Ruangan tunggu Puskesmas Ngaglik I sedang ramai hari itu. Usai mendaftar, saya pun (berusaha) tenang menunggu panggilan. Duduk di antara pasien lain ditemani ponsel. Online. Ibu jari sibuk menekan tombol ‘read more’ di sebuah website tentang parenting. Tumben, pagi itu saya tak membawa buku.
Di antara harap cemas, pikiran saya menguatkan diri. Bahwa bagaimanapun saya harus berani mengadapi kenyataan: saya sedang tidak fit beberapa hari terakhir. Keringat dingin siang-malam dan dada kiri sakit. Dua hal itu cukup membuat saya penasaran,
“Apa yang sebenarnya terjadi di dalam sana? Dada kiri itu posisi jantung. Apa ada yang tidak beres dengan jantung saya?”
Kesakitan macam ini bukan sekali ini terjadi. Yang menguatkan saya untuk ‘mengaku’ kepada dokter adalah hal yang saya baca selama browsing sana-sini. Ya, dua gejala itu mengerucut kepada dugaan,
“Maybe, something wrong with me: my heart.”
Entah setelah satu atau dua jam, saya mengantri, sebuah suara memanggil nama saya dari bagian periksa umum. Bergegas saya masuk.
Dimulailah sesi ‘pengakuan dosa’ di depan dokter yang mengecek tensi dan mencatat keluhan saya. tensi saya normal: 120/80. Yang menjadi pertanyaan adalah keringat dingin dan rasa sakit di dada kiri. Saya pun diminta masuk ke ruang dokter. Di sana dr. Pingky duduk, menerima saya. Begitu saya mengaku, beliau menuliskan tiga huruf kapital di lembar rekam medis rawat jalan. Tatapan mata beliau mengarah tajam, bertanya,
“EKG dulu, ya?”
“Ya, Dok.”

Sudah saya duga. Saya akan diminta untuk cek jantung. Ada rasa takut dan khawatir membayang, tapi apa iya saya harus menangguhkan pemeriksaaan? Mau sampai kapan saya lari, terus mengelak dari kondisi ini? Kalau saya ingin sehat, saya harus tahu keadaan fisik saya, lalu menerimanya, sehingga saya bisa berupaya untuk sembuh. Itu juga salah satu alasan saya belajar mengatur pola makan dengan ber-food combining.
Bismillah. All izz well.
***
Remang ruang EKG membuat saya makin berdebar-debar. Tapi, tak lama. Setahun berproses memperbaiki pola makan, berhasil membantu saya menjadi pribadi yang lebih tenang. Apapun hasilnya, karena saya memilih untuk ‘mengaku’ hari itu, maka saya berjanji akan berusaha berani.
Seorang dokter perempuan meminta saya untuk menanggalkan pakaian atasan dan semua perhiasan. Setelahnya, saya diminta berbaring di atas matras. Beberapa kabel ditempel ke bagian dada depan, badan samping, lengan, dan kedua kaki. Begitu semua terpasang, saya bisa merasakan denyut di badan seperti tersalur ke mesin elektrokardiograf. Iramanya seperti bunyi tombol. Nit nit nit nit nit … Kedua mata saya memejam. Pikiran membatin,
“Ah, ini dia jantung saya bekerja. Bagaimana cara saya berterima kasih, ya? Ia telah bekerja keras sampai saat ini.”
Beberapa menit berlalu, keluarlah kertas dari mesin EKG. Saya teringat mesin fax di jurusan yang dulu pernah membikin saya bingung bagaimana cara memakainya. Lalu, tiba-tiba teringat pada sebuah drama Korea ‘The Greatest Love’: kisah cinta Dokko Jin dan jantung artifisialnya. Heran, random sekali isi kepala saya hari itu. Hehehe.
Skip!
Usai EKG, saya kembali ke ruang dokter. Elektrokardiogram ada di tangan saya. saya perhatikan trend grafik ini biasa saja, tidak ada yang mencurigakan. Tapi, entah kata dokter.

Jadi, apa kata dr. Pingky?
“Ini normal, Mbak. Mungkin otot dadanya yang kram, jadinya terasa sakit. Bisa karena kecapekan. Nanti misal masih sakit, kompres hangat. Istirahat yang cukup dan tambah menu dengan makanan tinggi vitamin B, biji-bijian begitu. Saya beri pereda nyeri dan multivitamin, ya.”
“Ya, terima kasih, Dok.”
Mendengar penjelasan dr. Pingky, saya merasa lega. Alhamdulillah, what a relief. Ya, mungkin saya yang terlalu memotivasi badan dan pikiran untuk produktif selama ini. Di redaksi banyak duduk, ruang ber-AC seharian; sore lanjut privat. Ah, iya, saya yang mesti lebih cerdas mengatur ritme hidup. Merutinkan kembali jogging dan latihan hatha yoga yang telanjur vakum beberapa bulan terakhir.
“Terima kasih, jantungku. Rasa sakit ini mengingatkanku untuk lebih mencintaimu; mencintai badan yang dipinjamkan Gusti Allah untukku. Kalimat—I just want to make sure—itu, akhirnya terjawab. Semoga kelak tidak ada yang harus dikhawatirkan. Terima kasih.”
sehat ya bubu…dijaga kesehatannya pokoknya..
all is well
Aamiin ya Rabb. Matur nuwun doanya, Bu Guru. Semoga kita selalu diberi sehat selamat sejahtera. Aamiin.