Ada apa dengan tanggal 22 Desember? Adakah yang tahu? Hmm, iya tanggal inilah yang dijadikan hari Ibu bagi bangsa Indonesia. Konon awalnya di tanggal inilah pernah dilangsungkan kongres perempuan pertama. Hmm, boleh dikatakan ada sedikit muatan politiknya :D. Namun, lepas dari muatan politik atau apa pun istilahnya, hari Ibu selalu menjadi perhatian. Dulu saat aku masih kecil, beberapa kali mengisi acara hari Ibu di kampung membuatku selalu teringat bagaimana semestinya kita bisa menghargai jasa seorang ibu. Peringatan semewah apa pun tiada gunanya bila tidak diikuti dengan tindakan nyata. Katakan, “We love you, Mom..” sebagai sebuah permulaan.
Biyung, Emak, Mama, Mami, Umi..
Kita menyapanya dengan banyak sebutan, meski dengan esensi yang sama: ibu. Sesosok perempuan mulia yang telah dengan ikhlas menjadi jembatan atas hadirnya kita semua. Setiap manusia terlahir dari kerasnya perjuangan seorang ibu. Bagaimana tidak? Siapa manusia yang sanggup menyediakan hangat rahimnya untuk dihuni segumpal darah yang lambat laun tumbuh menjadi janin hingga akhirnya lahir jabang bayi merah? Siapa yang sanggup menahan gelitik serupa kupu-kupu beterbangan di dalam perut selama 9 bulan? Siapa yang sanggup melawan rasa sakit dan mempertaruhkan nyawanya demi melahirkan seorang keturunan? Siapa yang sedia mengorbankan waktu demi menjaga buah hatinya siang malam, menukar rasa kantuk dan lelah dengan senyuman, mengurusi segala kebutuhan, membiarkan anak-anaknya tumbuh dan berkembang menjadi manusia sejatinya.
Meski dalam perjalanan waktu banyak hal yang kadang tak sesuai yang kita mau, ibu yang baik akan terus memberikan yang terbaik untuk tiap buah hatinya. Dialah ibumu, ibuku, dan ibu kita semua. Dialah ibu, yang kadang teramat khawatir bila harus memberikan kita izin bepergian jauh bahkan hingga menginap. Ya, karena tidak ingin suatu hal buruk menimpa anaknya. Dialah ibu, yang kadang melarang kita ini-itu agar kita tahu bahwa banyak hal tak baik di luar sana yang mesti kita sadari. Dialah ibu yang tak pernah menginginkan kita lena dan terlampau bersantai karena hidup tak boleh disiakan. Keinginan beliau baik, walau kadang cara menyampaikannya yang kurang pas dengan keinginan kita. Sadar atau tidak, kita pasti pernah berselisih paham dengan ibu. Pertengkaran kecil, bahkan hingga yang menyulut perang dingin selama beberapa hari seperti yang pernah kualami.. (ya Rabb, mohon maafkan sikap keras kepalaku kala itu :() Hmm, ya tentu saja dialah ibu yang juga manusia sama seperti kita. Semestinya sebagai anak kita perlu belajar mengerti bahwa kadang beliau teramat letih mengurus rumah, mempersiapkan segala hal untuk kita. Kalau sebagai anak kita terlampau menuntut, apa jadinya?
Tidakkah kita ingat bahwa Rasulullaah SAW meminta kita ummatnya untuk menghormati ibu? Sebagaimana kata pepatah, surga di telapak kaki ibu.. Sedemikian baiknya para pendahulu kita memberi petuah demi menjaga kita, anak turun mereka, agar tetap memelihara norma ini. Maka, marilah berbudi baik kepada ibu, sosok yang demikian penting dan bermakna dalam kehidupan kita, kehidupan setiap makhluk-NYA.
Dan..
Satu larik yang kupersembahkan untuk ibuku, setiap ibu di seluruh dunia, dan tiap perempuan yang kelak akan menjadi seorang ibu…
“HAPPY MOTHER DAY.. WE LOVE YOU, MOM..”
-ditulis di Karang & diselesaikan di Bulaksumur, Desember 2010-
Subhanallah, moga diberikan kesempatan tuk jadi seorang ibu. Dan sebaik ibuku.
Aamin..ya Rabbal’alamiin dak doakan dari sini ya Novi.. 🙂