Tuk Klanduhan Tersayang

“sebuah renungan untuk diri sendiri, tamparlah wajahmu sendiri, Phie.. sebelum menampar wajah orang lain” Dear Klanduhan, Apa kabarmu saat ini? Maaf, belum lagi sempat ku menyambangimu. Menilik kembali masa kecilku. Bersamamu, bergumul setengah hari di antara gemericik aliranmu. Berlompatan di antara bebatuan sembari tertawa-tawa melihat teman-teman berkejaran. Membongkar bebatuan dan mengintip berapa banyak udang di

deSista – PRAS

Liburan lebaran kemarin rasanya makin lengkap ketika bisa kembali bersamanya, walau hanya hitungan jam. Tidak terbayangkan bisa bertemu kembali setelah setelah hampir satu tahun berpisah dengannya. Dia? Sista, demikian kami biasa saling sapa. Siapa sangka persahabatan yang bermula sedari bangku sekolah menengah umum berlanjut hingga detik ini. Itu berarti telah 13 tahun kami menjalaninya, sama

Pilih Bertengkar atau Diam?

Berkomunikasi itu ada seninya. Setidaknya begitulah yang saya rasa selama ini. Apa lagi kalau sudah berurusan dengan orang tua, dengan ibu dan bapak. Di zaman saya kecil saya anak yang manja. Apa-apa mau dituruti, kalau orang Jawa bilang sak dheg sak nyet, seketika itu pokoknya. Seiring dengan bertambahnya usia, pengalaman, dan kemampuan berpikir; ada yang

Especially for You

Dearest you, my beloved Captain Cartenz.. Menemukan engkau tersenyum seperti malam itu adalah sebuah anugerah Tuhan untukku. Selepas perjalanan panjang yang kau tempuh, yang bahkan tak bisa kubayangkan hingga detik ini, engkau masih bisa menemaniku berjalan menikmati keramaian pusat kota. Di sana, ya, Jogja nol km. Masih ingatkah engkau pada nasi uduk yang kita nikmati