#PuisiHore3? Lhooo, itu kan sudah beberapa bulan yang lalu berakhir? Hmm, ya, saya memang terlambat bicara soal perayaan puisi yang satu ini. Namun, karena saya telah berjanji kepada panitia untuk menulis kesan/pesan, jadi ya harus ditepati meski sudah rada lama berlalu. Huuu dasar blogger telat up date, ya, saya ini? π Yupe, I admit it. But, better late than never, right? So … mari kita mulai saja obrolan soal #PuisiHore3. π
Ok, seperti halnya perayaan #PuisiHore2 tahun lalu, tahun ini pun digelar #PuisiHore3 sebagai kelanjutannya. Bermula dari woro-woro panitia pada akhir Maret 2014 lalu, #PuisiHore3 secara resmi dimulai per April sampai 4 minggu selanjutnya.
#PuisiHore3 yuk! http://t.co/9bAyWNhvd6
β Catur Indrawan (@acturindra) March 27, 2014
Peraturan #PuisiHore3 sedikit berbeda dengan #PuisiHore2, tetapi dalam seminggu tiap peserta tetap diminta untuk menulis dan menyetorkan link dua buah puisi dengan tema berbeda, tentu saja.
Nah, sekarang saatnya mengulas balik kedelapan puisi yang saya ikutsertakan dalam #PuisiHore3. Mulai? Letβs go!
Tema pertama, mendadak berat. Hehehe … tentang Menolak Lupa, mana bisa dikatakan tema remeh? Hmm, ada banyak tokoh dan aktivis yang berperan dalam sejarah Indonesia awal hingga saat ini. Bingung juga saya, mau memilih siapa. Setelah menimbang, memilah, diputuskanlah Bung Hatta yang saya jadikan fokus puisi. Jadilah, Tentangmu, Hatta menghangatkan kembali Larik Syair yang telah beberapa waktu sebelumnya mulai redup pengunjung. *redup? hehe macam nyala lilin saja π
Tema kedua lebih ringan, puisi akrostik. Apa itu? Jadi, ini semacam cara menulis puisi dengan bantuan huruf awal kata. Misalnya saya memilih kata PAGI, maka puisi yang ditulis terdiri dari empat larik. Awal kalimat di larik pertama dimulai dari huruf P, larik kedua huruf A, disusul huruf G di larik ketiga, dan terakhir huruf I. Untuk tema kedua ini, saya mengambil tema luka dan kenangan. Sedih, ya? Memang. Tak tahulah, saat proses pengerjaan puisi kedua ini tiba-tiba saya jadi mellow. Jadilah Sepenggal Kenangan menjadi judul puisi tersebut. Meski demikian, yang saya susun hanya kata KENANGAN saja, biar ringkas. π
O ya, puisi akrostik ternyata sering juga digunakan sebagai alat untuk membantu para penulis puisi pemula. Semacam patron sederhana, begitu. Namun, tidak semua pemula menggunakan cara ini. Saya saja sebelum ini belum pernah menulis puisi akrostik. Saya lebih suka menggunakan majas repetisi dan rima dipadukan dengan diksi yang bebas. Makanya, saya harus browsing sana-sini sebelum bikin draft. π
Ok, lanjut ke tema puisi ketiga! Kali ini panitia menentukan tema Poetpict. Iya, para peserta diminta untuk menulis puisi di media tertentu (boleh kertas, atau media lain asal tulisan tangan terlihat jelas) lalu difoto dan diposting di blog. Ahahaha tulisan saya yang macam cekeran ayam berjudul Pesan untuk Yang Tersayang pun berhasil nangkring di Larik Syair. π π
Lanjut! Tema keempat adalah Perenungan. Waduh, kudu merenung, nih! Hmm, ngomong soal merenung, memang ada banyak hal yang bisa direnungkan. Kerusakan lingkungan, pertikaian politik, kesenjangan sosial, perang antaretnis, perbudakan, human trafficking bisa digunakan sebagai bahan perenungan. Namun, di puisi keempat ini saya memilih untuk mempersempit lingkupnya: merenungi hubungan dua insan. #tsaaah π
Yap, jadilah, Dua Kita saya selesaikan, meski dengan sedikit kebingungan memilih gambar pendukung. Kalau saya mengambil gambar manusia, ah … itu terlalu mainstream. Saya mau yang antimainstream! *teriak ala si Juki* Lhaaa, terus … apa dong? Setelah browsing sana-sini, dapat deh gambar dua buah pentol korek api menyala dengan pose yang apik.
