Sedikit Kisah di Balik Sketsa dari Vierda

Jumat, 20 Juni 2014

Sebuah SMS saya terima dari si empu Wanderer Silles, Vierda. Ada apa gerangan? Rupanya, ia mengundang saya datang ke pembukaan pameran seni rupa di gedung Umar Kayam XT-square sekalian menyerahkan sketsa hadiah. Sahabat masih ingat, kan, cerita saya soal ke Bandung naik kereta Lodaya? Kisah tersebut terpilih sebagai pemenang giveaway Vierda. Nah, masing-masing pemenang dibuatkan sebuah sketsa yang menggambarkan kisah perjalanan tersebut.

Karena si empu gawe berada satu wilayah dengan saya, ia berinisiatif untuk ber-CashOnDelivery saja. Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, pengambilan dilakukan di lokasi pameran. Sayang sekali, saya tak bisa datang pas pembukaan pameran, Jumat petang. Selain karena jarak yang jauh, mengendarai motor di malam hari kalau sedang tak cukup fit bisa bikin saya tambah meriang. Padahal, Sabtu pagi saya harus tampil prima untuk menemani dua sobat lawas jaman SMA, Rini dan Karni. Ya, jauh-jauh hari kami bersepakat untuk trekking di Taman Nasional Gunung Merapi, Kaliurang.

Well, Jumat petang itu, saya dalam pilihan yang sulit. Di satu sisi, saya ingin memenuhi undangan Vierda; di sisi lain, saya tidak ingin membuat deSista kecewa karena acara hang out kami bubar gegara saya pingsan di jalan—tak cukup fit. *ouch! 😥 Akhirnya, saya memilih untuk memenuhi urusan badan yang perlu beristirahat dan tetap tinggal di rumah. Masih ada hari lain, saya pikir, tentu sambil berharap Vierda tak berkeberatan dengan ketidakhadiran saya.

***

Senin, 23 Juni 2014

Pagi itu saya berangkat ngantor sambil mengingat-ingat sesuatu. Sepertinya hari itu adalah hari terakhir pameran. Entah. Daripada saya menebak-nebak, lebih baik saya tanyakan langsung pada Vierda. Sebuah SMS-nya menjawab. Ya, rupanya benar! Sore harinya saya berjanji datang ke XT-square. Tentu saja, sembari berharap agar hujan tak turun sore itu.

Pk. 16.00

Saya bergegas meninggalkan ruang redaksi. Langit di luar sana rupanya sudah mencuri start, hati saya dibuat kebat-kebit. Duh, mendung! Please, beri saya kesempatan sampai nanti pulang. Jangan sampai saya kehujanan, ya, ya, ya? Sepanjang jalan menuju XT-square saya terus meracau. Saya selalu menganggap itu semacam doa, atau malah rayuan mesra buat malaikat penurun hujan. Bukan soal hujannya, sih … hujan selalu terkait dengan Ezy, motor jadul saya. Sebisa mungkin saya akan buat Ezy melaju dalam kondisi kering. Caranya? Hmm, merayu hujan mungkin salah satu cara konyol, hahaha. 😛

PS: Jangan coba-coba cara ini kalau tak ingin dikira setengah waras. *oops! 😳

Setelah sekitar 20 menit melaju, saya pun tiba di TKP. Titik-titik air mulai turun lebih kerap. Untung sudah sampai di tujuan. Kalau mau hujan, sok atuh, biar saya tunggu. Batin saya terus saja meracau sambil memantau ponsel. Sampai lima belas menit saya di lokasi pameran, Vierda belum juga muncul, pfiuh …. jadi atau nggak, sih?

Demi membunuh bosan, saya berkeliling lagi memperhatikan setiap inci benda yang dipamerkan. Macam-macam jenisnya, mulai dari yang 2 dimensi (sketsa, kartu pos, lukisan, foto) hingga yang 3 dimensi (patung, kendi, meja-kursi, dan hiasan lainnya). Sengaja tak mengambil gambar, memori kamera ponsel penuh, saya belum sempat memindahkan ke laptop. Sambil berkeliling saya mencoba menebak yang mana yang milik Vierda. Ada sebuah lapak pameran yang ditutup oleh si empunya. Ada sebuah kendi pula. Hmm, mungkin ini. Terus, Vierda keluar ke mana? Katanya sebentar, cuma ….

Pk. 17.00

Kaki saya sudah pegal. Yes, level bosan meninggi bergumul dengan rasa ketar-ketir karena melihat langit yang kian gelap. “Masih lama, Vier?” SMS saya meluncur. Ternyata masih lumayan saya menunggu, cukup buat duduk sendiri sambil tengak-tengok macam anak hilang. Akhirnya saya hanya duduk mematung di bangku dekat pintu masuk. Sesekali mengintip layar ponsel, siapa tahu ada kabar dari rumah. Mendung kadang membuat saya khawatir, kepo, dan rasa itulah yang menggiring saya untuk ‘harus tahu keadaan cuaca di Jogja utara’. Ah, … mungkin benar, saya ogah basah. 😛

Vierda datang sekitar 15 menit jelang adzan Magrib. Penampilannya jauh lebih santai dari biasanya. Segera saja, ia menyapa, duduk, dan memperlihatkan sketsa yang masih ada padanya, termasuk sketsa hadiah ulang tahun untuk Priit Apikecil.

Sembari duduk, kami berbincang ringan. Soal sketsa untuk pemenang giveaway; soal pameran seni rupa; soal XT-square dan sepinya tempat itu; soal debu-debu Kelud dan aktivitas Vierda menjadi relawan; juga soal kampanye hitam capres-cawapres. Darinya saya juga tahu soal hebohnya KBJ (wadahnya para blogger Jogja) gegara ada salah satu cawapres yang sempat meminta kopdar dengan teman-teman KBJ. Kopdar tersebut benar terlaksana, tetapi sayangnya pihak si cawapres tersebut melakukan pemberitaan yang tak sesuai dengan kenyataan. *duuh!

Menurut saya, secara tidak langsung, tokoh ini mencederai prasangka baik teman-teman KBJ. Lha wong tadinya datang bukan atas nama partai, kok justru berita yang dimuat di portal ybs malah sebaliknya. Ya, bisa dipahami kalau teman-teman sampai heboh. Urusan kecil begitu saja diblenjani (diingkari, red.), apalagi nanti sampai urusan negara. Ckckckck … gak perlulah dicontoh.

Entah, sudah berapa banyak kalimat menguar dari mulut kami. Ngobrol ngalor-ngidul petang itu saya paksakan berhenti sekitar pk. 18.00. Vierda harus sholat, sementara saya (yang sedang free sholat) harus segera pulang. Setelah (sekali lagi) menyampaikan terima kasih untuk hadiah sketsa, saya pun pamit dan melajukan Ezy pulang. O ya, ada yang penasaran dengan sketsa cakep Vierda untuk kisah saya 2,5 tahun lalu? Ini dia! 😉

PS: Maaf jika foto yang saya ambil rada blur, lokasi pengambilan foto tak cukup pencahayaan

sketsa dari Vierda.ed

0 thoughts on “Sedikit Kisah di Balik Sketsa dari Vierda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *