran ngaco tapi logis membersit dalam benak saya,
“Bagaimana jika kami benar-benar diminta meninggalkan rumah karena akivitas Merapi sudah melebihi batas normal? Bukankah tak mungkin membawa lari pesawat telepon rumah?!”
Syukurlah, bayangan ngaco tersebut tak benar-benar terjadi malam itu. Lega!
***
Sehari setelahnya, usai jam kantor saya menyempatkan menuju ke pusat kota. Ditemani oleh mbak Vira, saya membeli lagi ponsel Nokia dengan seri berbeda di Ramai Mal. Honor redaksi benar-benar menolong saya hehehe. Jadilah, saya membawa pulang si Hitam Nokia 1280. Sama-sama ponsel model candy bar seperti yang sebelumnya, tapi fasilitasnya lebih lengkap karena ada hands free, radio, kontaknya sampai 500, juga lampu senter di bagian atas.
Senang bisa membawa pulang ponsel baru, tapi bagaimanapun kondisi belum stabil. Aktivitas Merapi belum menunjukkan tanda hendak menurun. Sesekali muncul kekhawatiran lantaran saya harus turun gunung, bekerja, dan meninggalkan ibu sendirian di rumah.
5 November 2010 dini hari. Di waktu yang semestinya kami lelap beristirahat itu, mata sungguh tak mampu dipejamkan. Pemberitaan oleh awak media di wilayah yang berada di radius rendah (lereng), mulai semrawut. Muncul kabar tak enak soal awan panas yang dapat mencapai radius 20 km dari salah satu media. Meski berita itu diralat, tetap saja kami ketar-ketir dibuatnya.
Rasa was-was masih ada dalam benak saat tiba-tiba hujan kerikil Merapi mengenai genting rumah kami. Beberapa detik kemudian listrik padam. Seketika rasa panik pun menjadi! Sirine polisi meraung-raung, makin lama makin dekat suaranya. Dari corong mereka, saya dengar radius daerah tak aman dimundurkan menjadi 20 km. Itu artinya, mau tak mau kami harus segera meninggalkan rumah.
Dalam kondisi gelap gulita, kehadiran si Hitam sungguh membantu. Apalagi kalau bukan senternya! Kami bergegas. Beberapa barang harus segera saya ambil di kamar. Di kamar depan, Ibu mulai panik. Hujan kerikil makin kerap. Tiga menit bersiap, lalu berangkatlah kami meninggalkan rumah.
Jalan Kaliurang padat merayap. Saya harus tetap tenang mengendara, tentunya. Selain karena saya memboncengkan Ibu yang panik luar biasa; juga karena hujan air mulai turun. Jalanan berubah becek dan licin. Pasir, kerikil, debu dari Merapi dini hari itu bercampur seolah adonan lumpur. Kalau tak hati-hati, saya bisa terpeleset. Setengah jam perjalanan kami meninggalkan kaki Merapi terasa begitu mencekam tanpa sedikitpun penerangan jalan. But, finally, ahamdulillah …. kami tiba di kawasan ringroad utara dengan selamat.
Time passed away …. selang empat bulan kemudian, tepatnya Maret 2011, saya harus berpisah dengan ponsel tersebut. Oh, so sad! 😥 Hitam terjatuh saat saya dalam perjalanan menuju kantor. Saya memang tergesa-gesa kala itu. Usai mengantar Ibu periksa ke puskesmas pembantu, saya lupa tak memindah si Hitam dari kantong jaket ke dalam tas. Ya, sudahlah. Jodoh kami memang hanya sampai di situ.
Ponsel pengganti si Hitam masih Nokia dengan seri yang sama. Sayang, nasib serupa menimpanya. Ponsel ketiga tersebut juga jatuh saat saya dalam perjalanan naik motor. Waktu itu pertengahan Agustus 2012. Saya pulang dari Jakarta menjenguk kerabat. Sesampainya di Jogja, saya dijemput oleh Ning (adik) di terminal Jombor. Masih subuh ketika kami melintas di Jl. Palagan Tentara Pelajar. Sepertinya saya lupa (lagi) dan menaruhnya di kantong jaket. Upaya penelusuran tidak membuahkan hasil. 🙁 Ya, sudahlah.
Demikian kisah di sebalik ponsel jadul saya. Meski saat ini yang saya pakai bukan lagi Nokia, saya akan tetap ingat kenangan si Biru dan Hitam. Sejadul apapun mereka, mereka telah banyak berjasa.
credit

hehe, jadi inget hape pertama juga Nokia 🙂
sama donk, Om 😀
Tapi ga baru punyaku dulu bekas dan akhirnya harus dikasih karet karena LCD ga keluar gambar xixixix
ahahaha bisa dibayangkan betapa tangguhnya si Nokia :))
Aihhhh HP kita sama, dulu juga sempet punya ini
toss dulu, Mbak hehhe
Waduuh sampe 2 kali hilang…???
Berarti jodohnya bukan sama si hitam Non…hehe
Sekarang pakai hp apa ? Yg pasti bukan si hitam khaaan..??
Bacanya langsung spt ada film diputar di depan mata, berasa ikutan dag-dig-dugnya, plus terharu saat si choky “ditukar” jd hp … 🙂
Hp pertama teteh thn 2003 apa 2004 deh Siemens C60 apa C 6 gituh… 😀
Iya, gegara saya teledor, Teh hiks 🙁
Sekarang pake Samsung Champ, termasuk jadul juga meski touchscreen n ada kameranya hihihi
aku pakai nokia juga di awal pakai hp tapi kesininya gak pakai nokia
banyak juga yang pakai Nokia. 😀
ah iya nokia emang berjaya sekali pada saat hp awal2. sekarang malah banyak yg ninggalin dia ya, termasuk saya sendiri juga udh ga pake nokia sejak 3 thn lalu. 🙁
makasih ya udah ikutan GA saya mbak :)))
iya, Mbak, sekarang Nokia malah ditinggalkan, ya.
kembali kasih, senang bisa berpartisipasi 🙂