Nah, tema kelima mendadak jadi berat akibat yang disodorkan (lagi-lagi) adalah karya seni, ya, lukisan. Kalau di #PuisiHore2 lalu lukisan yang disodorkan adalah Geopoliticus Child Watching the Birth of the New Man karya Salvador Dali (1943), maka di #PuisiHore3 kemarin lukisan berjudul Olga karya Francis Picabia-lah yang disodorkan. Karya bertahun 1930 itu beraliran surrealisme. Untuk mengerti maksud karya-karya surrealis, bagi saya pribadi, tidak semudah menikmati karya lukisan alam atau landscape. Well, daripada bingung membaca isi pikiran si pelukis, saya tulis saja taksirannya. *yeee, dikata pegawai pegadaian? π

Setelah beberapa lama (berusaha) mencermati lukisan tersebut, jadilah Matra menambah koleksi karya di Larik Syair. Kalau memang cara pandang saya dengan peserta yang lain berbeda, ya, wajarlah. Beda kepala, apalagi isinya. Yang penting saya sudah berusaha. π
O ya, fyi, Francis Picabia adalah seorang pelukis berkebangsaan Perancis. Lahir pada tanggal 22 Januari 1879. Selain melukis, beliau juga menggemari puisi dan menerbitkan untuk pertama kali karyanya berjudul Cinquante-deux miroirs pada tahun 1917. Penasaran dengan kisah Francis Picabia selengkapnya? Silakan tengok di The Art Story-Francis Picabia.
Ok, kita lanjut lagi ke tema keenam. Panitia menyodorkan tema Elemen kepada peserta. Ah, begitu saya membaca twit berisi tema ini, ingatan saya langsung tersambung ke Aang, tokoh utama dalam film animasi Avatar: The Last Airbender, hehehe. Ya, tema puisi memang tidak jauh dari empat elemen yang juga disinggung di film tersebut. Api, air, udara, tanah. Mau pilih yang mana? *lalu saya mikir. Akhirnya saya putuskan untuk memilih elemen api saja. Bukan karena saya memihak Negara Api, tetapi karena saya (katanya) terlahir di bawah naungan elemen api. *eh, apa nyambungnya, coba? π
Nah, sebagai hasil akhir dari pergulatan ide di kepala (cieilee, bahasanya!) … jadilah Kepada Bara nangkring sebagai puisi keenam untuk #PuisiHore3. Alhamdulillah.
Tema ketujuh, bikin kening saya rada berkerut. Poetpic berpasangan? Hmm … maksudnya gimana, tuh? Menurut panitia, peserta secara berpasangan diminta untuk membuat puisi dengan sebuah foto yang sama. Pasangan bebas, tidak harus laki-perempuan, asal termasuk peserta #PuisiHore3.
Gampangnya begini, katakanlah si A berpasangan dengan si B. Mereka berdua kemudian menentukan foto media dan tema puisi yang akan mereka tulis. Disarankan memakai foto milik sendiri. Kalau sudah, A menulis puisi di atas foto tersebut, disambung oleh B di foto yang sama, secara terpisah, lalu diposting di blog masing-masing. Bingung? Coba lihat ini, nih!
Nah, lebih jelas kan sekarang? π Dua puisi di atas adalah buah kolaborasi saya dengan Maylia. Tadinya dia bingung mencari pasangan, hahaha, tapi akhirnya kelar juga puisi berjudul Berdiri di Sini. Foto yang kami pakai adalah foto saya saat pendakian Bukit Turgo bersama teman-teman FMT. Tadinya bukan foto itu yang mau saya pakai. Namun, karena saya tak berhasil menemukan foto yang kontrasnya pas, ya, sudahlah pakai itu saja, hehehe.
Well, kalau sudah asyik menulis puisi, rasanya waktu berlalu pun tak terasa. Tahu-tahu saja tema terahir sudah di depan mata. Rasanya senang sekali ketika panitia mengumumkan tema terakhir, βBuatlah puisi untuk penyair favoritmu …β
Hore! Kesampaian juga saya menuliskan sesuatu untuk eyang Sapardi Djoko Damono. Sudah sejak lama saya mengidolakan beliau. Bukan saja karena kalimat pada puisi-puisi beliau yang sederhana dan bermakna, melainkan juga karena ada irama yang khas, seperti bernyanyi. Inspirasi itulah yang banyak saya adopsi dalam karya. Akhirnya, Menjadi Gadis Kecilmu menjadi puisi pamungkas untuk #PuisiHore3. Ingin menilik puisi karya peserta #PuisiHore3 dan sebelumnya? Tengok saja di Puisi Hore, ya. π
Alhamdulillah, rasanya lega sekali berhasil melewati tantangan menulis puisi selama empat minggu. Banyak uneg-uneg yang tersuarakan, banyak beban yang tersalurkan dan menjelma menjadi karya. Saya patut berterima kasih kepada panitia dan segenap sponsor yang mendukung terselenggaranya #PuisiHore3. π
O ya, beberapa waktu kemudian, kebahagiaan saya bertambah ketika sebuah mention masuk ke notifikasi twitter. Apa itu?
@aa_muizz@Susi_SmileKitty@dzdiazz@phijatuasri – Yay! Selamat, Para Pejuang. Silakan dm no hape dan providernya ya…#PuisiHore3
β . (@melctra) April 28, 2014
Alhamdulillah, saya memperoleh hadiah pulsa dari Kak @melctra. Rupanya kekonsistenan saya menulis tanpa ada bolong berbuah juga. Terima kasih, Kak. Kapan-kapan lagi boleh, ya? *ngarep π
Ya, dengan demikian berakhir sudah perhelatan #PuisiHore3. Semoga tahun depan masih ada kesempatan baik bagi panitia untuk menyelenggarakan event ini. Demikian juga dengan saya, semoga bisa turut serta memeriahkan acara ini tahun depan. Aamiin.



Ayo puisi2nya dibukukan, mba. Udah banyak kan ya? hehe